Belasan anak-anak usia SD segera
berlarian keluar masjid seusai Imam Shalat Tarawih mengucapkan salam di rakaat
terakhir rangkaian Shalat Tarawih dan Witir yang dipimpinnya. Mereka berebutan
meraih pemukul bedug yang jumlahnya empat pasang dan hanya empat anak tercepat
yang mampu meraih empat pasang pemukul bedug itu. Sedang yang lainnya bersorak
menyemangati kawan-kawannya yang sudah memegang pemukul bedug. Tidak lama
kemudian terdengar suara rampak bedug bersahut-sahutan, meski iramanya tidak
harmonis. Suasana di luar masjid menjadi semarak, sementara di dalam masjid
orang-orang dewasa tetap khusyuk melanjutkan dzikir seusai Shalat Tarawih dan
Witir. Lelah memukul bedug mereka kembali ke dalam masjid untuk mengikuti
kegiatan tadarus al-Qur’an yang dipimpin salah seorang ustadz.
Tampilkan postingan dengan label Tasawuf. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tasawuf. Tampilkan semua postingan
Kamis, Juli 03, 2014
Kamis, Desember 26, 2013
FANTASTIK...! ITU MEWAKILI SEMUANYA
“Kesan saya hanya satu, Fantastik…! Itu mewakili semuanya”
ujar dr. Kasim, pada sesi penutupan Kursus Pendalaman Tasawuf (KUPAT) Angkatan
II yang diselenggarakan oleh TQN Center (Pusat Aktivitas Thariqah Qadiriyah
Naqsyabandiyah) di Aula Masjid Al
Mubarak Rawamangun, Jakarta, Sabtu 21 Desember 2013.
Lagi, Mawlana Syekh Hisyam Kabbani (Q) Berkunjung ke Indonesia
JADWAL KUNJUNGAN MAWLANA SYEKH HISYAM
KABBANI (Q),
23 DESEMBER 2013-1 JANUARI 2014

SENIN, 23 DES 2013
Pkl. 16-21
Acara Penyambutan di Permata Hijau
Jl.Limo No.7 Rt.03/05, Permata Hijau,
Kebayoran Lama, Jaksel
SELASA, 24 DES 2013
Pkl.13-15
Kuliah Umum tentang Islam Sekarang dan yang Akan Datang
Di Masjid Raya Pondok Indah
23 DESEMBER 2013-1 JANUARI 2014

SENIN, 23 DES 2013
Pkl. 16-21
Acara Penyambutan di Permata Hijau
Jl.Limo No.7 Rt.03/05, Permata Hijau,
Kebayoran Lama, Jaksel
SELASA, 24 DES 2013
Pkl.13-15
Kuliah Umum tentang Islam Sekarang dan yang Akan Datang
Di Masjid Raya Pondok Indah
Kamis, Maret 15, 2012
Dia "Sang Actor" yang tak bisa dijangkau logika
Action memiliki Sebab dan Akibat (cause & effect), yang hubungan keduanya dapat dilihat dengan Logika.
Pengendali Action disebut Actor.
Pengendali Action disebut Actor.
Selasa, Maret 13, 2012
Kerja Spiritual Dekatkan Diri Kepada Allah
Posted on March 13, 2012
Berikut ini adalah dialog wartawan Republika dengan tokoh spiritual Ustadz Wahfiudin. Dialog tersebut diliput dalam harian Republika Ahad 11 Maret 2012.
Berikut ini adalah dialog wartawan Republika dengan tokoh spiritual Ustadz Wahfiudin. Dialog tersebut diliput dalam harian Republika Ahad 11 Maret 2012.
Kamis, Maret 17, 2011
AL – BARZANJI HISTORY (SEJARAH AL-BARZANJI)

Al-Barzanji atau Berzanji adalah suatu do’a-do’a, puji-pujian dan penceritaan riwayat Nabi Muhammad saw yang biasa dilantunkan dengan irama atau nada. Isi Berzanji bertutur tentang kehidupan Nabi Muhammad saw yakni silsilah keturunannya, masa kanak-kanak, remaja, dewasa, hingga diangkat menjadi rasul.
Jumat, Agustus 13, 2010
Ramadhan Memanusiakan Manusia
Oleh : WahfiudinRamadhan sesungguhnya istimewa siang harinya juga malam harinya. Sayangnya banyak orang hanya menganggap Ramadhan istimewa di siang harinya saja. Padahal malam-malam hari Ramadhan pun sangat istimewa.
Di siang hari kita melakukan ibadah yang bernama shiyam artinya menahan diri/puasa. Di malam hari kita beribadah melakukan qiyam, artinya mengurangi tidur.
Bayangkan sesudah shalat Isya kita masih dianjurkan shalat Tarawih. Lewat tengah malam sedikit kita dianjurkan untuk bangun sahur. Berarti kurang tidur kita.
Di siang kita melakukan tiga shiyam, yakni :
1. Kita tidak makan minum, kita menahan syahwat al-bathni/syahwat perut.
2. Kita tidak boleh melakukan huubungan suami istri, tidak boleh memperturutkan hasrat libido, itu namanya syahwat al-farji.
3. Dalam berpuasa kita dianjurkan untuk mengurangi bicara, terutama bicara yang tidak bermanfaat, bicara yang dapat menyakitkan orang lain, itulah syahwat al- kalam.
Jadi ibadah shiyam atau puasa di siang hari, tiga hal yang kita tahan yaitu
1. syahwat al-bathni/syahwat perut/keinginan makan minum,
2. syahwat al-kalam/ngobrol/ngegosip/ngerumpi dan
3. syahwat al-farji/hasrat sex/hasrat libido.
Sedangkan di malam hari kita dilatih untuk mengurangi syahwat al-nawm/keinginan tidur.
Keempat syahwat tersebut di atas adalah ciri khas kebinatangan.
Binatang hidup semata-mata mengikuti empat syahwat itu saja. Bangun tidur lalu cari makan sambil berkicau jika ia burung, sambil berkotek jika ia ayam, sambil mengeong-ngeong jika ia kucing.
Setelah kenyang makan ia kawin. Puas kawin lalu ia tidur.
Sungguh berbahaya jika manusia siklus hidupnya seperti itu.
Bangun tidur, cari makan sambil telepon sana sini, melobi bisnis kesana kemari. Kemudian ia pulang ke rumah dan melakukan hubungan suami istri lalu tidur lagi, Masya Alllah. Tidak ada bedanya ia dengan binatang.
Maka di bulan Ramadhan kita dilatih menekan empat syahwat itu. Supaya kita tidak terlalu membinatang. Supaya kita tetap menjadi manusia yang human. Manusia yang manusiawi.
Editor : Han
Kamis, November 12, 2009
Mursyid, Salik dan Thariqah
Alfathri Adlin (direktur PICTS, editor penerbit Jalasutra)
Sebiji buncis meronta dan terus melompat
hingga hampir melampaui bibir kuali
di mana ia tengah direbus di atas api.
"Kenapa kau lakukan ini padaku?"
Dengan sendok kayunya,
Sang Juru Masak mementungnya jatuh kembali.
"Jangan coba-coba melompat keluar.
Kau kira aku sedang menyiksamu?
Aku memberimu cita rasa!
Sehingga kau layak bersanding dengan rempah dan nasi
untuk menjadi gelora kehidupan dalam diri seseorang.
Ingatlah saat-saat kau nikmati regukan air hujan di kebun.
Saat itu ada untuk saat ini!"
Pertama, keindahan. Lalu kenikmatan,
kemudian kehidupan baru yang mendidih akan muncul.
Setelah itu, Sang Sahabat akan punya sesuatu yang enak untuk dimakan.
Pada saatnya, buncis akan berkata pada Sang Juru Masak,
"Rebuslah aku lagi. Hajar aku dengan sendok adukan,
karena aku tak bisa melakukannya sendirian.
Aku seperti gajah yang melamun menerawang
tentang taman di Hindustan yang dulu kutinggalkan,
dan tidak memperhatikan pawang pengendali arah jalan.
Engkaulah pemasakku, pawangku, jalanku menuju cita rasa kesejatian.
Aku suka caramu membuat masakan."
"Dulu aku pun seperti engkau,
masih hijau dari atas tanah. Lalu aku direbus matang dalam waktu,
direbus matang dalam jasad. Dua rebusan yang dahsyat.
Jiwa binatang dalam diriku tumbuh kuat.
Kukendalikan dia dengan latihan,
lalu aku direbus lagi, dan direbus lagi.
Pada satu titik aku melampaui itu semua,dan menjadi gurumu." 1
Seorang Mursyid yang sejati, yang menerima perintah khusus dari Allah untuk menjadi guru bagi para pejalan sufi, bisa tampil dengan berbagai macam wajah. Ada kalanya ia tampak lembut dan sabar, begitu mudah dipahami. Ada kalanya pula ia tampil dengan galak dan keras, begitu membingungkan dan sulit dipahami.
Seorang mursyid akan mendidik murid-muridnya untuk belajar mengendalikan seluruh bala tentara hawa nafsu dan syahwatnya, untuk mengenal segala macam aspek yang ada dalam diri masing-masing, dan untuk memunculkan potensi dirinya yang sesungguhnya. Potensi yang diletakkan Allah dalam qalb masing-masing manusia ketika ia dijadikan.
Dalam tahap pembersihan diri ini, hampir semua murid biasanya meronta. Tentu saja, karena hawa nafsu dalam diri kita pasti meronta jika dipisahkan dari hal-hal yang disukainya. Tapi demi memunculkan diri muridnya yang asli, maka mau tak mau, Sang Mursyid harus melakukannya. Sang Mursyid harus memaksa murid-muridnya untuk belajar mengendalikan seluruh bala tentara hawa nafsu dan syahwat (Rumi menyebutnya sebagai 'jiwa binatang') dalam diri masing-masing.
Inilah yang dimaksud Rumi dalam puisinya di atas, bahwa sebenarnya tugas seorang mursyid adalah 'merebus' murid-muridnya di atas api, demi memunculkan cita rasanya yang asli dalam diri masing-masing. Pada awalnya, biasanya buncis akan meronta dan bisa jadi, ingin lari. Pada tahap ini, mau tak mau, mursyid kadang perlu 'mementungnya' supaya kembali tenggelam dalam rebusan air mendidih. Tapi sekali si murid sudah merasakan manfaat bimbingan Sang Mursyid dalam perkembangan jiwanya, maka ia akan terus-menerus meminta untuk 'direbus' kembali.
Apakah ini berarti bahwa seorang murid harus memposisikan dirinya di hadapan gurunya seperti mayat yang dibolak-balik oleh pemandinya?
Nah, ini juga pemahaman yang perlu dikoreksi. Ada beberapa hal yang biasanya diajukan kepada para pejalan sufi yang ber-thariqat maupun yang memiliki mursyid, yang belakangan ini sering mengemuka. Berikut dua contoh representatif ketidaktepatan penilaian yang digeneralisir tersebut.
Pertama, "Saya bukan pengikut tasawuf formal. Saya tidak pernah bersumpah setia di bawah telapak tangan seorang guru spiritual untuk hanya menaati dia seorang, karena saya tidak menyukainya. Saya pikir, tidak ada pemikiran dan kesadaran sehat yang bisa terbangun jika seseorang telah memutuskan untuk berhenti bertanya, dan bersikap kritis." 2
Kedua, ".Sekurang-kurangnya ada tiga hal penting yang sering dipersoalkan orang mengenai tarekat ini. Pertama, soal otoritas guru yang mutlak tertutup dan cenderung bisa diwariskan. Kedua, soal bai'at yang menuntut kepatuhan mutlak seorang murid kepada sang guru, seperti mayat di depan pemandinya; dan ketiga, soal keabsahan (validitas) garis silsilah guru yang diklaim setiap tarekat sampai kepada Nabi Muhammad Saw. Salah satu ciri utama tasawuf positif adalah rasionalitas. Karena itu, tasawuf positif harus menolak segala bentuk kepatuhan buta kepada seorang manusia-yang bertentangan dengan semangat Islam." 3
Sekilas, kedua penilaian 'kritis' atas mursyid dan thariqah tersebut terkesan memperjuangkan keotonoman individu beserta rasionalitasnya, namun sayangnya terlalu terburu-buru melakukan generalisasi. Terlebih, kedua penilaian 'kritis' tersebut lebih merefleksikan prasangka semata ketimbang pembuktian melalui pengalaman menggeluti thariqah.
Posisi seperti itu tak ubahnya seperti komentator sepakbola dengan pemain sepakbola. Seorang komentator sepakbola sangat mahir dalam menganalisis kesalahan pemain, strategi yang sedang dimainkan, kegemilangan permainan, dan lain sebagainya. Namun yang lebih mengetahui dan merasakan realitasnya, bersusah-payah, pontang-panting, senantiasa waspada terhadap setiap serangan lawan, hingga akhirnya menjadi pemilik sejati pengetahuannya adalah si pemain sepakbola itu sendiri.
Sahabat Ali bin Abi Thalib r.a pernah berkata,
"Bila kau merasa cemas dan gelisah akan sesuatu, masuklah ke dalamnya, sebab ketakutan menghadapinya lebih mengganggu daripada sesuatu yang kautakuti itu sendiri." 4
Namun, di sisi lain, bisa dimaklumi juga bahwa generalisasi bermasalah-karena ketakutan memasuki dunia thariqah secara langsung-seperti terlihat pada kedua penilaian 'kritis' di atas, dilandaskan pada perkembangan mutakhir berbagai thariqah klasik. Maka lahirlah penilaian yang digeneralisasi sebagai karakter sejati seluruh tarekat, sehingga luput mengamati prinsip terdasar kemursyidan dan kethariqahan.
Deviasi adalah hal yang lazim terjadi dalam perjalanan sejarah kemanusiaan. Bahkan berbagai kitab suci pun sering mengemukakan bagaimana di setiap masa senantiasa terjadi deviasi ajaran agama sepeninggal sang pembawa risalah atau nubuwahnya. Ini tak ubahnya air yang semakin keruh ketika menjauhi sumber mata airnya, sehingga praktis di hilir hanya akan ditemui air kotor yang sudah tercampur sampah.
Begitu pula halnya dengan thariqah. Ketika sang pendiri atau mursyid sejatinya meninggal, maka hanya kehendak dan izin Allah Ta'ala semata yang bisa menjamin kemurnian dan keberlanjutan thariqah tersebut, yaitu, dengan menghadirkan mursyid sejati pengganti. Apabila Allah Ta'ala tidak menghadirkan mursyid sejati pengganti, berarti thariqah tersebut sudah berakhir. Kemursyidan itu adalah misi hidup, dan hanya boleh dipegang oleh mereka yang telah mencapai ma'rifat dan misi hidupnya adalah mursyid. Tidak semua orang yang telah ma'rifat boleh serta merta menjadi mursyid. Wali Quthb (pemimpin para wali di suatu zaman) seperti Ibn 'Arabi pun tidak menjadi mursyid thariqah.
