Senin, Juli 19, 2010

Shalat Nisfu Sya'ban, Sunnah yang Dianggap Bid'ah

Oleh : Ust. Abdul Latif, SE, MA

Banyak orang menuduh shalat nisfu Sya’ban sebagai bid’ah. Mereka menuduh demikian bisa jadi dengan niat yang baik untuk membersihkan praktek ibadah dari Bid’ah dan mengembalikan agar ibadah yang dilakukan sesuai sunah Rasul. Alasannya sangat sederhana karena shalat Nisfu Sya’ban tidak pernah dikerjakan jaman Rasul. Benarkah shalat Nisfu Sya’ban bidah? Apakah nabi tidak pernah melakukannya?

Untuk lebih melengkapi khazanah kita, akan kami paparkan pula beberapa pertanyaan yang mengingkari shalat nisfu Sya’ban dari berbagai dialog. Antara lain:

Pertanyaan Pertama:
Tidak ada keistimewaan malam nisfu Sya’ban dibandingkan malam lainnya. Sehingga tidak perlu mengkhususkan ibadah pada malam tersebut. Beberapa Hadis yang menerangkan keutamaan nisfu Sya’ban adalah maudhu’ (palsu) dan dha’if. Sehingga tidak boleh diamalkan.

Para ulama semisal Ibnu Rajab, Ibnul Jauzi, Imam al-Ghazali, Ibnu Katsir dan yang lainnya, menyatakan hadits-hadits yang berbicara seputar keutamaan malam Nishfu Sya'ban ini sangat banyak jumlahnya. Hanya, umumnya hadits-hadits tersebut dhaif, namun ada juga beberapa hadits yang Hasan dan Shahih Lighairihi. Untuk lebih jelasnya, berikut di antara hadits-hadits dimaksud:

Hadis 1

عن علي بن إبي طالب عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: ((إذا كان ليلة نصف شعبان فقوموا ليلها, وصوموا نهارها, فإن الله تعالى ينزل فيها لغروب الشمس إلى سماء الدنيا, فيقول: ألا مستغفر فأغفرله, ألا مسترزق فأرزقه, ألا مبتلى فأعافيه, ألا كذا ألا كذا, حتى يطلع الفجر)) [رواه ابن ماجه والحديث ضعفه الألبانى]

Artinya: "Dari Ali bin Abi Thalib, Rasulullah saw bersabda: "Apabila sampai pada malam Nishfu Sya'ban, maka shalatlah pada malam harinya dan berpuasalah pada siang harinya, karena sesungguhnya Allah akan turun ke dunia pada malam tersebut sejak matahari terbenam dan Allah berfirman: "Tidak ada orang yang meminta ampun kecuali Aku akan mengampuni segala dosanya, tidak ada yang meminta rezeki melainkan Aku akan memberikannya rezeki, tidak ada yang terkena musibah atau bencana, kecuali Aku akan menghindarkannya, tidak ada yang demikian, tidak ada yang demikian, sampai terbit fajar" (HR. Ibnu Majah dan hadits tersebut dinilai Hadits Dhaif oleh Syaikh al-Albany).

Hadis 2

عن عائشة قالت: فقدت النبي صلى الله عليه وسلم فخرجت فإذا هو بالبقيع رافع رأسه إلى السماء, فقال: ((أكنت تخافين إن يحيف الله عليك ورسوله؟)) فقلت: يا رسول الله, ظننت أنك أتيت بعض نسائك. فقال: ((إن الله تبارك وتعالى ينزل ليلة النصف من شعبان إلى سماء الدنيا فيغفر لأكثر من عدد شعر غنم كلب)) [رواه أحمد والترمذى وابن ماجه وضعفه الألبانى فى ضعيف الترمذى].

Artinya: "Siti Aisyah berkata: "Suatu malam saya kehilangan Rasulullah saw, lalu aku mencarinya. Ternyata beliau sedang berada di Baqi' sambil menengadahkan wajahnya ke langit. Beliau bersabda: "Apakah kamu (wahai Aisyah) khawatir Allah akan menyia-nyiakan kamu dan RasulNya?" Aku menjawab: "Wahai Rasulullah, saya pikir anda pergi mendatangi di antara isteri-isterimu". Rasulullah saw bersabda kembali: "Sesungguhnya Allah turun ke dunia pada malam Nishfu Sya'ban dan mengampuni ummatku lebih dari jumlah bulu domba yang digembalakan" (HR. Ahmad, Ibn Majah dan Turmidzi. Syaikh al-Albany menilai hadits riwayat Imam Turmudzi tersebut sebagai hadits Dhaif sebagaimana ditulisnya pada 'Dhaifut Turmudzi').

Kedua hadits tersebut adalah hadits yang dinilai Dhaif oleh jumhur Muhaditsin di antaranya oleh Syaikh Albany, seorang ulama yang tekenal sangat ketat dengan hadits.