Oleh karena itu, sebagaimana puisi Rumi tadi, seseorang tidak bisa mengangkat dirinya sendiri menjadi seorang guru spiritual sebelum ia sendiri sudah pernah, dan berhasil, melalui semua 'rebusan', dan kemudian memperoleh pengetahuan dari Allah ta'ala bahwa misi hidupnya memang sebagai seorang mursyid.
Kemursyidan adalah sebuah tugas langsung dari Allah ta'ala (misi hidup).
Oleh karena itu, jabatan kemursyidan pun tidak dapat diwariskan, sekalipun dengan landasan senioritas, keluasan pengetahuan, atau bahkan garis keturunan. Lantas, bagaimana dengan para salik yang tersisa apabila Allah Ta'ala tidak lagi menghadirkan mursyid sejati pengganti di sebuah thariqah? Tetaplah berpegang teguh pada dua hal paling berharga yang ditinggalkan Rasulullah Muhammad Saw, yaitu Al-Quran dan As-Sunnah. Jangan mengada-adakan mekanisme regenerasi mursyid hanya karena ikatan emosional pada thariqah sebagai lembaga, sehingga akhirnya menyerahkan 'amr (urusan) kepada orang yang bukan ahlinya.
Dari Abdullah bin Amr bin Ash ra, katanya dia mendengar Rasulullah saw bersabda: "Allah tidak menarik kembali ilmu dengan jalan mencabutnya dari qalb manusia, tetapi dengan jalan mematikan ulama. Apabila ulama telah punah, maka masyarakat akan mengangkat orang-orang bodoh menjadi pemimpin yang akan dijadikan tempat bertanya. Orang-orang bodoh ini akan berfatwa tanpa ilmu; mereka itu sesat dan menyesatkan." (Al-Hadits)
Mursyid sejati adalah pembimbing spiritual para salik thariqah untuk memurnikan dan menyucikan diri, sebagaimana Rasulullah Saw pun adalah mursyid bagi para sahabat utama yang terpanggil untuk menempuh suluk. Mursyid sejati bertugas membantu saliknya mengenal al-haqq secara bertahap sesuai perkembangan nafs-nya, serta mengembalikannya ke penyembahan yang murni kepada Allah Ta'ala.
Namun, para salik pun akan dihadapkan pada dilema akan ketidakpercayaan kepada mursyid yang akan menjadi racun dan penyebab kegagalannya dalam bersuluk, tetapi dia pun tidak boleh taklid buta kepada mursyidnya. Kepercayaan tidak bisa dipaksakan. Kepercayaan harus muncul secara alami melalui proses yang alami pula, yang muncul sendirinya dari qalb, sehingga mutlak diperlukan penguatan dengan 'ilm.
Ikutilah orang yang tiada minta balasan kepadamu; dan mereka adalah muhtadun. (QS Yâsîn [36]: 21)
Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai 'ilm tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan fu'ad semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. (QS Al-Isrâ' [17]: 36)
Dalam kedua penilaian 'kritis' terhadap thariqah dan mursyid di atas, hubungan antara mursyid dengan saliknya dipermasalahkan secara terlampau disederhanakan, karena dianggap menuntut ketaatan seperti mayat dengan pemandinya. Sikap seperti sangat potensial untuk menghambat terbentuknya individu modern otonom. Padahal, hakikatnya tidak pernah ada manusia yang otonom. Manusia hanya terbagi menjadi dua golongan, yaitu, mereka yang menghamba kepada Allah Ta'ala atau diperbudak oleh selain Allah Ta'ala (syahwat dan hawa nafsu).
Benarkah dalam thariqah berlangsung ketaklidan buta tak bersyarat dari seorang salik kepada mursyidnya? Kepatuhan seperti jenazah di hadapan pemandinya? Permasalahannya, bagaimana seorang salik bisa taklid kepada sang Mursyid, sementara perkataan sang Mursyid sendiri ternyata seringkali salah ditafsirkan?
Sebagai contoh, dalam sebuah thariqah, ketika seorang mursyid memerintahkan seorang salik untuk bersiaga menghadapi sebuah serangan sebentar lagi, si salik menafsirkan bahwa ia tengah diajari untuk bersiaga terhadap "serangan" lahiriah seperti perkelahian, sementara sang Mursyid sebenarnya tengah mengajari kesiagaan batiniah terhadap "serangan" masalah kehidupan.
Bagaimana dengan berbagai pertanyaan dalam kepala kita yang muncul dan berlalu-lalang? Setiap pertanyaan yang muncul di benak manusia itu pasti ada hak jawabannya. Itu tak ubahnya seseorang yang tengah menunggu di ruang tamu. Kemudian dari arah dapur tercium olehnya bau masakan. Bersabarlah, karena tepat pada saatnya makanan tersebut akan dihidangkan ke hadapannya.
Tidak semua pertanyaan harus terjawab saat ini juga. Bersabarlah, karena jawaban atas berbagai pertanyaan yang muncul di benak ada hak jawabannya, hanya tinggal masalah waktu saja. Namun, tak jarang manusia begitu arogan sehingga merasa bahwa rasionalitasnya pasti bisa memahami segala hal saat ini juga, dan bisa menghakimi segala perkara dengan bermodalkan ilmu yang kini dimilikinya. Seakan rasionalitas itu tidak punya kelemahan dan batasan.
Biasanya terhadap salik tipe fundamentalis rasional seperti ini, mursyid sejati akan 'menghajar' habis-habisan keliaran berpikirnya agar bisa fokus demi kebaikan salik itu sendiri. Hal yang paling sulit adalah menjinakan keliaran pikiran untuk fokus kepada perkara fundamental: misi hidup yang Allah Ta'ala amanahkan kepada dirinya. Pikiran yang liar memancar kesana-kemari itu seperti lampu pijar 10 watt, hanya cocok dipakai untuk lampu tidur. Namun, apabila cahaya 10 watt tersebut difokuskan menjadi laser, maka besi pun dapat ditembusnya.
Munculnya tawaran seperti tasawuf tanpa tarekat maupun tanpa guru saat ini juga berasalan, namun bukan berarti kritiknya terhadap dunia thariqah yang digeneralisir tersebut tepat sasaran. Semangat untuk mengedepankan akal sehat atau rasionalitas dalam mengkaji tashawwuf merupakan salah satu hal yang penting. Karena Allah Ta'ala mengaruniakan otak di tubuh manusia, maka cara mensyukurinya adalah memanfaatkannya untuk berpikir maksimal di alam terendah dari seluruh alam ciptaan-Nya, yaitu dunia.
Namun, Ad-Diin (Agama) adalah perkara yang baru akan terpahami apabila seluruh bola akal manusia - otak nalar, fu'ad (bentuk primitif lubb) dan lubb (akal nafs, orang yang telah memiliki lubb disebut sebagai ulil albab) - terbuka keseluruhannya. Sayangnya, sangat sedikit di antara manusia yang telah Allah anugerahkan kemampuan akal paripurna lahir dan batinnya seperti ini.
Di atas semuanya, bukanlah otak yang cerdas dan banyaknya bacaan yang dapat menyelamatkan manusia dari berbagai jebakan syahwat dan hawa nafsu dalam beragama, tetapi niat tulus murni mencari Allah Ta'ala. Seorang buta huruf pun bisa Allah rahmati menjadi 'ulil albâb dan 'arifin (orang yang telah mencapai ma'rifat), seperti Muhammad Raheem Bawa Muhaiyaddeen, maupun banyak sufi buta huruf lainnya, semata karena adanya niat tulus murni untuk mencari dan berserah diri kepada Allah Ta'ala. Niat itu pulalah yang membuat Allah Ta'ala berkenan menganugrahkan cahaya iman ke dalam qalb.
Misalnya, seseorang menyatakan bahwa karena dia memiliki kecenderungan saintifik, maka dia memerlukan penjelasan ilmiah terlebih dahulu sebelum memutuskan bersuluk. Namun, kebanyakan manusia memiliki mentalitas untuk tergesa-gesa menyimpulkan sebelum tuntas menelaah. Kecenderungan sikap saintifik itu baik, terlebih karena setiap manusia itu unik serta memiliki kebutuhan dan jalan masuk berbeda-beda. Ibaratnya, ada seekor kucing (pertanyaan) yang selalu mengeong dalam rumah (pikiran) kita, karena lapar meminta makanan (jawaban). Apabila kucing (pertanyaan) tersebut tidak diberi makanan (jawaban), maka rumah (pikiran) kita akan berisik oleh suara mengeongnya. Akibatnya, kita pun tidak bisa belajar dengan tenang. Karena itu, berilah makanan (jawaban) yang tepat untuk mengenyangkan kucing (pertanyaan) dalam rumah (pikiran) kita. Penuhilah haknya, sehingga dia bisa diam dan kita pun bisa belajar dengan tenang. Apabila makanan (jawaban) belum ditemukan, bersabarlah, saatnya pasti akan tiba.
Tidak bisa dipungkiri bahwa salah satu penyebab munculnya sikap alergi thariqah adalah ekses dari berbagai praktik yang dilakukan thariqah yang telah kehilangan ulamanya (baca: mata airnya). Misalnya, dahulu kala muncul sebuah thariqah. Lazimnya mereka melakukan riyadhah berkala secara bersama-sama. Kebetulan mursyid thariqah tersebut selalu memelihara kucing yang sering mengeong di malam hari karena lapar. Agar suara mengeong kucing tersebut tidak mengganggu riyadhah, maka sang mursyid memerintahkan muridnya untuk memasukkan kucing tersebut ke dalam sebuah ruangan, memberinya makan dan menguncinya. Hal itu berjalan terus selama bertahun-tahun, hingga sang mursyid meninggal.
Sepeninggal sang mursyid, para salik generasi pertama thariqah tersebut tetap memasukkan kucing peliharaan sang mursyid ke dalam sebuah ruangan, memberinya makan dan menguncinya agar tidak mengganggu riyadhah. Namun, para salik generasi kedua dari thariqah tersebut-yang tidak tahu sebab akibat dari perbuatan tersebut-mulai mengira bahwa perbuatan itu adalah sesuatu yang harus dilakukan sebelum mereka riyadhah. Maka, ketika sampai di salik generasi ketiga, muncullah semacam kewajiban baru, yaitu, memasukkan kucing ke dalam sebuah ruangan, memberinya makan dan menguncinya. Kemudian, ketika sampai di salik generasi keempat, muncullah buku tentang makna batin dan hakikat memasukkan kucing ke dalam sebuah ruangan, memberinya makan dan menguncinya sebelum melakukan riyadhah. Dan, di salik generasi kelima hingga seterusnya, perbuatan tadi sudah menebarkan citra ketidakrasionalan dan ketidaksejalanan thariqah tersebut dengan syariat.
Dalam sejarah tashawwuf ada juga tipe sufi yang dinamakan sebagai Uwaysiyyah. Nama ini merujuk kepada seorang tokoh sezaman Rasulullah Saw. yang mengetahui ihwal beliau Saw. tetapi tidak pernah bertemu secara langsung sepanjang hidupnya. Demikian pula Rasulullah Saw., mengetahui Uways Al-Qarni tanpa pernah bertemu dengannya. Hal itu disebabkan karena Uways setibanya di Mekkah tidak bisa menunggu untuk bertemu dengan Rasulullah Saw (yang ketika itu sedang pergi) sebab ia telah berjanji kepada ibunya di kota lain untuk tidak berlama-lama meninggalkannya. Kondisi Uways berbeda dengan Salman Al-Farisi yang Allah Ta'ala bukakan jalan untuk bisa bertemu dengan Rasulullah Saw., meskipun berasal jauh dari Persia, dan harus dua kali pindah agama sebagai proses pencariannya.
Salah satu sufi yang tergolong Uwaysiyyah adalah seorang Iran, Abu al-Hasan Kharraqani, yang pernah menyatakan: "Aku kagum pada salik-salik yang menyatakan bahwa mereka membutuhkan Mursyid ini dan itu. Kalian tahu bahwa aku tidak pernah diajari manusia manapun. Allah Ta'ala adalah pembimbingku, kendatipun demikian, Aku menaruh respek besar pada semua Mursyid."
Dari pernyataan seorang Uwaysiyyah tersebut bisa terlihat bahwa yang menjadi pokok persoalan bukanlah apakah seorang Mursyid diperlukan ataukah tidak, apakah perlu ikut thariqah atau tidak. Tetapi, apakah kita adalah seorang pencari Allah Ta'ala dan berazam untuk mencari jalan kepada-Nya? Apabila ya, maka biarlah Allah Ta'ala yang mengalirkan dan membukakan jalan hidup kita, entah itu ikut thariqah atau tidak, apakah akan dipertemukan dengan mursyid sejati di zamannya ataukah Allah Ta'ala sendiri yang akan mengajari. Bukan dengan menyatakan terlalu dini bahwa thariqah dan Mursyid itu tidaklah diperlukan.
Ketidakberanian mengambil resiko untuk mengarungi lautan (thariqah), terlebih terburu-buru melontarkan pernyataan seolah heroik yang mengisyaratkan keengganan mencari mursyid sejati zamannya, atau senantiasa memilih berjarak ala saintis serta mengandalkan kecerdasan otak untuk bertashawwuf secara wacana, bisa dipastikan mustahil mencapai tingkatan ma'rifat. Rumi menggambarkan hal itu sebagai berikut:
Ketika kauletakkan muatan di atas palka kapal, usahamu itu tanpa jaminan,
Karena engkau tak tahu apakah engkau bakal tenggelam atau selamat sampai tujuan.
Jika engkau berkata, "Aku takkan berlayar sampai aku yakin akan nasibku," maka engkau takkan berniaga: lantas rahasia kedua nasib ini takkan pernah terungkap.
Saudagar yang penakut takkan meraih untung maupun rugi; bahkan sesungguhnya ia merugi: orang harus mengambil api agar mendapat cahaya.
Karena seluruh kejadian berjalan di atas harapan, maka hanya Imanlah tujuan terbaik harapan, karena dengan Iman memperoleh keselamatan.5
Amati kisah pencarian Salman Al-Farisi. Sebelum mengenal Tuhannya Muhammad Saw, dia adalah seorang Majusi. Kesadaran yang muncul atas kejanggalan perbuatannya sendiri untuk menjaga agar api yang disembahnya sebagai Tuhan tidak padam, membuat Salman Al-Farisi berani mengambil resiko berpindah ke agama Kristen. Setelah beberapa kali berpindah mengabdi pada beberapa pendeta, dia ditunjuki ihwal keberadaan Nabi akhir zaman. Dan pertemuannya dengan Rasullah Saw, membuat Salman Al-Farisi berani mengambil resiko kedua kalinya untuk berpindah ke agama Islam.