Namun demikian, di bawah ini juga penulis hendak mengetengahkan Hadits Hasan dan Shahih Lighairihi yang berbicara seputar keutamaan malam Nishfu Sya'ban ini. Hadits-hadits dimaksud adalah:

Hadis 3

عن أبي موسى عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: ((إن الله ليطلع ليلة النصف من شعبان فيغفر لجميع خلقه, إلا لمشرك أو مشاحن)) [رواه ابن ماجه وحسنه الشيخ الألبانى فى صحيح ابن ماجه (1140)]

Artinya: "Dari Abu Musa, Rasulullah saw bersabda: "Sesungguhnya Allah muncul (ke dunia) pada malam Nishfu Sya'ban dan mengampuni seluruh makhlukNya, kecuali orang musyrik dan orang yang dengki dan iri kepada sesama muslim" (HR. Ibn Majah, dan Syaikh Albani menilainya sebagai hadits Hasan sebagaimana disebutkan dalam bukunya Shahih Ibn Majah no hadits 1140).

Hadis 4

عن عبد الله بن عمرو عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: ((إن الله ليطلع إلى خلقه ليلة النصف من شعبان فيغفر لعباده إلا اثنين: مشاحن, أو قاتل نفس)) [رواه أحمد وابن حبان فى صحيحه]

Artinya: "Dari Abdullah bin Amer, Rasulullah saw bersabda: "Sesungguhnya akan menemui makhlukNya pada malam Nishfu Sya'ban, dan Dia mengampuni dosa hamba-hambanya kecuali dua kelompok yaitu orang yang menyimpan dengki atau iri dalam hatinya kepada sesama muslim dan orang yang melakukan bunuh diri" (HR. Ahmad dan Ibnu Hibban sebagaimana ditulisnya dalam buku Shahihnya).

Namun, Syaikh Syu'aib al-Arnauth menilai hadits tersebut hadits yang lemah, karena dalam sanadnya ada dua rawi yang bernama Ibn Luhai'ah dan Huyay bin Abdullah yang dinilainya sebagai rawi yang lemah. Namun demikian, ia kemudian mengatakan bahwa meskipun dalam sanadnya lemah, akan tetapi hadits tersebut dapat dikategorikan sebagai hadits Shahih karena banyak dikuatkan oleh hadits-hadits lainnya (Shahih bi Syawahidih).

Hadis 5

عن عثمان بن أبي العاص مرفوعا قال, قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ((إذا كان ليلة النصف من شعبان نادى مناد: هل من مستغفر فأغفر له؟ هل من سائل فأعطيه؟ فلا يسأل أحد شيئا إلا أعطيه, إلا زانية بفرجها أو مشركا)) [رواه البيهقى]

Artinya: "Dari Utsman bin Abil Ash, Rasulullah saw bersabda: "Apabila datang malam Nishfu Sya'ban, Allah berfirman: "Apakah ada orang yang memohon ampun dan Aku akan mengampuninya? Apakah ada yang meminta dan Aku akan memberinya? Tidak ada seseorang pun yang meminta sesuatu kecuali Aku akan memberinya, kecuali wanita pezina atau orang musyrik" (HR. Baihaki).

Dengan memperhatikan, di antaranya, hadits-hadits di atas, maka tidak berlebihan apabila banyak ulama berpegang teguh bahwa malam Nishfu Sya'ban adalah malam yang istimewa, karena bukan hanya dosa-dosa akan diampuni, akan tetapi juga doa akan dikabulkan. Hadits-hadits yang dipandang Dhaif yang berbicara seputar keistimewaan malam Nishfu Sya'ban ini, paling tidak kedudukan haditsnya menjadi terangkat oleh hadits-hadits lain yang berstatus Hasan atau Shahih Lighairihi.

Atau boleh juga dikatakan, karena hadits-hadits dhaif yang berbicara seputar keutamaan malam Nishfu Sya'ban ini dhaifnya tidak parah dan tidak berat, maka satu sama lain menjadi saling menguatkan sehingga kedudukannya naik menjadi Hadits Hasan Lighairihi. Wallahu'alam.

Istimewanya malam Nishfu Sya'ban ini juga dikuatkan oleh atsar para sahabat. Imam Ali bin Abi Thalib misalnya, sebagaimana dikutip Ibnu Rajab, apabila datang malam Nishfu Sya'ban, ia banyak keluar rumah untuk melihat dan berdoa ke arah langit, sambil berkata: "Sesungguhnya Nabi Daud as, apabila datang malam Nishfu Sya'ban, beliau keluar rumah dan menengadah ke langit sambil berkata: "Pada waktu ini tidak ada seorang pun yang berdoa pada malam ini kecuali akan dikabulkan, tidak ada yang memohon ampun, kecuali akan diampuni selama bukan tukang sihir atau dukun". Imam Ali lalu berkata: "Ya Allah, Tuhannya Nabi Daud as, ampunilah dosa orang-orang yang meminta ampun pada malam ini, serta kabulkanlah doa orang-orang yang berdoa pada malam ini".

Sebagian besar ulama Tabi'in seperti Khalid bin Ma'dan, Makhul, Luqman bin Amir dan yang lainnya, juga mengistimewakan malam ini dengan jalan lebih mempergiat ibadah, membaca al-Qur'an dan berdoa. Demikian juga hal ini dilakukan oleh jumhur ulama Syam dan Bashrah.