Thariqah adalah wadah pengajaran tashawwuf yang menuntun pemanifestasian-nya melalui ujian-ujian kehidupan. Adapun yang dimaksud dengan syariat adalah Al-Islam, yaitu syariat lahir yang lebih dikenal sebagai rukun Islam. Antara syariat dan tashawwuf (keihsanan) tidak boleh dipisahkan, sedangkan thariqah-sebagai manifestasi lahiriah tashawwuf-adalah perbuatan (af'al) Rasulullah Saw dalam kehidupan dunia, yang tiada lain merupakan syariat juga. Apabila syariat adalah permulaan thariqah, maka thariqah adalah permulaan haqiqat. Namun, bukan berarti yang sebelumnya sudah tidak berlaku lagi untuk tahap berikutnya, atau bahkan ditinggalkan begitu saja. Sebagaimana dikatakan oleh Hamzah Fansuri, awal dari thariqah itu adalah taubat.
Dan sesungguhnya telah Kami wahyukan kepada Musa: "Pergilah kamu dengan hamba-hamba-Ku di malam hari, maka buatlah untuk mereka thariqah yang kering dalam laut itu, kamu tak usah khawatir akan tersusul dan tidak usah takut." (QS Thâhâ [20]: 77)
Thariqah adalah jalan kering dalam lautan, perjalanan seseorang menuju Tuhannya di muka bumi ini tanpa terbasahi oleh lautan duniawi. Tak ubahnya seperti ikan yang hidup di laut asin, tapi tidak menjadi asin karenanya. Thariqah bukanlah berarti seseorang itu harus hidup dengan mengabaikan dunia dan miskin. Manusia tidak mungkin bisa mencapai tingkatan ma'rifat, yaitu mengenal Tuhannya, menemukan diri sejati serta misi hidupnya, dengan cara menjauhkan diri dan tidak bergaul dengan masyarakat serta tidak berikhtiar untuk penghidupannya dan menghargai syariat. Seseorang boleh saja kaya raya, seperti Nabi Sulaiman, tapi tidak boleh mengisi hatinya dengan kecintaan terhadap dunia. Inilah yang disebut dengan zuhud.
Apakah seseorang bisa menempuh jalan suluk dengan meninggalkan syariat?
Nah, ini adalah hal yang mustahil. Jalan tasawuf adalah jalan seseorang untuk mulai belajar bersyariat secara batiniyah. Dan ini hanya bisa ditempuh setelah seseorang melakukan syariat lahiriah. Mustahil mencapai tujuan tasawuf jika seseorang meninggalkan syariat lahiriyah. Ada sebuah kisah nyata yang menarik untuk kita perhatikan berikut ini.
Suatu ketika, mursyid sebuah thariqah di Jawa Barat pernah didatangi beberapa orang lelaki yang ingin bersilaturahmi. Sang Mursyid bertanya, "Dari mana kalian tahu rumah saya?" Mereka menjawab, "Kami bertanya pada orang-orang di masjid agung kota ini, kira-kira siapa ulama yang bisa kami kunjungi untuk bersilaturahmi. Mereka menunjukkan kami ke rumah Bapak."
Ternyata para lelaki itu telah sekian bulan selalu berpindah-pindah, tinggal dari satu masjid ke masjid lainnya. Sang Mursyid bertanya, "Apa yang kalian lakukan dengan tinggal di masjid-masjid seperti itu?"
Mereka menjawab, "Kami mencari Allah, pak." Sang Mursyid kembali bertanya, "Apakah kalian punya anak dan istri?" Mereka menjawab, "Punya pak?" Dengan keheranan sang Mursyid bertanya lagi, "Lantas bagaimana dengan anak istri kalian? Siapa yang merawat dan menafkahinya?" Mereka menjawab, "Kami telah tawakalkan kepada Allah, pak."
Maka sang Mursyid berkata, "Bermimpi kalian ini. Bermimpi kalau kalian ingin mencari Allah sementara syariat lahir kalian abaikan. Secara syariat kalian diwajibkan untuk menafkahi istri, mendidik dan merawat anak, dan berbagai kewajiban lainnya sebagai ayah dan suami yang seharusnya ditunaikan. Kalian itu bermimpi kalau mencari Allah Ta'ala, sementara syariat lahir diabaikan."
Adapun thariqah itu sendiri mempunyai mempunyai tiga tujuan. Dua tujuan yang pertama adalah mendapatkan dua rahmat dari Allah.
Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan berimanlah kepada Rasul-Nya, niscaya Allah memberikan rahmat-Nya kepadamu dua bagian, dan menjadikan untukmu cahaya yang dengan cahaya itu kamu dapat berjalan dan Dia mengampuni kamu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS Al-Hadid [57]: 28)
Tujuan pertama thariqah adalah mendapatkan rahmat pertama, yaitu cahaya iman dan kesucian bayi seperti pertama kali lahir. Suatu keadaan ketika manusia belum lagi menumpuk dosa. Keadaan ini dinamakan juga dengan al-muththaharûn.
Tujuan kedua dari thariqah adalah mendapatkan rahmat kedua, yaitu berupa Ruhul Quds yang akan mengingatkan manusia ihwal misi hidupnya, mengingatkan ihwal perjanjian primordial dengan Allah Ta'ala (QS Al-A'raf [7]: 172) dan membimbingnya dalam menjalankan misi hidup tersebut.
Tahap inilah yang dinamakan sebagai ma'rifat, tahap ketika seseorang setelah mengenal nafs-nya, maka akan mengenal Rabb-nya (tingkatan syuhada).
Sedang tujuan ketiga dari thariqah adalah menjadi hamba-Nya yang didekatkan (qarib). Fungsi mursyid adalah membimbing saliknya hingga sampai pada tujuan kedua dari thariqah, yaitu menjadi syuhada. Setelah itu, yang akan berperan sebagai mursyid adalah Ruhul Quds-nya sendiri untuk ber-dharma sebagai shiddiqiin.
Thariqah merupakan perjalanan kembali kepada Allah untuk menemukan diri sejati dan misi hidup tiap-tiap individu. Namun, perjalanan kembali kepada Allah mewajibkan berbagai ujian berat yang harus dilalui, hingga nafs manusia ditempa menjadi kuat. Tak ubahnya, api yang membakar logam hingga merah membara agar dapat dibentuk menjadi sesuatu yang berguna.
Dengan tempaan ujian tersebut, sang hamba akan siap menerima amanah berupa misi hidup dalam posisi percaya dan dipercaya.
Melalui jalan suluk, seorang murid juga akan belajar untuk memperoleh ketenangan. Berbeda dengan anggapan umum bahwa ketenangan adalah hidup menjadi tentram dan tenang, ketenangan dalam tashawwuf adalah tidak goyahnya hati dalam menghadapi setiap permasalahan yang datang, menyambut masalah dan ujian sebagai jubah keagungan. Ujian itu hukumnya wajib bagi para salik yang berjalan mencari Allah Ta'ala.
Ketenangan hidup yang semu, sebagaimana yang diinginkan banyak orang awam dalam ber-tashawwuf, bagi para sufi lebih merupakan isyarat bahwa Allah Ta'ala tidak lagi peduli. Ketenangan dan hidup adem ayem, lancar dan tenang tanpa masalah merupakan isyarat bahwa Allah membiarkan seseorang hanya mendapatkan bagian di dunia saja, namun tidak di akhirat nanti.
Ketenangan hidup yang semu ini justru membuat seseorang menjadi tidak lagi memiliki stimulus untuk merenung, tidak merasa membutuhkan Allah, dan statis.
Sayangnya, saat ini banyak sekali ungkapan yang menyatakan bahwa kegunaan untuk mempelajari tashawwuf adalah untuk mendapatkan ketenangan dan terapi bagi berbagai masalah kehidupan sehari-hari. Padahal, sejak dulu tashawwuf adalah jalan yang mewajibkan adanya ujian dalam setiap detik kehidupan. Para pengikutnya akan disucikan dan dibersihkan.
Suatu ketika, saat sedang makan siang, seorang salik bertanya kepada mursyidnya, "Pak, apakah tetangga di sekitar ini tahu bahwa Bapak adalah mursyid?" Beliau menjawab, "Ya, mereka tahu. Bahkan banyak di antara mereka yang datang kepada saya." Kemudian salik itu bertanya kembali, "Lalu mengapa mereka tidak berguru pada Bapak?" Beliau menjawab, "Karena saya mengatakan kepada mereka, bahwa apabila kalian mau menjadi murid-murid saya maka kalian harus siap-siap dibersihkan. Harta-harta yang kalian dapatkan dengan cara yang tidak halal akan dihilangkan dari kalian. Ternyata mereka pun kemudian malah ketakutan dan mundur dengan sendirinya."
Setelah membaca pracetak buku Guru Sejati dan Muridnya, melalui pemaparannya dalam buku ini, pembaca bisa melihat bagaimana Allah Ta'ala membuat seorang sufi buta huruf dari pedalaman Sri Lanka memiliki ilmu sedalam ini. Hal ini menunjukkan bahwa rasionalitas hanyalah salah satu jalan saja-dan bukan yang teristimewa-untuk langkah awal mempelajari dunia tashawwuf. Selain itu, ini yang paling menarik, bahwa setelah Bawa Muhaiyaddeen hijrah ke Amerika, kebanyakan muridnya justru adalah orang kulit putih, yang secara umum dicap sebagai masyarakat paling rasional di muka bumi ini.
Wallahu'alam bishawwab. []
Catatan Akhir:
1 Puisi Jalaluddin Rumi, "Chickpea to Cook," dalam Barks, Coleman
(trans.) "The Essential Rumi". Castle Books, 1997. Dalam tulisan ini,
puisi ini diterjemahkan oleh Herry Mardian.
2 Miranda Risang Ayu, "Mencari Tuhan", Basis, nomor 03-04, tahun ke-55,
Maret-April 2006, hlm. 31, 34.
3 Haidar Bagir, Buku Saku Tasawuf, Bandung: Mizan, April 2005, hlm.
178,
183-184.
4 Muhammad Al-Bagir, Mutiara Nahjul Balaghah: Wacana dan Surat-surat
Imam
Ali R.A., Bandung: Mizan, cetakan ketiga, 1994, hlm. 130.
5 Nicholson, Reynold A., Jalaluddin Rumi: Ajaran dan Pengalaman Sufi,
Jakarta: Pustaka Firdaus, cet. 2, 1996, hlm. 30.
Sebiji buncis meronta dan terus melompat
hingga hampir melampaui bibir kuali
di mana ia tengah direbus di atas api.
"Kenapa kau lakukan ini padaku?"
Dengan sendok kayunya,
Sang Juru Masak mementungnya jatuh kembali.
"Jangan coba-coba melompat keluar.
Kau kira aku sedang menyiksamu?
Aku memberimu cita rasa!
Sehingga kau layak bersanding dengan rempah dan nasi
untuk menjadi gelora kehidupan dalam diri seseorang.
Ingatlah saat-saat kau nikmati regukan air hujan di kebun.
Saat itu ada untuk saat ini!"
Pertama, keindahan. Lalu kenikmatan,
kemudian kehidupan baru yang mendidih akan muncul.
Setelah itu, Sang Sahabat akan punya sesuatu yang enak untuk dimakan.
Pada saatnya, buncis akan berkata pada Sang Juru Masak,
"Rebuslah aku lagi. Hajar aku dengan sendok adukan,
karena aku tak bisa melakukannya sendirian.
Aku seperti gajah yang melamun menerawang
tentang taman di Hindustan yang dulu kutinggalkan,
dan tidak memperhatikan pawang pengendali arah jalan.
Engkaulah pemasakku, pawangku, jalanku menuju cita rasa kesejatian.
Aku suka caramu membuat masakan."
"Dulu aku pun seperti engkau,
masih hijau dari atas tanah. Lalu aku direbus matang dalam waktu,
direbus matang dalam jasad. Dua rebusan yang dahsyat.
Jiwa binatang dalam diriku tumbuh kuat.
Kukendalikan dia dengan latihan,
lalu aku direbus lagi, dan direbus lagi.
Pada satu titik aku melampaui itu semua,dan menjadi gurumu." 1
Seorang Mursyid yang sejati, yang menerima perintah khusus dari Allah untuk menjadi guru bagi para pejalan sufi, bisa tampil dengan berbagai macam wajah. Ada kalanya ia tampak lembut dan sabar, begitu mudah dipahami. Ada kalanya pula ia tampil dengan galak dan keras, begitu membingungkan dan sulit dipahami.
Seorang mursyid akan mendidik murid-muridnya untuk belajar mengendalikan seluruh bala tentara hawa nafsu dan syahwatnya, untuk mengenal segala macam aspek yang ada dalam diri masing-masing, dan untuk memunculkan potensi dirinya yang sesungguhnya. Potensi yang diletakkan Allah dalam qalb masing-masing manusia ketika ia dijadikan.
Dalam tahap pembersihan diri ini, hampir semua murid biasanya meronta. Tentu saja, karena hawa nafsu dalam diri kita pasti meronta jika dipisahkan dari hal-hal yang disukainya. Tapi demi memunculkan diri muridnya yang asli, maka mau tak mau, Sang Mursyid harus melakukannya. Sang Mursyid harus memaksa murid-muridnya untuk belajar mengendalikan seluruh bala tentara hawa nafsu dan syahwat (Rumi menyebutnya sebagai 'jiwa binatang') dalam diri masing-masing.
Inilah yang dimaksud Rumi dalam puisinya di atas, bahwa sebenarnya tugas seorang mursyid adalah 'merebus' murid-muridnya di atas api, demi memunculkan cita rasanya yang asli dalam diri masing-masing. Pada awalnya, biasanya buncis akan meronta dan bisa jadi, ingin lari. Pada tahap ini, mau tak mau, mursyid kadang perlu 'mementungnya' supaya kembali tenggelam dalam rebusan air mendidih. Tapi sekali si murid sudah merasakan manfaat bimbingan Sang Mursyid dalam perkembangan jiwanya, maka ia akan terus-menerus meminta untuk 'direbus' kembali.
Apakah ini berarti bahwa seorang murid harus memposisikan dirinya di hadapan gurunya seperti mayat yang dibolak-balik oleh pemandinya?
Nah, ini juga pemahaman yang perlu dikoreksi. Ada beberapa hal yang biasanya diajukan kepada para pejalan sufi yang ber-thariqat maupun yang memiliki mursyid, yang belakangan ini sering mengemuka. Berikut dua contoh representatif ketidaktepatan penilaian yang digeneralisir tersebut.