Bahkan, Imam Syafi'i pun beliau mengistimewakan malam Nishfu Sya'ban ini dengan jalan lebih mempergiat ibadah, doa dan membaca al-Qur'an. Hal ini sebagaimana nampak dalam perkataannya di bawah ini:

بلغنا أن الدعاء يستجاب فى خمس ليال: ليلة الجمعة, والعيدين, وأول رجب, ونصف شعبان. قال: واستحب كل ما حكيت فى هذه الليالي

Artinya: "Telah sampai kepada kami riwayat bahwa dua itu akan (lebih besar kemungkinan untuk) dikabulkan pada lima malam: Pada malam Jum'at, malam Idul Fithri, malam Idul Adha, malam awal bulan Rajab, dan pada malam Nishfu Sya'ban. Imam Syafi'i berkata kembali: "Dan aku sangat menekankan (untuk memperbanyak doa) pada seluruh malam yang telah aku ceritakan tadi".

Dari pemaparan di atas nampak bahwa sebagian besar para ulama salaf memandang istimewa malam ini, karenanya mereka mengisinya dengan mempergiat dan memperbanyak ibadah termasuk berdoa, shalat dan membaca al-Qur'an.

Pertanyaan Kedua:
Shalat Nisfu Sya’ban Bid’ah karena tidak pernah dilakukan Rasul. Sehingga ibadah mereka tidak sesuai sunnah Rasul.

Nama panjang dari shalat Nisfu Sya’ban adalah “SHALAT MUTHLAQ yang dilakukan pada malam Nisfu Sya’ban”. Untuk memudahkan pengucapan, ulama menyebutnya shalat nisfu Sya’ban.

Karena termasuk jenis shalat Muthlaq, maka boleh dikerjakan kapan saja termasuk malam pertengahan Sya’ban selama dikerjakan tidak pada waktu yang dilarang. Kalau pada malam yang lain boleh melakukan shalat Muthlaq, maka pada malam nisfu Sya’ban juga boleh.

Membid’ahkan shalat nisfu Sya’ban sama dengan membid’ahkan shalat Muthlaq yang sunnah.

Apalagi ada hadis yang menyatakan bahwa Rasul menggiatkan qiyamul layl pada malam nisfu Sya’ban. Semakin kuat lah dasar shalat nisfu Sya’ban.

ومنها حديث عائشة ـ رضي الله عنها ـ قام رسول الله ـ صلى الله عليه وسلم ـ من الليل فصلى فأطال السجود حتى ظننت أنه قد قُبِضَ، فَلَمَّا رفع رأسه من السجود وفرغ من صلاته قال: "يا عائشة ـ أو يا حُميراء ـ ظننت أن النبي ـ صلى الله عليه وسلم ـ قد خَاسَ بك"؟ أي لم يعطك حقك . قلت: لا والله يا رسول الله ولكن ظننت أنك قد قبضتَ لطول سجودك، فقال: "أَتَدْرِينَ أَيُّ ليلة هذه"؟ قلت: الله ورسوله أعلم، قال "هذه ليلة النصف من شعبان، إن الله عز وجل يطلع على عباده ليلة النصف من شعبان، فيغفر للمستغفرين ، ويرحم المسترحِمِينَ، ويُؤخر أهل الحقد كما هم" رواه البيهقي من طريق العلاء بن الحارث عنها، وقال: هذا مرسل جيد.

Dari A'isyah: "Suatu malam rasulullah salat, kemudian beliau bersujud panjang, sehingga aku menyangka bahwa Rasulullah telah diambil, karena curiga maka aku gerakkan telunjuk beliau dan ternyata masih bergerak. Setelah Rasulullah usai salat beliau berkata: "Hai A'isyah engkau tidak dapat bagian?". Lalu aku menjawab: "Tidak ya Rasulullah, aku hanya berfikiran yang tidak-tidak (menyangka Rasulullah telah tiada) karena engkau bersujud begitu lama". Lalu beliau bertanya: "Tahukah engkau, malam apa sekarang ini". "Rasulullah yang lebih tahu", jawabku. "Malam ini adalah malam nisfu Sya'ban, Allah mengawasi hambanya pada malam ini, maka Ia memaafkan mereka yang meminta ampunan, memberi kasih sayang mereka yang meminta kasih sayang dan menyingkirkan orang-orang yang dengki" (H.R. Baihaqi) Menurut perawinya hadis ini mursal (ada rawi yang tidak sambung ke Sahabat), namun cukup kuat.

Bahkan kalau kita menyandarkan pada hadis di atas, justru MEREKA YANG SHALAT PADA MALAM NISFU SYA’BAN IBADAHNYA SESUAI SUNNAH RASUL.

Pertanyaan Ketiga:
Shalat Nisfu Sya’ban saja Bid’ah, apalagi melakukannya secara berjamaah. Semakin jauh dari Islam. Kalaulah memang bagus mengapa Rasul dan sahabat tidak melakukan? Padahal Mereka adalah generasi terbaik.