Pertama, "Saya bukan pengikut tasawuf formal. Saya tidak pernah bersumpah setia di bawah telapak tangan seorang guru spiritual untuk hanya menaati dia seorang, karena saya tidak menyukainya. Saya pikir, tidak ada pemikiran dan kesadaran sehat yang bisa terbangun jika seseorang telah memutuskan untuk berhenti bertanya, dan bersikap kritis." 2
Kedua, ".Sekurang-kurangnya ada tiga hal penting yang sering dipersoalkan orang mengenai tarekat ini. Pertama, soal otoritas guru yang mutlak tertutup dan cenderung bisa diwariskan. Kedua, soal bai'at yang menuntut kepatuhan mutlak seorang murid kepada sang guru, seperti mayat di depan pemandinya; dan ketiga, soal keabsahan (validitas) garis silsilah guru yang diklaim setiap tarekat sampai kepada Nabi Muhammad Saw. Salah satu ciri utama tasawuf positif adalah rasionalitas. Karena itu, tasawuf positif harus menolak segala bentuk kepatuhan buta kepada seorang manusia-yang bertentangan dengan semangat Islam." 3
Sekilas, kedua penilaian 'kritis' atas mursyid dan thariqah tersebut terkesan memperjuangkan keotonoman individu beserta rasionalitasnya, namun sayangnya terlalu terburu-buru melakukan generalisasi. Terlebih, kedua penilaian 'kritis' tersebut lebih merefleksikan prasangka semata ketimbang pembuktian melalui pengalaman menggeluti thariqah.
Posisi seperti itu tak ubahnya seperti komentator sepakbola dengan pemain sepakbola. Seorang komentator sepakbola sangat mahir dalam menganalisis kesalahan pemain, strategi yang sedang dimainkan, kegemilangan permainan, dan lain sebagainya. Namun yang lebih mengetahui dan merasakan realitasnya, bersusah-payah, pontang-panting, senantiasa waspada terhadap setiap serangan lawan, hingga akhirnya menjadi pemilik sejati pengetahuannya adalah si pemain sepakbola itu sendiri.
Sahabat Ali bin Abi Thalib r.a pernah berkata,
"Bila kau merasa cemas dan gelisah akan sesuatu, masuklah ke dalamnya, sebab ketakutan menghadapinya lebih mengganggu daripada sesuatu yang kautakuti itu sendiri." 4
Namun, di sisi lain, bisa dimaklumi juga bahwa generalisasi bermasalah-karena ketakutan memasuki dunia thariqah secara langsung-seperti terlihat pada kedua penilaian 'kritis' di atas, dilandaskan pada perkembangan mutakhir berbagai thariqah klasik. Maka lahirlah penilaian yang digeneralisasi sebagai karakter sejati seluruh tarekat, sehingga luput mengamati prinsip terdasar kemursyidan dan kethariqahan.
Deviasi adalah hal yang lazim terjadi dalam perjalanan sejarah kemanusiaan. Bahkan berbagai kitab suci pun sering mengemukakan bagaimana di setiap masa senantiasa terjadi deviasi ajaran agama sepeninggal sang pembawa risalah atau nubuwahnya. Ini tak ubahnya air yang semakin keruh ketika menjauhi sumber mata airnya, sehingga praktis di hilir hanya akan ditemui air kotor yang sudah tercampur sampah.
Begitu pula halnya dengan thariqah. Ketika sang pendiri atau mursyid sejatinya meninggal, maka hanya kehendak dan izin Allah Ta'ala semata yang bisa menjamin kemurnian dan keberlanjutan thariqah tersebut, yaitu, dengan menghadirkan mursyid sejati pengganti. Apabila Allah Ta'ala tidak menghadirkan mursyid sejati pengganti, berarti thariqah tersebut sudah berakhir. Kemursyidan itu adalah misi hidup, dan hanya boleh dipegang oleh mereka yang telah mencapai ma'rifat dan misi hidupnya adalah mursyid. Tidak semua orang yang telah ma'rifat boleh serta merta menjadi mursyid. Wali Quthb (pemimpin para wali di suatu zaman) seperti Ibn 'Arabi pun tidak menjadi mursyid thariqah.
Oleh karena itu, sebagaimana puisi Rumi tadi, seseorang tidak bisa mengangkat dirinya sendiri menjadi seorang guru spiritual sebelum ia sendiri sudah pernah, dan berhasil, melalui semua 'rebusan', dan kemudian memperoleh pengetahuan dari Allah ta'ala bahwa misi hidupnya memang sebagai seorang mursyid.
Kemursyidan adalah sebuah tugas langsung dari Allah ta'ala (misi hidup).
Oleh karena itu, jabatan kemursyidan pun tidak dapat diwariskan, sekalipun dengan landasan senioritas, keluasan pengetahuan, atau bahkan garis keturunan. Lantas, bagaimana dengan para salik yang tersisa apabila Allah Ta'ala tidak lagi menghadirkan mursyid sejati pengganti di sebuah thariqah? Tetaplah berpegang teguh pada dua hal paling berharga yang ditinggalkan Rasulullah Muhammad Saw, yaitu Al-Quran dan As-Sunnah. Jangan mengada-adakan mekanisme regenerasi mursyid hanya karena ikatan emosional pada thariqah sebagai lembaga, sehingga akhirnya menyerahkan 'amr (urusan) kepada orang yang bukan ahlinya.
Dari Abdullah bin Amr bin Ash ra, katanya dia mendengar Rasulullah saw bersabda: "Allah tidak menarik kembali ilmu dengan jalan mencabutnya dari qalb manusia, tetapi dengan jalan mematikan ulama. Apabila ulama telah punah, maka masyarakat akan mengangkat orang-orang bodoh menjadi pemimpin yang akan dijadikan tempat bertanya. Orang-orang bodoh ini akan berfatwa tanpa ilmu; mereka itu sesat dan menyesatkan." (Al-Hadits)
Mursyid sejati adalah pembimbing spiritual para salik thariqah untuk memurnikan dan menyucikan diri, sebagaimana Rasulullah Saw pun adalah mursyid bagi para sahabat utama yang terpanggil untuk menempuh suluk. Mursyid sejati bertugas membantu saliknya mengenal al-haqq secara bertahap sesuai perkembangan nafs-nya, serta mengembalikannya ke penyembahan yang murni kepada Allah Ta'ala.
Namun, para salik pun akan dihadapkan pada dilema akan ketidakpercayaan kepada mursyid yang akan menjadi racun dan penyebab kegagalannya dalam bersuluk, tetapi dia pun tidak boleh taklid buta kepada mursyidnya. Kepercayaan tidak bisa dipaksakan. Kepercayaan harus muncul secara alami melalui proses yang alami pula, yang muncul sendirinya dari qalb, sehingga mutlak diperlukan penguatan dengan 'ilm.
Ikutilah orang yang tiada minta balasan kepadamu; dan mereka adalah muhtadun. (QS Yâsîn [36]: 21)
Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai 'ilm tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan fu'ad semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. (QS Al-Isrâ' [17]: 36)
Dalam kedua penilaian 'kritis' terhadap thariqah dan mursyid di atas, hubungan antara mursyid dengan saliknya dipermasalahkan secara terlampau disederhanakan, karena dianggap menuntut ketaatan seperti mayat dengan pemandinya. Sikap seperti sangat potensial untuk menghambat terbentuknya individu modern otonom. Padahal, hakikatnya tidak pernah ada manusia yang otonom. Manusia hanya terbagi menjadi dua golongan, yaitu, mereka yang menghamba kepada Allah Ta'ala atau diperbudak oleh selain Allah Ta'ala (syahwat dan hawa nafsu).
Benarkah dalam thariqah berlangsung ketaklidan buta tak bersyarat dari seorang salik kepada mursyidnya? Kepatuhan seperti jenazah di hadapan pemandinya? Permasalahannya, bagaimana seorang salik bisa taklid kepada sang Mursyid, sementara perkataan sang Mursyid sendiri ternyata seringkali salah ditafsirkan?
Sebagai contoh, dalam sebuah thariqah, ketika seorang mursyid memerintahkan seorang salik untuk bersiaga menghadapi sebuah serangan sebentar lagi, si salik menafsirkan bahwa ia tengah diajari untuk bersiaga terhadap "serangan" lahiriah seperti perkelahian, sementara sang Mursyid sebenarnya tengah mengajari kesiagaan batiniah terhadap "serangan" masalah kehidupan.
Bagaimana dengan berbagai pertanyaan dalam kepala kita yang muncul dan berlalu-lalang? Setiap pertanyaan yang muncul di benak manusia itu pasti ada hak jawabannya. Itu tak ubahnya seseorang yang tengah menunggu di ruang tamu. Kemudian dari arah dapur tercium olehnya bau masakan. Bersabarlah, karena tepat pada saatnya makanan tersebut akan dihidangkan ke hadapannya.
Tidak semua pertanyaan harus terjawab saat ini juga. Bersabarlah, karena jawaban atas berbagai pertanyaan yang muncul di benak ada hak jawabannya, hanya tinggal masalah waktu saja. Namun, tak jarang manusia begitu arogan sehingga merasa bahwa rasionalitasnya pasti bisa memahami segala hal saat ini juga, dan bisa menghakimi segala perkara dengan bermodalkan ilmu yang kini dimilikinya. Seakan rasionalitas itu tidak punya kelemahan dan batasan.
Biasanya terhadap salik tipe fundamentalis rasional seperti ini, mursyid sejati akan 'menghajar' habis-habisan keliaran berpikirnya agar bisa fokus demi kebaikan salik itu sendiri. Hal yang paling sulit adalah menjinakan keliaran pikiran untuk fokus kepada perkara fundamental: misi hidup yang Allah Ta'ala amanahkan kepada dirinya. Pikiran yang liar memancar kesana-kemari itu seperti lampu pijar 10 watt, hanya cocok dipakai untuk lampu tidur. Namun, apabila cahaya 10 watt tersebut difokuskan menjadi laser, maka besi pun dapat ditembusnya.
Munculnya tawaran seperti tasawuf tanpa tarekat maupun tanpa guru saat ini juga berasalan, namun bukan berarti kritiknya terhadap dunia thariqah yang digeneralisir tersebut tepat sasaran. Semangat untuk mengedepankan akal sehat atau rasionalitas dalam mengkaji tashawwuf merupakan salah satu hal yang penting. Karena Allah Ta'ala mengaruniakan otak di tubuh manusia, maka cara mensyukurinya adalah memanfaatkannya untuk berpikir maksimal di alam terendah dari seluruh alam ciptaan-Nya, yaitu dunia.
Namun, Ad-Diin (Agama) adalah perkara yang baru akan terpahami apabila seluruh bola akal manusia - otak nalar, fu'ad (bentuk primitif lubb) dan lubb (akal nafs, orang yang telah memiliki lubb disebut sebagai ulil albab) - terbuka keseluruhannya. Sayangnya, sangat sedikit di antara manusia yang telah Allah anugerahkan kemampuan akal paripurna lahir dan batinnya seperti ini.
Di atas semuanya, bukanlah otak yang cerdas dan banyaknya bacaan yang dapat menyelamatkan manusia dari berbagai jebakan syahwat dan hawa nafsu dalam beragama, tetapi niat tulus murni mencari Allah Ta'ala. Seorang buta huruf pun bisa Allah rahmati menjadi 'ulil albâb dan 'arifin (orang yang telah mencapai ma'rifat), seperti Muhammad Raheem Bawa Muhaiyaddeen, maupun banyak sufi buta huruf lainnya, semata karena adanya niat tulus murni untuk mencari dan berserah diri kepada Allah Ta'ala. Niat itu pulalah yang membuat Allah Ta'ala berkenan menganugrahkan cahaya iman ke dalam qalb.
Misalnya, seseorang menyatakan bahwa karena dia memiliki kecenderungan saintifik, maka dia memerlukan penjelasan ilmiah terlebih dahulu sebelum memutuskan bersuluk. Namun, kebanyakan manusia memiliki mentalitas untuk tergesa-gesa menyimpulkan sebelum tuntas menelaah. Kecenderungan sikap saintifik itu baik, terlebih karena setiap manusia itu unik serta memiliki kebutuhan dan jalan masuk berbeda-beda. Ibaratnya, ada seekor kucing (pertanyaan) yang selalu mengeong dalam rumah (pikiran) kita, karena lapar meminta makanan (jawaban). Apabila kucing (pertanyaan) tersebut tidak diberi makanan (jawaban), maka rumah (pikiran) kita akan berisik oleh suara mengeongnya. Akibatnya, kita pun tidak bisa belajar dengan tenang. Karena itu, berilah makanan (jawaban) yang tepat untuk mengenyangkan kucing (pertanyaan) dalam rumah (pikiran) kita. Penuhilah haknya, sehingga dia bisa diam dan kita pun bisa belajar dengan tenang. Apabila makanan (jawaban) belum ditemukan, bersabarlah, saatnya pasti akan tiba.
Tidak bisa dipungkiri bahwa salah satu penyebab munculnya sikap alergi thariqah adalah ekses dari berbagai praktik yang dilakukan thariqah yang telah kehilangan ulamanya (baca: mata airnya). Misalnya, dahulu kala muncul sebuah thariqah. Lazimnya mereka melakukan riyadhah berkala secara bersama-sama. Kebetulan mursyid thariqah tersebut selalu memelihara kucing yang sering mengeong di malam hari karena lapar. Agar suara mengeong kucing tersebut tidak mengganggu riyadhah, maka sang mursyid memerintahkan muridnya untuk memasukkan kucing tersebut ke dalam sebuah ruangan, memberinya makan dan menguncinya. Hal itu berjalan terus selama bertahun-tahun, hingga sang mursyid meninggal.
Sepeninggal sang mursyid, para salik generasi pertama thariqah tersebut tetap memasukkan kucing peliharaan sang mursyid ke dalam sebuah ruangan, memberinya makan dan menguncinya agar tidak mengganggu riyadhah. Namun, para salik generasi kedua dari thariqah tersebut-yang tidak tahu sebab akibat dari perbuatan tersebut-mulai mengira bahwa perbuatan itu adalah sesuatu yang harus dilakukan sebelum mereka riyadhah. Maka, ketika sampai di salik generasi ketiga, muncullah semacam kewajiban baru, yaitu, memasukkan kucing ke dalam sebuah ruangan, memberinya makan dan menguncinya. Kemudian, ketika sampai di salik generasi keempat, muncullah buku tentang makna batin dan hakikat memasukkan kucing ke dalam sebuah ruangan, memberinya makan dan menguncinya sebelum melakukan riyadhah. Dan, di salik generasi kelima hingga seterusnya, perbuatan tadi sudah menebarkan citra ketidakrasionalan dan ketidaksejalanan thariqah tersebut dengan syariat.