Saudaraku, selama ada dalil umum yang membolehkan, maka mengenai tekhnisnya berjamaah atau tidak, dapat diatur menurut kondisi dan keadaan.

Pelaksanaan mengisi malam Nishfu Sya'ban diberjamaahkan ini pertama kali dilakukan oleh ulama tabi'in yang bernama Khalid bin Ma'dan, lalu diikuti oleh ulama tabi'in lainnya seperti Makhul, Luqman bin Amir dan yang lainnya. Bahkan terus berlanjut dan menjadi tradisi ulama Syam dan Bashrah sampai saat ini.

Meski tidak dilakukan pada masa Rasulullah saw dan para sahabatnya, kami lebih condong untuk mengatakan tidak mengapa dan tidak dilarang. Tidak semua yang tidak dipraktekkan oleh Rasulullah saw dan para sahabatnya menjadi sesuatu yang tidak boleh dilakukan. Selama ada hadits dan qaidah umum yang membolehkan, maka mengenai tehnis, apakah diberjamaahkan atau sendiri-sendiri, semuanya diserahkan kepada masing-masing dan tentu diperbolehkan. Hal ini sebagaimana tradisi takbir berjamaah pada malam hari raya.

Hal ini tidak dilakukan pada masa Rasulullah saw dan para sahabatnya. Rasulullah saw dan para sahabat hanya melakukannya di rumah masing-masing. Tradisi berjamaah membaca takbir pada malam Hari Raya ini pertama kali dilakukan oleh seorang ulama tabi'in yang bernama Abdurrahman bin Yazid bin al-Aswad. Dan tradisi ini pun sampai saat ini masih diberlakukan dan diamalkan hampir di seluruh negara-negara muslim.

Demikian juga dengan shalat Tarawih diberjamaahkan. Rasulullah saw hanya melakukannya satu, dua atau tiga malam saja secara berjamaah. Setelah itu, beliau melakukannya sendiri. Dan hal ini berlaku juga sampai masa khalifah Abu Bakar ash-Shiddiq serta pada permulaan khalifah Umar bin Khatab. Setelah Umar bin Khatab masuk ke sebuah mesjid dan menyaksikan orang shalat tarawih sendiri-sendiri, akhirnya beliau melihat alangkah lebih baiknya apabila diberjamaahkan. Sejak itu, beliau manunjuk sahabat Rasulullah saw yang bernama Ubay bin Ka'ab untuk menjadi imam pertama shalat Tarawih diberjamaahkan. Tradisi ini juga berjalan dan terus dipraktekkan sampai sekarang ini.

Kalaulah shalat qiyamu Ramadhan (Tarawih) yang beliau lakukan selalu tidak berjamaah dengan sahabat, kecuali hanya 1-3 malam saja, boleh dilakukan secara berjamaah, lalu takbir malam ‘Ied juga boleh dilakukan secara berjamaah, mengapa shalat Muthlaq malam nisfu Sya’ban (untuk menyingkat selanjutnya disebut “shalat Nisfu Sya’ban”) tidak boleh dilakukan berjamaah? Tentu ini tidak fair.

Di zaman Rasul, para sahabat dengan melihat rasul qiyamul layl saja mereka sudah melakukannya. Namun di akhir zaman ini jika ada ustad berkata, “wahai umat Islam, shalat tarawih yang dilakukan Rasul tidak berjamaah dan dilakukan di tengah malam (bukan ba’da Isya langsung). Oleh karena itu shalatlah sendiri-sendiri nanti malam.” Yang shalat tarawih pasti sedikit. Kecuali instruksi itu untuk bangun malam dalam rangka menyaksikan final piala dunia antara Belanda Vs Spanyol insya Allah jamaahnya banyak meskipun jam 1.30 malam.

Jadi kondisi zaman mengarahkan untuk shalat tarawih secara berjamaah.

Begitu pula dengan shalat nisfu Sya’ban. Di akhir zaman ini, Kalau shalat Nisfu Sya’ban (apalagi jika 100 raka’at) dilakukan hanya boleh sendiri-sendiri, saya yakin sangat-sangat sedikit orang yang mau menghidupkan malam Nisfu Sya’ban. Namun kalau dilakukan secara berjamaah, satu sama lain dapat saling memotivasi sehingga lebih semangat.

Pertanyaan Keempat:
Terlebih lagi dalam shalat nisfu Sya’ban, mereka menetapkan jumlah 100 rakaat. Sesuatu yang tidak pernah dilakukan Rasul.

Ada beberapa alasan mengapa saya shalat nisfu Sya’ban 100 rakaat:

1. Karena shalat nisfu Sya’ban termasuk shalat Muthlaq, maka jumlahnya bebas. 10 rakaat boleh, 20, 30, bahkan 100 rakaat juga boleh. Kalau kita sanggup 1.000 rakaat juga tidak ada yang melarang, karena shalat Muthlaq. Mengapa kita berani melarang jumlah tertentu dalam shalat Muthlaq? Apakah kalau 99 rakaat boleh, 101 juga boleh lalu khusus 100 rakaat tidak boleh?
Nabi SAW pernah berkata kepada Bilal, sesudah mengerjakan shalat Shubuh sebagaimana berikut: “Wahai Bilal, ceritakanlah kepadaku amalan yang engkau kerjakan dalam Islam yang penuh dengan pengharapan karena aku mendengar suara sandalmu di depanku di syurga”. Bilal menjawab tidak pernah aku melakukan suatu perbuatan yang saya harapkan kebaikannya, melainkan pasti aku bersuci dahulu, baik saatnya malam hari atau siang hari. Sesudah aku bersuci aku melakukan shalat sebanyak yang dapat kulakukan”. (HR. Imam Bukhari dan Muslim)
Jabir bin Hayyan, penemu ilmu Kimia sekaligus orang pertama memperoleh julukan Sufi, melakukan shalat Muthlaq 400 rakaat sebelum memulai penelitian.
Kalau ada seseorang menganjurkan untuk shalat nisfu Sya’ban 77 rakaat karena dia senang dengan angka 7, boleh saja. Namun daripada saya mengikuti dia, lebih baik saya mengikuti para ulama yang shalih.
2. Banyak ulama-ulama shalih yang ahli ma’rifat seperti syekh Abdul Qadir Jailani melakukan shalat nisfu Sya’ban 100 rakaat, begitu pula dengan imam Ghazali dan ulama lainnya. Maka tidak ada salahnya jika kita mengikuti beliau. (baca juga dasar hukum shalat Rajab, Nisfu Sya’ban dll di tqn-jakarta.org)
Dan ikutilah jalannya orang yang kembali kepadaKu (Luqman 31:15)
3. Jumlah 100 rakaat ada hadisnya. Meskipun banyak orang yang menolak hadis tersebut. Namun Imam Ahmad berkata, “hadis dhaif lebih aku sukai daripada pendapat pribadi seseorang".

Pertanyaan Kelima:
Bacaan dalam shalat Nisfu Sya’ban (al-Ikhlas 10 kali setelah al-Fatihah, sehingga dikallikan 100 rakaat menjadi 1.000 kali membaca al-Ikhlas) adalah bacaan yang mengada-ada. Tidak pernah dilakukan juga oleh Rasul.

Bacaan yang dibaca dalam shalat nisfu Sya’ban setelah al-Fatihah terserah. Ayat manapun termasuk al-Ikhlas boleh dibaca dalam shalat asalkan ayat al-Qur’an. Tidak ada juga ketentuan bahwa surat al-Ikhlas tidak boleh dibaca beberapa kali dalam satu rakaat.

فَاقْرَءُوا مَا تَيَسَّرَ مِنَ الْقُرْءَانِ

karena itu bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Qur'an. (QS. Al-Muzammil:20)

Imam masjid Quba selalu membaca surat Al Ikhlas disetiap habis fatihah, ia selalu menyertakan surat Al Ikhlas lalu baru surat lainnya, lalu makmumnya protes, seraya meminta agar ia menghentikan kebiasaanya, namun Imam itu menolak, silahkan pilih imam lain kalau kalian mau, aku akan tetap seperti ini!, maka ketika diadukan pada Rasul saw, maka Rasul saw bertanya mengapa kau berkeras dan menolak permintaan teman temanmu (yg meminta ia tak membaca surat al ikhlas setiap rakaat), dan apa pula yg membuatmu berkeras mendawamkannya setiap rakaat?” ia menjawab : “Aku mencintai surat Al Ikhlas”, maka Rasul saw menjawab : “Cintamu pada surat Al Ikhlas akan membuatmu masuk sorga” (Shahih Bukhari hadits no. 741).

Kesimpulannya, shalat Muthlaq pada malam nisfu Sya’ban secara berjamaah sebanyak 100 rakaat dengan membaca surat al-Ikhlas 10 kali setiap bada Fatihah DIBOLEHKAN. Jangan sampai kita mengharamkan apa yang dihalalkan Allah. Kalau nabi saja tidak boleh apalagi kita. Teknis shalat Nisfu Sya’ban silakan dilihat di tqn-jakarta.org.

يَاأَيُّهَا النَّبِيُّ لِمَ تُحَرِّمُ مَا أَحَلَّ اللَّهُ لَكَ

HAI NABI, MENGAPA KAMU MENGHARAMKAN APA YANG ALLAH HALALKAN BAGIMU (QS. At-Tahrim:6)

Wallahu a’lam bis shawab.

88 komentar:

  1. Ulasan sampeyan aneh..hehe

    BalasHapus
  2. anonim :
    benar...semua hadits didoifkan sama syekh albani, padahal dia sendiri mengakui TIDAK HAPAL HADIST, dia sendiri hanya belajar dari buku, tidak punya guru...bagaimana orang yg tidak hapal hadits, tidak punya guru dan cuma baca dari buku bisa mendoifkan???

    BalasHapus
  3. mohon diterangkan kaedah "hasan / shahih lighairihi" mana2 hadits dhaif yg bisa di kuatkan dgn yg spt apa

    BalasHapus
  4. Segala bentuk bid’ah dalam Ad-Dien hukum ialah haram dan sesat, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam

    “Arti : Janganlah kamu sekalian mengada-adakan urusan-urusan yg baru, krn sesungguh mengadakan hal yg baru ialah bid’ah, dan setiap bid’ah ialah sesat”. [Hadits Riwayat Abdu Daud, dan At-Tirmidzi ; hadits hasan shahih].