Dalam sejarah tashawwuf ada juga tipe sufi yang dinamakan sebagai Uwaysiyyah. Nama ini merujuk kepada seorang tokoh sezaman Rasulullah Saw. yang mengetahui ihwal beliau Saw. tetapi tidak pernah bertemu secara langsung sepanjang hidupnya. Demikian pula Rasulullah Saw., mengetahui Uways Al-Qarni tanpa pernah bertemu dengannya. Hal itu disebabkan karena Uways setibanya di Mekkah tidak bisa menunggu untuk bertemu dengan Rasulullah Saw (yang ketika itu sedang pergi) sebab ia telah berjanji kepada ibunya di kota lain untuk tidak berlama-lama meninggalkannya. Kondisi Uways berbeda dengan Salman Al-Farisi yang Allah Ta'ala bukakan jalan untuk bisa bertemu dengan Rasulullah Saw., meskipun berasal jauh dari Persia, dan harus dua kali pindah agama sebagai proses pencariannya.
Salah satu sufi yang tergolong Uwaysiyyah adalah seorang Iran, Abu al-Hasan Kharraqani, yang pernah menyatakan: "Aku kagum pada salik-salik yang menyatakan bahwa mereka membutuhkan Mursyid ini dan itu. Kalian tahu bahwa aku tidak pernah diajari manusia manapun. Allah Ta'ala adalah pembimbingku, kendatipun demikian, Aku menaruh respek besar pada semua Mursyid."
Dari pernyataan seorang Uwaysiyyah tersebut bisa terlihat bahwa yang menjadi pokok persoalan bukanlah apakah seorang Mursyid diperlukan ataukah tidak, apakah perlu ikut thariqah atau tidak. Tetapi, apakah kita adalah seorang pencari Allah Ta'ala dan berazam untuk mencari jalan kepada-Nya? Apabila ya, maka biarlah Allah Ta'ala yang mengalirkan dan membukakan jalan hidup kita, entah itu ikut thariqah atau tidak, apakah akan dipertemukan dengan mursyid sejati di zamannya ataukah Allah Ta'ala sendiri yang akan mengajari. Bukan dengan menyatakan terlalu dini bahwa thariqah dan Mursyid itu tidaklah diperlukan.
Ketidakberanian mengambil resiko untuk mengarungi lautan (thariqah), terlebih terburu-buru melontarkan pernyataan seolah heroik yang mengisyaratkan keengganan mencari mursyid sejati zamannya, atau senantiasa memilih berjarak ala saintis serta mengandalkan kecerdasan otak untuk bertashawwuf secara wacana, bisa dipastikan mustahil mencapai tingkatan ma'rifat. Rumi menggambarkan hal itu sebagai berikut:
Ketika kauletakkan muatan di atas palka kapal, usahamu itu tanpa jaminan,
Karena engkau tak tahu apakah engkau bakal tenggelam atau selamat sampai tujuan.
Jika engkau berkata, "Aku takkan berlayar sampai aku yakin akan nasibku," maka engkau takkan berniaga: lantas rahasia kedua nasib ini takkan pernah terungkap.
Saudagar yang penakut takkan meraih untung maupun rugi; bahkan sesungguhnya ia merugi: orang harus mengambil api agar mendapat cahaya.
Karena seluruh kejadian berjalan di atas harapan, maka hanya Imanlah tujuan terbaik harapan, karena dengan Iman memperoleh keselamatan.5
Amati kisah pencarian Salman Al-Farisi. Sebelum mengenal Tuhannya Muhammad Saw, dia adalah seorang Majusi. Kesadaran yang muncul atas kejanggalan perbuatannya sendiri untuk menjaga agar api yang disembahnya sebagai Tuhan tidak padam, membuat Salman Al-Farisi berani mengambil resiko berpindah ke agama Kristen. Setelah beberapa kali berpindah mengabdi pada beberapa pendeta, dia ditunjuki ihwal keberadaan Nabi akhir zaman. Dan pertemuannya dengan Rasullah Saw, membuat Salman Al-Farisi berani mengambil resiko kedua kalinya untuk berpindah ke agama Islam.
Thariqah adalah wadah pengajaran tashawwuf yang menuntun pemanifestasian-nya melalui ujian-ujian kehidupan. Adapun yang dimaksud dengan syariat adalah Al-Islam, yaitu syariat lahir yang lebih dikenal sebagai rukun Islam. Antara syariat dan tashawwuf (keihsanan) tidak boleh dipisahkan, sedangkan thariqah-sebagai manifestasi lahiriah tashawwuf-adalah perbuatan (af'al) Rasulullah Saw dalam kehidupan dunia, yang tiada lain merupakan syariat juga. Apabila syariat adalah permulaan thariqah, maka thariqah adalah permulaan haqiqat. Namun, bukan berarti yang sebelumnya sudah tidak berlaku lagi untuk tahap berikutnya, atau bahkan ditinggalkan begitu saja. Sebagaimana dikatakan oleh Hamzah Fansuri, awal dari thariqah itu adalah taubat.
Dan sesungguhnya telah Kami wahyukan kepada Musa: "Pergilah kamu dengan hamba-hamba-Ku di malam hari, maka buatlah untuk mereka thariqah yang kering dalam laut itu, kamu tak usah khawatir akan tersusul dan tidak usah takut." (QS Thâhâ [20]: 77)
Thariqah adalah jalan kering dalam lautan, perjalanan seseorang menuju Tuhannya di muka bumi ini tanpa terbasahi oleh lautan duniawi. Tak ubahnya seperti ikan yang hidup di laut asin, tapi tidak menjadi asin karenanya. Thariqah bukanlah berarti seseorang itu harus hidup dengan mengabaikan dunia dan miskin. Manusia tidak mungkin bisa mencapai tingkatan ma'rifat, yaitu mengenal Tuhannya, menemukan diri sejati serta misi hidupnya, dengan cara menjauhkan diri dan tidak bergaul dengan masyarakat serta tidak berikhtiar untuk penghidupannya dan menghargai syariat. Seseorang boleh saja kaya raya, seperti Nabi Sulaiman, tapi tidak boleh mengisi hatinya dengan kecintaan terhadap dunia. Inilah yang disebut dengan zuhud.
Apakah seseorang bisa menempuh jalan suluk dengan meninggalkan syariat?
Nah, ini adalah hal yang mustahil. Jalan tasawuf adalah jalan seseorang untuk mulai belajar bersyariat secara batiniyah. Dan ini hanya bisa ditempuh setelah seseorang melakukan syariat lahiriah. Mustahil mencapai tujuan tasawuf jika seseorang meninggalkan syariat lahiriyah. Ada sebuah kisah nyata yang menarik untuk kita perhatikan berikut ini.
Suatu ketika, mursyid sebuah thariqah di Jawa Barat pernah didatangi beberapa orang lelaki yang ingin bersilaturahmi. Sang Mursyid bertanya, "Dari mana kalian tahu rumah saya?" Mereka menjawab, "Kami bertanya pada orang-orang di masjid agung kota ini, kira-kira siapa ulama yang bisa kami kunjungi untuk bersilaturahmi. Mereka menunjukkan kami ke rumah Bapak."
Ternyata para lelaki itu telah sekian bulan selalu berpindah-pindah, tinggal dari satu masjid ke masjid lainnya. Sang Mursyid bertanya, "Apa yang kalian lakukan dengan tinggal di masjid-masjid seperti itu?"
Mereka menjawab, "Kami mencari Allah, pak." Sang Mursyid kembali bertanya, "Apakah kalian punya anak dan istri?" Mereka menjawab, "Punya pak?" Dengan keheranan sang Mursyid bertanya lagi, "Lantas bagaimana dengan anak istri kalian? Siapa yang merawat dan menafkahinya?" Mereka menjawab, "Kami telah tawakalkan kepada Allah, pak."
Maka sang Mursyid berkata, "Bermimpi kalian ini. Bermimpi kalau kalian ingin mencari Allah sementara syariat lahir kalian abaikan. Secara syariat kalian diwajibkan untuk menafkahi istri, mendidik dan merawat anak, dan berbagai kewajiban lainnya sebagai ayah dan suami yang seharusnya ditunaikan. Kalian itu bermimpi kalau mencari Allah Ta'ala, sementara syariat lahir diabaikan."
Adapun thariqah itu sendiri mempunyai mempunyai tiga tujuan. Dua tujuan yang pertama adalah mendapatkan dua rahmat dari Allah.
Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan berimanlah kepada Rasul-Nya, niscaya Allah memberikan rahmat-Nya kepadamu dua bagian, dan menjadikan untukmu cahaya yang dengan cahaya itu kamu dapat berjalan dan Dia mengampuni kamu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS Al-Hadid [57]: 28)
Tujuan pertama thariqah adalah mendapatkan rahmat pertama, yaitu cahaya iman dan kesucian bayi seperti pertama kali lahir. Suatu keadaan ketika manusia belum lagi menumpuk dosa. Keadaan ini dinamakan juga dengan al-muththaharûn.
Tujuan kedua dari thariqah adalah mendapatkan rahmat kedua, yaitu berupa Ruhul Quds yang akan mengingatkan manusia ihwal misi hidupnya, mengingatkan ihwal perjanjian primordial dengan Allah Ta'ala (QS Al-A'raf [7]: 172) dan membimbingnya dalam menjalankan misi hidup tersebut.
Tahap inilah yang dinamakan sebagai ma'rifat, tahap ketika seseorang setelah mengenal nafs-nya, maka akan mengenal Rabb-nya (tingkatan syuhada).
Sedang tujuan ketiga dari thariqah adalah menjadi hamba-Nya yang didekatkan (qarib). Fungsi mursyid adalah membimbing saliknya hingga sampai pada tujuan kedua dari thariqah, yaitu menjadi syuhada. Setelah itu, yang akan berperan sebagai mursyid adalah Ruhul Quds-nya sendiri untuk ber-dharma sebagai shiddiqiin.
Thariqah merupakan perjalanan kembali kepada Allah untuk menemukan diri sejati dan misi hidup tiap-tiap individu. Namun, perjalanan kembali kepada Allah mewajibkan berbagai ujian berat yang harus dilalui, hingga nafs manusia ditempa menjadi kuat. Tak ubahnya, api yang membakar logam hingga merah membara agar dapat dibentuk menjadi sesuatu yang berguna.
Dengan tempaan ujian tersebut, sang hamba akan siap menerima amanah berupa misi hidup dalam posisi percaya dan dipercaya.
Melalui jalan suluk, seorang murid juga akan belajar untuk memperoleh ketenangan. Berbeda dengan anggapan umum bahwa ketenangan adalah hidup menjadi tentram dan tenang, ketenangan dalam tashawwuf adalah tidak goyahnya hati dalam menghadapi setiap permasalahan yang datang, menyambut masalah dan ujian sebagai jubah keagungan. Ujian itu hukumnya wajib bagi para salik yang berjalan mencari Allah Ta'ala.
Ketenangan hidup yang semu, sebagaimana yang diinginkan banyak orang awam dalam ber-tashawwuf, bagi para sufi lebih merupakan isyarat bahwa Allah Ta'ala tidak lagi peduli. Ketenangan dan hidup adem ayem, lancar dan tenang tanpa masalah merupakan isyarat bahwa Allah membiarkan seseorang hanya mendapatkan bagian di dunia saja, namun tidak di akhirat nanti.
Ketenangan hidup yang semu ini justru membuat seseorang menjadi tidak lagi memiliki stimulus untuk merenung, tidak merasa membutuhkan Allah, dan statis.
Sayangnya, saat ini banyak sekali ungkapan yang menyatakan bahwa kegunaan untuk mempelajari tashawwuf adalah untuk mendapatkan ketenangan dan terapi bagi berbagai masalah kehidupan sehari-hari. Padahal, sejak dulu tashawwuf adalah jalan yang mewajibkan adanya ujian dalam setiap detik kehidupan. Para pengikutnya akan disucikan dan dibersihkan.
Suatu ketika, saat sedang makan siang, seorang salik bertanya kepada mursyidnya, "Pak, apakah tetangga di sekitar ini tahu bahwa Bapak adalah mursyid?" Beliau menjawab, "Ya, mereka tahu. Bahkan banyak di antara mereka yang datang kepada saya." Kemudian salik itu bertanya kembali, "Lalu mengapa mereka tidak berguru pada Bapak?" Beliau menjawab, "Karena saya mengatakan kepada mereka, bahwa apabila kalian mau menjadi murid-murid saya maka kalian harus siap-siap dibersihkan. Harta-harta yang kalian dapatkan dengan cara yang tidak halal akan dihilangkan dari kalian. Ternyata mereka pun kemudian malah ketakutan dan mundur dengan sendirinya."
Setelah membaca pracetak buku Guru Sejati dan Muridnya, melalui pemaparannya dalam buku ini, pembaca bisa melihat bagaimana Allah Ta'ala membuat seorang sufi buta huruf dari pedalaman Sri Lanka memiliki ilmu sedalam ini. Hal ini menunjukkan bahwa rasionalitas hanyalah salah satu jalan saja-dan bukan yang teristimewa-untuk langkah awal mempelajari dunia tashawwuf. Selain itu, ini yang paling menarik, bahwa setelah Bawa Muhaiyaddeen hijrah ke Amerika, kebanyakan muridnya justru adalah orang kulit putih, yang secara umum dicap sebagai masyarakat paling rasional di muka bumi ini.
Wallahu'alam bishawwab. []
Catatan Akhir:
1 Puisi Jalaluddin Rumi, "Chickpea to Cook," dalam Barks, Coleman
(trans.) "The Essential Rumi". Castle Books, 1997. Dalam tulisan ini,
puisi ini diterjemahkan oleh Herry Mardian.
2 Miranda Risang Ayu, "Mencari Tuhan", Basis, nomor 03-04, tahun ke-55,
Maret-April 2006, hlm. 31, 34.
3 Haidar Bagir, Buku Saku Tasawuf, Bandung: Mizan, April 2005, hlm.
178,
183-184.
4 Muhammad Al-Bagir, Mutiara Nahjul Balaghah: Wacana dan Surat-surat
Imam
Ali R.A., Bandung: Mizan, cetakan ketiga, 1994, hlm. 130.
5 Nicholson, Reynold A., Jalaluddin Rumi: Ajaran dan Pengalaman Sufi,
Jakarta: Pustaka Firdaus, cet. 2, 1996, hlm. 30.
Selasa, November 03, 2009
Untung Dia Yang Pincang, Bukan Aku...!