    Dan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam

    “Arti : Barangsiapa mengadakan hal yg baru yg bukan dari kami maka peruntukan tertolak”.
    Dan dalam riwayat lain disebutkan :

    “Arti : Barangsiapa beramal suatu amalan yg tdk didasari oleh urusan kami maka amalan tertolak”.

    BalasHapus
    Balasan
    1. anda berbicara sudah seperti ahli hadist saja,coba anda pelajari lagi lebih dalam mengenai pengertian Bid'ah yang sesungguhnya (Pengertian Bid'ah sesat disini adalah bid'ah dalam Ad-dien yang sudah jelas melanggar ketentuan syariat, spt menambah jumlah rokaat sholat fardlu dsb, di atas kan sudah dijelaskan ibadah-ibadah yang malam nisfu sya'ban beserta dalil-dalil terkait. coba anda baca lagi artikel di atas berulang-ulang. jangan asal menuduh bidah saja,semoga anda mendapat Hidayah dari Allah Swt

      Hapus
  5. Kalo aku seh selalu berprinsip seperti sahabat2 nabi dalam melakukan suatu ibadah, mereka tak berani mengada-ada tentang sesuatu kecuali itu sudah ada petunjuk dari Rasulullah... saya juga tak berani menyalahkan sepenuhnya tentang yang anda bahas, karena saya tak punya cukup ilmu untuk menelaahnya... cuman yang anda jelaskan sangat mungkin adalah perkara bid'ah, sedangkan orang yg tidak melakukan sudah pasti tidak melakukan perkara bid'ah... hati-hatilah karena anda sudah mempertaruhkan diri anda kepada perkara bid'ah, perkara NERAKA.....

    BalasHapus
    Balasan
    1. banyak org ya tidak tau betul ilmu tentang bid'ah, sudah memvonis suatu hal dg bid'ah.

      pelajari dulu dg teliti baru berkomentar

      Hapus
  6. “Allah melihat kepada hamba-hambaNya pada malam nisfu Syaaban, maka Dia ampuni semua hamba-hambaNya kecuali musyrik (orang yang syirik) dan yang bermusuh (orang benci membenci)" (Riwayat Ibn Hibban, al-Bazzar dan lain-lain). Al-Albani mensahihkan hadith ini.

    Hadith di atas tidak mengajar "amalan khusus" di malam atau siang Nisfu Sya’ban...

    HAI NABI, MENGAPA KAMU MENGHARAMKAN APA YANG ALLAH HALALKAN BAGIMU (QS. At-Tahrim:6)

    Ayat diatas diturunkan Allah ketika Nabi hendak mengharamkan madu bagi dirinya, bukan perkara Ibadah...

    Kaedah syara : Tidak dibolehkan untuk menentukan sesuatu hari/malam khusus untuk berpuasa atau ibadah (amalan khusus) tanpa bersandarkan kepada nas syara’ karena urusan ibadah bukanlah urusan yang siapapun berhak menentukannya, tetapi ia adalah hak Allah semata-mata...

    Wallahu a'lam...

    BalasHapus
    Balasan
    1. agama islam sudah sempurna Rasulullah saw bawa jangan kita tambah dan jangan dikurangi, jika anda tambah/di kurangi berarti andan telah menuduh rasulullah saw.. belum sempurna membawa agama Allah ... makanya ibadah yang tidak ada tuntunan dari rasulullah saw jangan anda ikuti .. intinya beragama harus didasari dengan pondasi ilmu ...

      Hapus
  7. shalat mutlaq setuju..!! tp klo "hanya" Nisfu Syaban..?? dan kenyataannya mereka lebih mementingkan yg spt ini,mereka berbondong2 ke Masjid dgn tidak lupa membawa air.Sementara shalat wajib yg jelas2 hrs berjamaah di Masjid (yg max hanya 4 rakaat) mereka tinggalkan.Menurut ane sih klo yg wajib dan yg sunah2 shahih (& tidak ada perdebatan) belum bisa dilaksanakan dgn tertib...lebih baik tinggalkan.Masih baaaaanyak..amalan sunah yg lebih jelas dasarnya..afwan ya akhi.

    BalasHapus
  8. Rasa hanya bisa disampaikan dengan rasa...
    Rasa orang yang sudah melaksanakan sholat Nisfu Sya'ban, tidak bisa dirasakan oleh orang yang tidak pernah (bahkan tidak akan pernah) melakukannya.
    Banyak orang menyesal setelah merasakan.
    Manisnya durian, hanya bisa dirasakan oleh orang yg sudah pernah makan Durian, dan tidak akan pernah dirasakan oleh orang yg belum makan Durian, apalagi oleh orang yg tidak doyan Durian.
    Kalau saya gitu aja....

    BalasHapus
    Balasan
    1. main akal trus mas.............

      Hapus
    2. konyol banget ya mas... tau tauqif gak mas?

      Hapus
  9. yang mengatakan itu sahih dan ga sahih itu siapa sih? apakah di ajarkan juga pada waktu nabi masih hidup?

    BalasHapus
    Balasan
    1. jika ada pertentangan ulama / ahli mengenai sesuatu bid'ah atau tidak bid'ah... siapa yg harus kita ikuti? cari ceramah KH. Zezen Zainal Abidin Bazul Asyhab... simak baik2 isi ceramahnya...

      Hapus
  10. يصومه شعبانُ ثم يصله برمضان

    dari 'aisyah : bulan yang paling dicintai rasul SAW adalah bulan sya'ban, kemudian beliau shalat.

    ini tentang bulan sya'ban.

    adapun tentang nisfu sya'ban, tidak ada ketetapan dari nabi SAW tentang hal itu. yang ada adalah ketetapan dari para tabi'in yaitu dari para fuqaha syam.

    dalam hadis dha'if disebutkan:

    ابن حبان من حديث علي : " إذا كانت ليلة النصف من شعبان فقوموا ليلها، وصوموا نهارها " رواه ابن ماجة (1388) والبيهقي في الشعب (3822)، وهو ضعيف ..

    jika telah masuk malam nisf sya'ban, maka berdirilah ( beribadahlah ) dimalam hari, dan berpuasalah di siangnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. tidak ada ibadah yang berkaitan khusu Nisfu Syaban tapi yang dilakukan adalah
      Berdirilah sholat lail (tahajud)dan berdoa/berdzikir (bukan sholat dan do'a khusus malam nisfu syaban) dan siangnya Shaum Ayyamul Bidh dari tgl 13,14,15 (bukan puasa Nisfu Syaban yg hanya 1 hari saja).

      Hapus
  11. hadis dha'if untuk fadha'ilul a'mal tidak masalah. biarkanlah orang yang melakukannya dg dalilnya sendiri.

    secara obyektif, saya pun mengakui hadis tersebut dha'if. tapi manhaj muhaddis itu berbeda2 dalam beramal dg hadis dha'if. seperti ibnu taimiah menolak mutlak, tapi imam suyuthi dan nawawi membolehkan untuk fadhail a'mal.

    BalasHapus
  12. Persoalan mendhoifkan atau menshohihkan sebuah hadis itu sendiri masuk pada ranah ijtihad. Sehingga seringkali kita temui dimana satu hadis dinilai dhoif oleh seorang ulama namun dinilai hasan oleh ulama lainnya. Saya sependapat dengan pernyataan, tidak semua yang tidak pernah dilakukan oleh rasul itu dilarang dilakukan. Karena seperti sholat sunnah wudhu bukanlah sholat sunnah yang murni praktek rasul. sholat sunnah ini malah dipraktekkan oleh Bilal yang kemudian diakui oleh rasul. Jadi selama tidak bertentangan dengan al-Quran dan Sunnah serta kaidah-kaidah agama secara umum, satu amalan tidak berarti langsung dihukum sebagai bid'ah yang terlarang meskipun tidak pernah dilakukan oleh Rasul Saw.

    BalasHapus
    Balasan
    1. itu jadinya hadits taqrir
      selama itu da zaman nabi boleh

      Hapus
  13. Assalamu`alaikum..salam ukhuwah..mohon izin untuk copas and share..karena Artikel ini memberikan cahaya di mana kita dapat mengamati realitas. Hal ini sangat bagus dan memberikan informasi yang mendalam. terima kasih atas artikel ini, bagus...

    BalasHapus
  14. segala ibadah yang tidak pernah nabi lakukan tetapi dilakukan oleh umat islam terutama zaman sekarang jatuhnya tetap BID'AH, karena yang patut di ikuti hanyalah Nabi dan bukan ulama yg bertentangan dengan Nabi, dan juga, apakah melakukan amalan yang tidak mengikuti apa yang dilakukan oleh Nabi akan mendapatkan pahala dari ALLAH ? padahal ALLAH hanya menyuruh umat islam mengikuti Nabi bukan yang lain.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bung Anonim... anda cari KH. Zezen Zainal Abidin Bazul Asyhab - pimpinan Pondok Pesantren Riyadhul Al-Fiyyah Wal hikam Azzainiyah di Sukabumi... supaya anda bisa memperoleh ilmu apa dan bagaimana bid'ah itu.. tanyakan juga hal ttg nisfu syaban...

      Hapus
  15. solat nisfu sa,ban jangan jadi dipersoalkan; yg mau melaksanakan silahkan ,yg tidak ya gak papa. tunaikan yg wajib2 dulu dg khusu'

    BalasHapus
    Balasan
    1. tidak ada ibadah yang berkaitan khusu Nisfu Syaban tapi yang dilakukan adalah
      Berdirilah sholat lail (tahajud)dan berdoa/berdzikir (bukan sholat dan do'a khusus malam nisfu syaban) dan siangnya Shaum Ayyamul Bidh dari tgl 13,14,15 (bukan puasa Nisfu Syaban yg hanya 1 hari saja).