Orang-orang yang berhaji adalah para tamu Allah. Sebagai tuan rumah yang baik tentu Allah akan ‘menampakkan diri’ untuk menyambut para tetamunya. Bukan penampakan diri secara lahiriah, tapi penampakan diri dengan memperlihatkan ayat-ayat-Nya.Ayat adalah tanda, ada tanda-tanda yang menunjukkan keberadaan diri-Nya, ada tanda-tanda yang menunjukkan kekuasaan-Nya, kecerdasan-Nya, kehidupan-Nya atau juga ke-Maha-Kuasaan-Nya. Di antara ayat-ayat yang sering Allah pertontonkan kepada para tetamu-Nya adalah ayat tentang kekuasaan-Nya mengendalikan response time, jarak waktu antara sebab dan akibat.
Kita tahu, ketika kita berbuat jahat maka perbuatan itu akan menjadi sebab bagi munculnya akibat jahat di belakang hari. Begitu juga ketika kita berbuat baik maka kebaikan itu akan menjadi sebab bagi munculnya kebaikan di kemudian hari. Hanya saja perbedaan waktu antara dilakukannya sebab dan munculnya akibat dapat sedemikian lama, sehingga ketika muncul suatu kejahatan kita sudah tidak ingat lagi bahwa itu adalah akibat dari kejahatan yang kita buat di masa lalu. Begitu juga, karena akibat-akibat kebaikan yang kita buat dapat terjadi jauh di kemudian hari maka kita kadang kurang merasa yakin dengan kebaikan yang semestinya kita lakukan. Kita jadi kurang termotivasi untuk melakukan kebaikan. Nah, ini berbeda dengan saat kita berada di tanah suci.
Di tanah suci Allah sering mempertontonkan kekuasaan-Nya mempermainkan response time. Jarak waktu antara munculnya suatu akibat dengan dilakukannya suatu sebab dapat dibuat-Nya panjang, dapat juga dibuat-Nya cepat.
Pelaksanaan haji tahun 1994 jatuh di musim panas. Pondokan kami (penulis) terletak di Misfalah ujung, dua kilometer jauhnya dari Masjidil Haram. Untuk mencapai Masjidil Haram kami harus berjalan kaki lebih dari setengah jam, melewati pasar yang ramai dan jalan-jalan yang panas berdebu. Apalagi kalau mau mendapatkan tempat di bagian dalam masjid, maka kami harus sudah berangkat dari pondokan dua jam sebelum waktu shalat.
Suatu hari menjelang shalat Zhuhur, saat suhu udara meningkat lebih dari 450 Celcius, kami menyusuri jalan dengan menahan tenggorokan yang tercekat debu panas. Merunduk di bawah payung yang seakan menjadi ornamen kesia-siaan, karena payung hanya menahan cahaya matahari sedangkan hawa panas tetap menyerang dari sekeliling, kami melihat seorang negro Afrika berjalan tertatih-tatih dengan kaki yang pincang. Seorang teman di sebelah kami bergumam dalam batin, sebagaimana dia ceritakan kelak: “Uh, bagaimana rasanya tuh jalan ke masjid yang jauh dengan kaki yang pincang. Mana pula udara panas menyengat macam ini. Untung dia yang pincang, bukan aku…”Tiba-tiba entah dari mana datangnya lubang itu. Mungkin juga itu lubang riol saluran air yang sudah lama tidak terurus. Atau mungkin juga lubang itu baru muncul. Yang jelas kaki kawan saya yang bergumam terperosok kedalam lubang, terjerembab di air comberan yang hitam dan berbau busuk. Setelah itu ia berjalan terpincang-pincang karena pergelangan kakinya terkilir. Ia berjalan sambil menangis dan meratap: “Ya, Allah… barangkali si negro tadi pincangnya sudah sejak kecil, sehingga kaki pincang itu bukan lagi kendala baginya. Tapi aku nih…, yang barusan keseleo, berasa payah sekali berjalan dengan terpincang-pincang di bawah udara yang panas terik. Ampuni aku ya Allah, tak lagi-lagi aku melecehkan orang yang cacat. Maafkan aku ya Allah, sudah kurasakan azab-Mu yang kontan…”.
Sumber : www.qalbu.net
Kamis, Juni 25, 2009
Rabu, Juni 03, 2009
Kasih Sayang Sang Insan Kamil
Di sudut pasar Madinah ada seorang pengemis Yahudi buta yang setiap harinya selalu berkata kepada setiap orang yang mendekatinya, "Wahai saudaraku, jangan dekati Muhammad, dia itu orang gila, dia itu pembohong, dia itu tukang sihir, apabila kalian mendekatinya maka kalian akan dipengaruhinya".Namun, setiap pagi Muhammad Rasulullah SAW mendatanginya dengan membawakan makanan, dan tanpa berucap sepatah kata pun Rasulullah SAW menyuapkan makanan yang dibawanya kepada pengemis itu sedangkan pengemis itu tidak mengetahui bahwa yang menyuapinya itu adalah Rasulullah SAW. Rasulullah SAW melakukan hal ini setiap hari sampai beliau wafat.
Setelah wafatnya Rasulullah SAW, tidak ada lagi orang yang membawakan makanan setiap pagi kepada pengemis Yahudi buta itu. Suatu hari sahabat terdekat Rasulullah SAW yakni Abubakar RA berkunjung ke rumah anaknya Aisyah RA yang tidak lain tidak bukan merupakan isteri Rasulullah SAW dan beliau bertanya kepada anaknya itu, “Anakku, adakah kebiasaan kekasihku yang belum aku kerjakan?”
Aisyah RA menjawab, “Wahai ayah, engkau adalah seorang ahli sunnah dan hampir tidak ada satu kebiasaannya pun yang belum ayah lakukan kecuali satu saja.”
“Apakah Itu?”, tanya Abubakar RA.
“Setiap pagi Rasulullah SAW selalu pergi ke ujung pasar dengan membawakan makanan untuk seorang pengemis Yahudi buta yang ada disana”, kata Aisyah RA.
Keesokan harinya Abubakar RA pergi ke pasar dengan membawa makanan untuk diberikan kepada pengemis itu. Abubakar RA mendatangi pengemis itu lalu memberikan makanan itu kepadanya. Ketika Abubakar RA mulai menyuapinya, sipengemis marah sambil menghardik, “Siapakah kamu?!”
Abubakar RA menjawab, “Aku orang yang biasa (mendatangi engkau)”.
“Bukan! Engkau bukan orang yang biasa mendatangiku!”, bantah si pengemis buta itu.
“Apabila ia datang kepadaku tidak susah tangan ini memegang dan tidak susah mulut ini mengunyah. Orang yang biasa mendatangiku itu selalu menyuapiku, tapi terlebih dahulu dihaluskannya makanan tersebut, setelah itu ia berikan padaku”, pengemis itu melanjutkan perkataannya.
Abubakar RA tidak dapat menahan air matanya, ia menangis sambil berkata kepada pengemis itu, “Aku memang bukan orang yang biasa datang padamu. Aku adalah salah seorang dari sahabatnya, orang yang mulia itu telah tiada. Ia adalah Muhammad Rasulullah SAW.”
Seketika itu juga pengemis itu pun menangis mendengar penjelasan Abubakar RA, dan kemudian berkata, “Benarkah demikian? Selama ini aku selalu menghinanya, memfitnahnya, ia tidak pernah memarahiku sedikitpun, ia mendatangiku dengan membawa makanan setiap pagi, ia begitu mulia…. “
Pengemis Yahudi buta tersebut akhirnya bersyahadat di hadapan Abubakar RA saat itu juga dan sejak hari itu menjadi muslim.
Rabu, Mei 06, 2009
Ujian dan Pembelaan
Syekh Abdul Qadir Al Jailani qsa berkata :Aku belajar pada banyak guru di Bagdad. Namun, setiap kali aku tak dapat memahami sesuatu atau ingin mengetahui suatu rahasia, Syekh Hammad memberiku penjelasan. Kadang-kadang aku memintanya mencari ilmu dari ulama lain – mengenai akidah, hadits, fiqh dan lain-lain.
Setiap kali aku pulang ke Padepokan, ia selalu bertanya, ”Kemana saja Kau? Selama kepergianmu, kami dapatkan makanan yang sangat lezat bagi tubuh, akal serta ruhani dan tak sedikitpun yang kami sisakan untukmu.”
Di saat lain, ia berkata, “Demi Allah, darimana saja? Adakah orang lain di sini yang lebih tahu daripada engkau?”
Murid-muridnya selalu mengusikku dengan mengatakan, “Kau adalah ahli fiqh, mahir menulis, dan ahli ilmu. Mengapa kau tidak keluar saja dari sini?”Syekh menegur dan menenangkan mereka, “Sungguh memalukan! Aku bersumpah, tak ada di antara kalian yang seperti dia. Tak ada seorang pun di antara kalian yang lebih tinggi dari tumitnya! Jika kalian kira bahwa aku iri kepadanya dan kalian mendukungku, ketahuilah bahwa aku justru akan mengujinya dan mengantarkannya kepada kesempurnaan, di alam ruhani, kedudukannya seperti batu sebesar gunung.”
#Syekh Tosun Bayrak, Mengenal Sang Sultan Aulia
The Secret of Secrets, Hakikat Segala Rahasia Kehidupan, Syekh Abdul Qadir Al Jailani
Diterjemahkan oleh : Zaimul Am
PT. Serambi Ilmu Semesta Cetakan I Rabiul akhir 1429 H/April 2008#
Rabu, April 15, 2009
Keutamaan Memandang Wajah Ulama
Mata yang memandang mempunyai pengaruh kuat dan berdampak signifikan terhadap aktivitas batiniyyah kita. Begitu kuatnya pengaruh itu sehingga mempengaruhi kekhusyu’an seseorang untuk beribadah kepada Allah Ta’ala. Syekh Thahir bin Saleh Al-Jazairi dalam kitabnya: Jawahirul Kalamiyah menguraikan sebuah permasalahan:
‘Bagaimana mata mempunyai pengaruh, padahal mata itu hanya termasuk bagian badan manusia yang lembut dan tidak ada hubungannya dengan sesuatu yang dilihat, dan tidak ada sesuatu yang keluar dari mata itu yang berhubungan dengan sesuatu yang dilihat?’
Maka dijawab bahwa tidak ada yang menghalangi jika sesuatu yang lembut itu mempunyai pengaruh yang kuat, dan tidak diisyaratkan bahwa adanya pengaruh itu harus ada hubungannya, karena sesungguhnya kita lihat sebagian manusia yang mempunyai kewibawaan dan kekuasaan bila melihat kepada seseorang dengan pandangan yang mengandung amarah, kadang-kadang menyebabkan yang dipandang itu ketakutan dan gemetar, malah bisa menyebabkan kematiannya. Padahal pada lahirnya ia tidak memasukkan sesuatu pada yang dilihatnya dan tidak terjadi antara yang mempengaruhi dan yang dipengaruhi hubungan ataupun sentuhan.
Kalau magnet mempunyai kekuatan dapat menarik besi padahal tidak ada hubungan antara magnet dan besi yang ditariknya itu dan tidak keluar sesuatu yang dapat menyebabkan menariknya itu. Bahkan benda-benda yang lembut lebih besar pengaruhnya daripada benda-benda yang kasar. Karena sesungguhnya perkara-perkara yang besar adalah timbul dari kuatnya kehendak dan niat, sedangkan kehendak dan niat itu termasuk hal yang tidak tampak. Maka tidak mengherankan kalau mata mempunyai pengaruh terhadap yang dipandangnya sekalipun mata itu sangat lembut, dan tidak ada hubungan atau sesuatu yang keluar dari mata itu.
Kekuatan dan kecepatan pengaruh mata dalam memandang telah disinggung oleh Nabi SAW dalam suatu riwayat dari Ibnu Abbas Ra.:
“Pandangan mata adalah suatu kebenaran. Jika ada sesuatu yang dapat mendahului taqdir (ketetapan Allah), maka sungguh pandangan mata akan mendahuluinya”. (HR. Muslim).
Karena itulah mata bisa membahayakan, seperti hipnotis, dll. dan Nabi SAW mengajarkan kepada kita suatu do’a:
“Aku berlindung dengan kalimat Allah yang sempurna dari setiap syetan, binatang buas, dan pandangan mata yang membahayakan”.
Sari As-Saqathi Rhm. berkata: “Lidahmu adalah penyambung dari hatimu, dan wajahmu adalah cermin darinya. Pada wajahmu ditemukan apa yang ada di dalam hatimu”.[1]
Ketika anak-anak Ya’qub ingin pergi ke Mesir, menemui Yusuf As. yang ketika itu sudah menjadi Perdana Menteri, Ya’qub As. menasehati mereka: “Hai anak-anakku, janganlah kamu bersama-sama masuk dari satu pintu gerbang, masuklah dari pintu-pintu gerbang yang berlainan!” (QS. Yusuf[17]: 67)
Qatadah mengatakan bahwa Ya’qub As. mengkhawatirkan mereka dari bahaya pandangan (Al-‘Ain) orang-orang yang melihat mereka karena anak-anak Ya’qub As. tergolong orang-orang yang tampan dan berpenampilan menarik. Demikianlah Al-Quran mengisahkan tentang isyarat kuatnya pengaruh pandangan terhadap sesuatu yang diinginkan, yang dipahami oleh sebagian orang tertentu yang diberikan pengetahuan tentangnya.Keutamaan pandangan kepada wajah seorang Ulama banyak sekali, di antaranya sebagaimana disabdakan oleh Nabi SAW:
“Barang siapa memandang kepada wajah orang Alim sekali dengan pandangan yang senang, niscaya Allah menjadikan pandangan tersebut malaikat yang memintakan ampun baginya hingga hari kiamat”. [2]
Imam Al-Hafizh Al-Mundziri meriwayatkan sebuah hadits dari 40 hadits berkenaan dengan keutamaan menuntut ilmu, yakni bersabda Rasulullah SAW:
“Pandangan sekali kepada orang Alim lebih Allah cintai daripada ibadah 60 tahun, berpuasa siang harinya dan berdiri ibadah pada malamnya”.
Kemudian sabda beliau SAW: “Jika tiada Ulama niscaya binasa (celaka)lah umatku”.
Hadits tersebut menunjukkan betapa besarnya keutamaan memandang wajah orang Alim secara lahiriyyah, dikarenakan seseorang yang melakukannya akan mendapat pengaruh kekhusyu’an dan ketenangan hati sehingga mendorongnya kepada Hubbul Akhirah.
Tidak semua Ulama dikategorikan seperti makna hadits di atas, karena kata ‘Ulama’ menggunakan Isim Makrifah (Al-’Ulamaa-u), yang menandakan ketertentuan/kekhususan. Tentunya Ulama yang dimaksud di sini adalah Ulama yang telah mencapai kemakrifatan yang Hakiki, dimana pancaran jiwanya mampu melenyapkan sekat-sekat yang menutupi hati.
Maka Rabithah, yakni memandang wajah Syekh dengan mata hati lebih diutamakan dan memiliki tempat yang khusus di kalangan Ahli-ahli Thariqat, sebagai penyatuan ruhaniyah seorang murid yang dhaif lagi faqir, dengan Syekhnya yang kamil menuju Hadhrat Allah Ta’ala.
Di dalam sebuah hadits dikatakan bahwa ada sebagian ahli dzikir yang dapat menyebabkan orang lain ingat kepada Allah. Yakni dengan memandang wajahnya saja, membuat mereka teringat untuk dzikrullah. Hadits lain menyebutkan bahwa ‘Sebaik-baik orang di antara kamu ialah seseorang yang apabila orang lain memandang wajahnya, maka ia ingat kepada Allah, jika mendengar ucapannya maka bertambah ilmunya, dan jika melihat amal perbuatannya maka tertariklah pada akhirat’.[3]
Atas dasar hadits ini para pembimbing dzikir (Syekh Shufi) terdahulu sangat menganjurkan untuk senantiasa mengenang wajah Syekhnya sebagai alat untuk mempermudah dzikir (ingat) kepada Allah SWT, dan yang demikian itu akan membuat dirinya tenggelam dalam lautan mahabbah dzikir-Nya.
Berkata Syekh Mushthafa Al-Bakri Rahimahullaahu Ta’ala:
“Dan di antara apa yang diwajibkan atas seorang murid adalah rabithah hatinya dengan Gurunya dan maknanya bahwa murid senantiasa mengekalkan atas penyaksian akan rupa Syekhnya. Inilah merupakan syarat yang dianjurkan bagi kaum Shufi yang mewariskan kepada maqam makrifat yang tinggi”. (Hidayatus Salikin)
(Dikutip dari Buku ‘DZIKIR QUR’ANI, mengingat Allah sesuai dengan fitrah manusia’)
[1] Dr. Javad Nurbakhsy, Psikologi Sufi Pustaka Fajar, (Terj. Del wa Nafs).
[2] Siyarus Salikin, Abd. Shomad Palembani.
[3] Fadhail A’mal (edisi revisi), hal. 154, Maulana M. Zakariyya Al-Kandhalawi Ra.
Jumat, Januari 30, 2009
Harapan Kosong Murid
Seiring dengan semakin meluasnya pengaruh Hadhrah SYEKH ABDUL QADIR AL JAILANI Q.S. ke seluruh dunia, banyak muridnya yang meraih kedudukan penting dan banyak penguasa yang menjadi muridnya. Ia menugaskan sebagian muridnya untuk menjadi wakilnya yang sesuai dengan kemampuan, kualitas batin dan tingkatan ruhaniah masing-masing. Sebagian mereka diangkat sebagai guru ruhani dan sebagian lainnya menjadi hakim. Bahkan, tidak sedikit yang diangkat menjadi gubernur dan raja.
Dikisahkan, bahwa ada seorang fakir yang telah mengabdi sebagai pembantu di rumah SYEKH ABDUL QADIR AL JAILANI Q.S. selama empat puluh tahun. Selama itu, ia telah menyaksikan beberapa murid yang jauh lebih muda darinya dan yang belum lama mengabdi, telah ditunjuk syekh untuk menempati jabatan penting. Suatu hari, ia menghadap SYEKH ABDUL QADIR AL JAILANI Q.S. dan mengajukan permohonan. Ia telah mengabdi kepada Syekh selama bertahun-tahun dan kini usianya semakin tua. Mengapa ia belum juga ditunjuk menempati pos penting seperti murid yang lain?
Belum lagi ia tuntas menyampaikan maksudnya, satu utusan dari India tiba. Mereka ingin agar Syekh menunjuk seorang maharaja bagi kerajaan mereka. Syekh menatap pembantunya itu dan berkata, “Apakah kau menyukai jabatan ini? Apakah kau merasa memenuhi syarat?" Pelayan itu mengangguk kegirangan.Ketika para utusan itu keluar rumah, Syekh berkata kepada pembantunya, “Aku akan mengangkatmu sebagai raja di sana dengan syarat kau harus berjanji untuk memberikan kepadaku separuh dari keuntungan dan kekayaan yang kau peroleh selama berkuasa.” Tentu saja pelayan itu menyanggupinya.
Orang tua itu bekerja di rumah Syekh sebagai juru masak. Hari itu, ia harus mengaduk hidangan yang akan disajikan. Setelah berbicara dengan Syekh, ia kembali ke dapur untuk mengaduk masakan itu di sebuah kuali raksasa dengan sendok kayu. Di tengah pekerjaannya itu, ia dipanggil untuk pergi bersama utusan itu ke India sebagai raja mereka.
Di negeri itu, ia dinobatkan sebagai raja. Ia dapatkan kekayaan berlimpah. Ia bangun banyak istana untuk dirinya sendiri, ia menikah dan punya seorang anak laki-laki. Ia sepenuhnya telah melupakan Syekh dan janji yang diucapkannya.
Pada suatu hari, ia menerima pesan SYEKH ABDUL QADIR AL JAILANI Q.S. akan datang mengunjunginya. Ia bersiap-siap menyambut kedatangannya. Setelah upacara, prosesi dan pesta yang megah, mereka berbincang berdua. Syekh mengingatkan kesepakatan mereka; yaitu bahwa ia harus memberikan separuh dari semua keuntungan yang dikumpulkannya selama berkuasa. Maharaja itu jengkel ketika diingatkan akan janjinya. Kendati demikian, ia berjanji bahwa esok lusa ia akan menyerahkan separuh dari semua kekayaannya kepada Syekh.
Keserakahan – yang terus bertambah seiring bertambahnya kekayaannya—tak membiarkannya membuat daftar kekayaan dengan jujur. Tepat pada hari yang telah direncanakan, ia membawa daftar kekayaan itu dan menyerahkannya kepada Syekh. Meski daftar itu mencantumkan banyak istana dan kekayaan, semua itu hanyalah sebagian kecil dari kekayaan yang sesungguhnya.
SYEKH ABDUL QADIR AL JAILANI Q.S. tampak puas dengan bagian yang diperolehnya. Lalu ia berkata, “Kudengar kau juga memiliki seorang anak laki-laki.”
“Ya, sayangnya cuma seorang. Sekiranya ada dua, tentu akan kuberikan salah seorang kepadamu.”
“Tidak apa-apa, bawalah anak itu,” tukas Syekh, “Kita tetap dapat membaginya.”
Anak itu dibawa ke hadapan mereka. Syekh menghunus pedangnya yang tajam tepat di atas bagian tengah kepala anak itu. “Kau akan mendapatkan separuh dan separuhnya lagi menjadi bagianku!” katanya.
Sang ayah, yang ketakutan menghunus belatinya dan dengan kedua tangannya ditusukkan ke dada Syekh. Ia lakukan itu dengan mata terpejam. Ketika membuka matanya, ia sedang mengaduk makanan di kuali besar dengan sendok kayu. Hadhrah SYEKH ABDUL QADIR AL JAILANI Q.S. menatapnya dan berkata, “Seperti kau lihat sendiri, kau belum siap menjadi wakilku. Kau belum memberikan segalanya, termasuk dirimu, kepadaku.”
Syekh Tosun Bayrak, Mengenal Sang Sultan Aulia
The Secret of Secrets, Hakikat Segala Rahasia Kehidupan, Syekh Abdul Qadir Al Jailani
Diterjemahkan oleh : Zaimul Am
PT. Serambi Ilmu Semesta Cetakan I Rabiul akhir 1429 H/April 2008
Kamis, Januari 29, 2009
Murid dan Murad
Diriwayatkan oleh Anas, Rasulullah SAW telah mengatakan: “Jika Allah menghendaki kebaikan bagi seorang hamba, maka dia akan memanfaatkannya.”
Seseorang bertanya, “Bagaimana dia memanfaatkannya, wahai Rasulullah?
Rasul menjawab, “Dia akan menganugerahinya keberhasilan dalam melaksanakan amal kebajikan sebelum mati.”
Kehendak (iradah) adalah permulaan jalan para penempuh dan nama tahapan (maqam) yang pertama dari mereka yang menempuh jalan menuju Allah SWT. Sifat ini disebut kehendak (iradah) hanya karena kehendak mendahului setiap masalah sedemikian rupa sehingga jika seorang hamba tidak menghendaki sesuatu, dia tidak akan melakukannya.
Manakala hal ini terjadi di awal jalan, ia dinamai “kehendak” dengan dikiaskan kepada niat yang mendahului semua persoalan. Seorang ‘murid’ dinamai demikian karena ia mempunyai ‘iradah’ (kehendak), sebagaimana seorang ‘alim disebut demikian karena dia mempunyai ‘ilm (ilmu). Kedua kata ini (murid dan ‘alim) berasal dari fi’il mabni maf’ul (kata kerja lampau bentuk aktif) arada (menghendaki) dan ‘alima (mengetahui).
Orang banyak telah berbicara tentang makna kehendak, masing-masing mengungkapkan isi hatinya sendiri. Kebanyakan syekh menjelaskan, “Iradah adalah berpisah dari praktek-praktek yang menjadi kebiasaan.” Kebiasaan kebanyakan orang adalah tetap dalam kelalaian, cenderung kepada ajakan instink dan tetap berada dalam lingkungan hawa nafsu. Tetapi seorang murid (hamba yang sedang meniti jalan menuju Allah) terlepas dari semua itu. Keterlepasannya itu sendiri merupakan bukti sehatnya kehendaknya. Maka keadaannya itu disebut iradah, karena ia terlepas dari praktek-praktek kebiasaan (orang-orang masa kini bilang : ‘terbebas dari comfort zone (zona nyaman.ed)’).Hakekat kehendak adalah bahwa ia merupakan gerakan yang resah di dalam hati nurani dalam mencari Allah. Karena alasan ini dikatakan, “Iradah adalah keterpesonaan yang menyakitkan, yang membuat setiap rasa takut menjadi remeh”. Imam Al Qusyairi mendengar dari gurunya, Syekh Abu ‘Ali ad-Daqaq menyatakan : “Iradah adalah keterpesonaan yang menyakitkan, sengatan dalam hati nurani, hasrat yang membara dalam indera intuisi, keinginan yang menyala-nyala dalam batin dan api yang membakar dalam qalbu”.
Seorang murid tidak akan pernah kendor dalam kehendaknya baik siang ataupun malam. Dia berjuang keras secara lahiriah, sementara dalam batinnya dia menderita. Dia meninggalkan tempat tidurnya, batinnya sibuk sepanjang waktu, dia menanggung kesulitan hidup, dia memikul beban, dia mengembangkan sikap-sikap akhlak yang baik, dia memeluk ketakutan.
Diantara tanda-tanda seorang murid adalah bahwa dia senang melaksanakan shalat sunah, tulus dalam mendokan kebaikan bagi ummat, terpaut pada situasi yang penuh ketenangan, sabar dan tabah dalam memenuhi ketentuan agama, memberikan sedekah dengan penuh kemurahan hati sesuai dengan perintah-Nya, memiliki rasa malu di hadapan-Nya, rajin mengerjakan apa yang disenangi-Nya, mengerjakan apa saja yang bisa membawa kepada-Nya, puas dengan tidak disebut-sebutnya namanya sendiri dan dia selalu mengalami kegelisahan dalam hati nuraninya sampai dia mencapai Tuhannya.
Syekh Abu ‘Ali ad-Daqaq selanjutnya berkata : “Seorang murid, tidak bisa disebut murid sampai malaikat di pundak kirinya menganggur (tidak mencatat amal buruknya, ed.) selama duapuluh tahun.”
Seseorang bertanya kepada Al Junayd, “Apakah baik bagi seorang murid untuk mendengarkan cerita-cerita shaleh?”
Al Junayd menjawab, “Cerita-cerita shaleh adalah salah satu tentara Allah dan qalbu manusia dikuatkan olehnya.
Dia ditanya lagi, “Adakah dalil yang mendukung ucapanmu itu?”
Al Junayd menegaskan, “Ya, dalilnya adalah firman Allah SWT : Dan semua kisah dari rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya kami teguhkan hati nurani (fuad)mu (QS Huud, 11:120)”
Tingkatan yang lebih tinggi setelah murid adalah murad. Murid adalah orang yang berkehendak sedangkan murad adalah obyek kehendak. Dapat dikatakan bahwa setiap murid sesunguhnya adalah murad. Jika dia bukan murad (yang dikendaki) Allah SWT, niscaya dia tidak akan menjadi murid, sebab tak ada sesuatu pun yang bisa terjadi kecuali dengan kehendak Allah. Selanjutnya setiap murad adalah juga murid, sebab jika Allah menghendakinya secara khusus, Dia akan menganugerahinya keberhasilan dalam memiliki kehendak (terhadap-Nya).Cara Allah memperlakukan mereka yang menempuh Jalan-Nya beraneka ragam.
1. Kebanyakan mereka mencapai keberhasilan dalam berjuang dan setelah mengalami kesulitan yang berkepanjangan, mencapai kebenaran hakiki yang agung.
2. Ada juga diantara mereka yang diperlihatkan keagungan kebenaran hakiki pada awalnya, mencapai apa yang belum dicapai oleh mereka yang mengerjakan banyak latihan spiritual.
Tetapi sebagian besar dari mereka yang disebut pertama kembali lagi dan berjuang mengikuti mereka yang disebut belakangan agar memperoleh manfaat-manfaat latihan spiritual yang tidak mereka peroleh sebelumnya.
Al Junayd berkata, murid dikendalikan oleh aturan-aturan ketetapan-ketetapan ilmu para ulama, sedangkan murad dikendalikan oleh pemeliharaan dan perlindungan Allah.
Disadur dari Risalah Sufi al-Qusyayri,Syekh Abdul Karim ibn Hawazin al-Qusyayri, 1990
Selasa, Januari 27, 2009
Sarana Menuju Ghawts
Selama 25 tahun aku berkelana di padang sahara Irak. Aku tidur di reruntuhan bangunan. Selama dua belas tahun aku menyepi di sebuah reruntuhan kastil di sahara Syustar, yang berjarak dua belas hari perjalanan dari Bagdad. Aku berjanji kepada Tuhanku bahwa aku tidak akan makan atau minum sebelum meraih kesempurnaan ruhani.Pada hari keempat puluh, sesorang datang membawa setumpuk roti dan makanan kemudian meletakkannya di depanku, lalu ia menghilang. Tubuhku berteriak, “Aku lapar, aku lapar!” Nafsuku berbisik, “Janjimu telah kau tepati. Mangapa kau tidak makan?” Tetapi aku tidak melanggar sumpahku kepada Allah.
Secara kebetulan, Abu Sa’id al Muharrami lewat. Ia mendengar jeritan lapar tubuhku, meski aku tidak mendengarnya. Ia menghampiriku dan ketika melihat keadaanku yang lemah ia berkata, “Apa yang kulihat dan kudengar ini, wahai Abdul Qadir!”
“Jangan hiraukan, wahai sahabatku. Itu hanyalah suara hawa nafsu yang menentang dan tidak setia. Padahal, ruhaniku tunduk kepada Tuhannya dengan keadaan gembira, tenang dan bahagia.”
“Datanglah ke madrasahku di Bab al-‘Ajz,” pintanya. Aku tak menjawab, namun qalbuku berkata, “Aku takkan meninggalkan tempat ini hingga datang perintah Allah.”
Tak lama setelah itu, Khidir datang dan berkata, “Pergilah dan ikutlah bersama Abu Sa’id.”
Setelah menerima perintah itu, aku pergi ke Bagdad, ke madrasah Abu Sa’id dan mendapatinya tengah menungguku di depan pintu. “Aku telah memintamu untuk datang,” katanya. Lalu ia memberiku jubah darwis. Sejak saat itu, aku tak pernah meninggalkannya.
Selama 40 tahun aku tak pernah tidur malam. Aku shalat Shubuh dengan wudhu shalat tahajjudku. Aku membaca al-Qur’an setiap malam untuk menghilangkan kantuk. Aku berdiri dengan satu kaki dan bersandar ke dinding dengan satu tangan. Aku tak beranjak dari posisiku hingga khatam al-Qur’an.
Ketika rasa kantuk tak dapat kutahan, satu suara akan menyeru dan mengejutkan sekujur tubuhku, “Hai Abdul Qadir, Aku tidak menciptakanmu untuk tidur! Kau bukan apa-apa. Kuberikan kepadamu kehidupan. Karena itu, meskipun kau hidup, kau tidak mengenal Kami.”
Syekh Tosun Bayrak, Mengenal Sang Sultan Aulia
The Secret of Secrets, Hakikat Segala Rahasia Kehidupan, Syekh Abdul Qadir Al Jailani
Diterjemahkan oleh : Zaimul Am
PT. Serambi Ilmu Semesta Cetakan I Rabiul akhir 1429 H/April 2008
Jumat, Januari 23, 2009
Cinta Syekh Terhadap Pembencinya
Dikisahkan bahwa Abdul Shamad ibn Humam termasuk orang kaya di Bagdad. Ia dikenal sangat cinta dunia, dan sombong. Ia yakin bahwa ia telah memiliki dunia dan banyak orang yang bekerja kepadanya. Ia mengira dapat menguasai dan memerintah mereka untuk melakukan apa saja sesenang hatinya.Sebagai materialis sejati, terang-terangan ia tidak menyukai SYEKH ABDUL QADIR AL JAILANI Q.S. dan mengingkari karamahnya. Ia menuturkan pengalamannya berikut ini:Sebagaimana kalian ketahui, aku tak pernah menyukai Syekh. Meskipun kekayaanku berlimpah dan aku dapat memiliki apa pun yang kuinginkan, aku tak pernah merasa puas, senang atau tenang.
Pada suatu Jum’at, ketika lewat di dekat madrasahnya, aku mendengar adzan. Aku berkata dalam hati, “Apa sih keunggulan orang ini, yang telah menarik perhatian banyak orang melalui karamahnya? Aku akan ikut shalat Jum’at di masjidnya.”
Masjid itu telah penuh sesak. Aku merangsek menerobos kerumunan dan kuperoleh tampat persis di bawah mimbar. Syekh mulai menyampaikan khotbahnya dan apapun yang dikatakannya membuatku jengkel.
Tiba-tiba aku merasa mulas ingin buang hajat. Tetapi aku tak dapat keluar dari masjid. Aku takut dan sangat malu, karena rasa mulas itu tak dapat aku tahan. Perasaan jengkelku kepada syekh kian menjadi-jadi.
Namun, ketika aku dibasahi keringat dingin karena malu dan menahan mulas, pelan-pelan Syekh menuruni tangga mimbar dan berdiri di atasku. Seraya berkhutbah, ia menutupiku dengan bagian bawah jubahnya. Tiba-tiba saja aku telah berada di lembah yang hijau dan indah. Kulihat sebuah sungai kecil mengalirkan air yang jernih. Segera saja aku buang hajat lalu membersihkan diri dan berwudlu. Setelah itu, kudapati diriku kembali berada di bawah jubah Syekh. Ia pun naik ke atas mimbar.
Aku sangat takjub. Tidak hanya perutku yang merasa nyaman, hatiku pun merasa tenteram. Semua kejengkelan, amarah dan kekesalan sirna sudah.
Usai Shalat, aku keluar dari masjid dan pulang. Di tengah jalan, aku sadar bahwa kunci lemariku hilang. Aku kembali ke masjid dan mencarinya, namun tak kutemukan.
Keesokan harinya aku harus melakukan perjalanan niaga. Tiga hari perjalanan dari Bagdad, kami tiba di sebuah lembah yang sangat indah. Seakan-akan kami dituntun ke tepi sebuah sungai yang sangat jernih. Aku langsung teringat bahwa di sinilah aku buang hajat dan membersihkan diri. Kini, sekali lagi kubersihkan diri. Dan ternyata, disana kutemukan kembali kunci lemariku. Sekembalinya ke Bagdad, aku menjadi pengikut Syekh.Syekh Tosun Bayrak, Mengenal Sang Sultan Aulia
The Secret of Secrets, Hakikat Segala Rahasia Kehidupan, Syekh Abdul Qadir Al Jailani
Diterjemahkan oleh : Zaimul Am
PT. Serambi Ilmu Semesta Cetakan I Rabiul akhir 1429 H/April 2008
Kamis, Januari 22, 2009
Hakikat Istighfar
Di hadapan Khalifah ‘Ali bin Abi Thalib, seseorang mengucapkan , “Astaghfirullah” (saya memohon ampunan kepada Allah). Kemudian ‘Amirul Mukminin berkata kepadanya, “Ibu Anda boleh menangisi Anda. Anda tak tahu apa-apa makna istighfar. Istighfar dimaksudkan bagi orang-orang yang berkedudukan tinggi. Kata itu berdiri di atas enam pilar yang kokoh.Pilar-pilar tersebut adalah :
1. Bertaubat atas perbuatan buruk yang lalu,
2. Bertekad bersungguh-sungguh untuk tidak kembali kepada perbuatan maksiat,
3. Memenuhi hak-hak manusia agar Anda menemui Allah dengan jiwa bersih tanpa
sesuatu pun yang harus dipertanggungjawabkan,
4. Memenuhi setiap kewajiban yang Anda abaikan di waktu lalu sehingga sekarang
Anda boleh berlaku adil atasnya,
5. Berkenaan dengan daging yang tumbuh yang dihasilkan dari pendapatan haram agar
Anda meleburkannya dengan kesedihan dan bertaubat sampai kulit menyentuh
tulang, dan daging baru tumbuh di antara kulit dan tulang itu.
6. Membuat tubuh merasakan perihnya ketaatan sebagaimana dulu Anda merasakan
manisnya berbuat maksiat.
Dalam keadaan semacam itu, Anda boleh mengatakan, “Astaghfirullah” (saya memohon ampunan kepada Allah)
(Hikmah ke 426 dalam Nahjul Balaghah)
Senin, Januari 12, 2009
Bernyanyi Untuk Sang Maha Hidup
Suatu hari ketika berkhotbah, Syekh berhenti di tengah sebuah kalimat, lalu berkata, “Aku tidak akan melanjutkan kecuali jika kalian memberikan seratus keping emas saat ini juga!” Orang-orang bergegas mengumpulkan seratus dinar dan meletakkannya di tanganku. Mereka lalu terpaku kebingungan. Mereka menatap syekh dengan takjub. Kubawa uang itu kepadanya. Tetapi ia mengembalikannya dan berkata, “Hai Abu al-Ridha, pergilah ke pemakaman al-Syuniziyah. Di sana, kau akan bertemu dengan seorang tua yang meniup suling di kuburan. Berikan emas ini kepadanya dan ajaklah ia untuk menemuiku!”
Aku bergegas ke pemakaman itu. Benar saja, kulihat seorang tua tengah meniup suling dan bernyanyi di kuburan . Kuucapkan salam dan kuserahkan kantong berisi emas itu kepadanya. Ia terperanjat, berteriak panjang lalu jatuh tak sadarkan diri.
Ketika ia siuman, aku mengantarnya kepada SYEKH ABDUL QADIR AL JAILANI Q.S., yang memintanya untuk naik ke mimbar. Orang itu menaiki tangga dengan seruling di bahunya. Syekh berkata kepadanya, “Sahabatku, berceritalah kepada mereka!”
Peniup seruling itu pun bercerita bahwa di masa mudanya, ia adalah peniup suling paling kesohor. Namun, ketika usianya beranjak tua, tak seorangpun yang menyewa atau ingin mendengarkan nyanyiannya. Karena sedih dan merasa diabaikan semua orang, ia bersumpah tidak akan pernah bernyanyi untuk siapa pun kecuali untuk orang mati.
Ia pun datang ke pemakaman. Ketika ia duduk di sana sambil bernyanyi dan meniup suling, kuburan yang paling dekat dengannya terbelah! Penghuni kuburan itu mengangkat kepalanya dan berkata, “Apakah kau akan terus bernyanyi untuk orang mati sepanjang umurmu?” Bernyanyilah sekali saja untuk Sang Mahahidup, untuk Allah, niscaya Dia akan memberimu jauh lebih banyak daripada apa yang pernah kau terima selama ini, bahkan lebih banyak dari apa yang pernah kau harapkan!” Ia terkejut, takut dan jatuh tak sadarkan diri, ketika sadar ia mulai bernyanyi :
Semua harapanku terhimpun pada kehadiran-Mu, rugilah aku bila harapanku hampa.
Jika hanya orang baik yang diperkenankan memohon di pintu-Mu, kepada siapakan para pendosa harus mengetuk pintu permohonan?
Duh Tuhanku, jika di hari kiamat aku menghadap-Mu dengan rasa muak, mungkinkah Engkau tak berkenan menyelamatkanku dari api neraka?
Abu al-Ridho melanjutkan cerita orang itu :
Di ujung bait inilah aku datang kepadanya membawa seratus dinar dari majikanku (SYEKH ABDUL QADIR AL JAILANI Q.S. qs) sebagai imbalan atas nyanyiannya untuk Tuhannya. Karena takjub, ia tak sadarkan diri.
Seraya menangis peniup suling itu bertobat. Ia banting sulingnya ke tanah hingga patah. Syekh berkata, “Jika seperti ini pahala Allah bagi keikhlasan seseorang yang menjalani hidupnya dengan permainan, apa kira-kira pahala bagi hamba Allah yang jujur dan shaleh selama hidupnya? Pertahankan ketulusan dalam hatimu, karena tanpa keikhlasan kau tidak akan bertambah dekat kepada Tuhanmu walau sedepa.”
Syekh Tosun Bayrak, Mengenal Sang Sultan Aulia
The Secret of Secrets, Hakikat Segala Rahasia Kehidupan, Syekh Abdul Qadir Al Jailani
Senin, Januari 05, 2009
The Letter from SAQ Al Jilani
Sahabatku,Qalbumu adalah cermin yang kotor. Bersihkanlah debu yang melekatinya, karena qalbu ditakdirkan untuk memantulkan cahaya hakikat ilahi.
Jika cahaya dari Allah, yang merupakan cahaya langit dan bumi… menerangi qalbumu, ia akan menyalakan lentera qalbumu, yang berada dalam kaca yang bening, dan kaca bening itu bersinar terang bagaikan bintang… Dan berkilaulah bintang ilahi dalam qalbumu.
Kilauan ini memancar dari awan makna yang tak berasal dari Timur dan Barat, menyala dari pohon zaitun…cahaya itu memantul dari pohon itu, sangat jernih dan terang seolah-olah memancarkan cahaya meski tak disentuh api (QS An Nuur [11]:35). Ketika itulah lentera hikmah menyala terang. Bagaimana mungkin ia padam jika cahaya Allah menerangi seluruh relungnya?
Hanya jika cahaya hakikat ilahi menyinarinya, barulah langit malam hakikat menjadi terang disinari ribuan bintang… dan dengan bintang gemintang (kau akan) temukan jalan(mu) … (QS An Nahl[16]:16)
Bukan bintang-bintang itu yang menunjukimu, melainkan cahaya ilahi. Sebab Allah telah… menghiasi langit dunia dengan bintang-bintang…(QS Yasiin[36]:36).Hanya jika lentera hakikat ilahi dinyalakan dalam sanubarimu, segalanya akan datang serempak seketika atau sedikit demi sedikit. Sebagiannya telah kau ketahui dan sebagian lainnya akan kami jelaskan di sini. Baca, dengar dan pahamilah. Kehadiran ilahi akan menyirnakan sisi gelap kebodohan. Kedamaian dan keindahan purnama akan terbit dari ufuk cahaya di atas cahaya (QS An Nuur[24]:35), yang senatiasa terbit di langit, melintasi garis edar yang telah ditakdirkan Allah (QS Yaasiin[36]:36) sehingga ia bersinar megah di pusat langit, memecah kegelapan lalai.
(Aku bersumpah) Demi malam apabila ia menggelap…Demi cahaya pagi yang benderang…malam kebodohan akan menyaksikan cerahnya siang. Kemudian kau akan mencium harumnya zikir dan bertobat di saat fajar, menyesali umur yang kau habiskan dalam tidur. Akan kau dengar nyanyian pagi :
Mereka sedikit sekali tidur di waktu malamDan menjelang fajar mereka mohon ampunan
Allah memandu kepada Cahaya-Nya siapa yang dia inginkan
Kemudian dari ufuk akal Ilahi akan kau lihat terbitnya matahari ilmu hakiki. Itulah matahari milikmu, sebab kau dibimbing Allah dan berada di jalan yang lurus, bukan jalan orang yang sesat. Kau akan memahami rahasia bahwa:
Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malam pun tidak mungkin mendahului siang. Masing-masing beredar pada orbitnya.
Akhirnya, ikatan belenggu akan terlepas sesuai dengan perumpamaan yang Allah jadikan bagi manusia dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. Tabir akan terangkat, selubung akan tersingkap dan menampakkan apa yang ada di dalamnya, hakikat akan menunjukkan wajahnya.
Semua ini berawal sejak kau membersihkan cermin qalbu. Cahaya hakikat ilahi akan menyinarinya jika kau menghendaki dan mencari-Nya, dari-Nya, bersama-Nya.
The Secret of Secrets, Hakikat Segala Rahasia Kehidupan, Syekh Abdul Qadir Al Jailani
Diterjemahkan oleh : Zaimul Am
PT. Serambi Ilmu Semesta Cetakan I Rabiul akhir 1429 H/April 2008
Langganan:
Postingan (Atom)