      Hapus
  16. ..saya setuju Bahwa yg blm mnjalankn solat wajib dgn rajin/ga bolong2 kudu memperbaiki solat wajibnya dulu, perkara solat nisfu syaban jgn didebatkan, berkacalah pd diri sendiri dulu. Semua ibadah tergantung dr niat awalnya, niatlah agar kita solat nisfu syaban mndptkan berkah Allah, Dia Maha Tahu niscaya Allah memberi hambanya yg ikhlas ibadah Nisfu dgn pahala dan keutamaanNya.

    BalasHapus
  17. jangan mudah menghukumi dan menuduh melakukan bidah karena satu digit lagi akan mudah menuduh musyrik dan satu digit lagi akan jadi teroris...jagalah ukhuwah pelajari agama secara mendalam...

    BalasHapus
  18. Yang jelas2 Bidah jangan dilakuin, yang jelas wajib & sunnah musti dilakuin, yang gak jelas ato ragu2 mendingan jangan dilakuin, daripada nyesel diakhirat! ya kan?

    BalasHapus
  19. "Bagi yang membidngahkan, sebaikanya banyak belajar dulu tentang Islam. Jangan cuman baca dari buku ini si anu si itu, kemudian difatwakan. Sebelum Belajar mendalam tentang Ilmu Kedokteran jangan ikut jadi penyembuh deh, itu namanya dokter gadungan". Untuk Penulis, salut dan terima kasih atas bagi-bagi ilmunya.

    BalasHapus
  20. kembalikanlah pada diri kalian masing2, apakah ibadah anda suddah benar? silahkan aja yg mau shalat nisfu syaban. yg tidak mau, ya udah diem jangan hanya bid'ah bid'ah aja.

    BalasHapus
  21. assalamualaikum, saya fakir ilmu hanya ingin ukhuwah islamiyah terus dijaga, mari melakukan sholat 5 waktu dengan berjamaah dan khusuk, soal sunnah yang meragukan (bagi yang ragu) mari tinggalkan, bagi yang meyakini bukan bid;ah silahkan saja. semoga Allah SWt memberi petunjuk dan hidayahnya pada kita semua, Amiin

    BalasHapus
  22. Terimakasih atas bahasan materi ini, semoga menjadi amal salih bagi anda. Materi ini sangat bermanfaat bagi khazanah ilmu keislam-an saya. Maaf bagi yang suka membid'ahkan, anda harus lebih hati-hati karena hal itu menunjukkan bahwa.....pengetahuan anda masih dangkal.

    BalasHapus
  23. Pembahasan yang detail dan cerdas. Terima kasih atas bagi-bagi ilmunya. Orang yang suka membid'ahkan memang benar harus lebih menambah wawasan keilmuannya.

    BalasHapus
  24. Jangan asal bilang bid'ahSabtu, Juli 16, 2011 11:34:00 PM

    selama manusia mementingkan ego msg2, pastinya dgn mudah bilang suatu ibadah bid'ah bila Rasul tidak pernah melaksanakan, SAYA TANYA kepada ANDA SEKALIAN yang bilang segala bid'ah itu neraka,

    APAKAH ANDA TAHU AL-QUR'AN DULU BENTUKNYA SEPERTI APA ketika Rasul masih hidup????
    jawab bodoh? Jawab?

    Kalau Anda merasa pintar Anda pasti malu dengan jawaban saya berikut, Al-Qur'an dulunya hanya dihapal, kalaupun ditulis hanya di kulit hewan, pelepah dauh kurma dan tulang, lalu siapa yang membuat jadi seperti sekarang lengkap dengan tanda baca segala,

    itu para sahabat yang sangat dekat dengan Rasul, diantaranya Umar Bin Khatab, Abu Bakar, Ali Bin Abi Thalib, dan Usman Bin Afan...(koreksi bila saya salah)

    Mau tau ceritanya...
    Sahabat Umar takut bilamana qur'an hanya dihapal, nantinya malah banyak salah karena lisan orang pertama dan seterusnya bisa saja berbeda, beliau berpendapat dan mengambil inisiatif untuk membukukannya agar bisa terjaga keasliannya serta tidak salah dalam isinya, awalnya Khalifah Abu Bakar tidak setuju karena menganggap itu adalah bid'ah karena tidak diajarkan Rasul, tetapi sahabat Umar menjelaskan kekhawatirannya, hingga akhirnya beliau setuju...

    Nah ente semua ahli penyebut kami2 ini bid'ah, bila ente mau bilang segala bid'ah itu neraka, kenapa ente masih baca qu'an dalam bentuk sekarang yang jelas2 pada saat Rasul hidup tidak dalam bentuk seperti sekarang ini yang dilengkapi tanda baca agar mudah dibaca semua orang...

    makanya, jangan tutup mata loe semua, kalau memang loe pada mau tau kebenaran...

    untuk penulis, teruskan perjuangan Anda, saya dukung biar pada penuduh bid'ah mau mikir bukan asal bacot g jelas, pahan ente semua...

    BalasHapus
    Balasan
    1. subhanallah... ketika imam-imam madzahib besar mereka berpendapat tentang agama, dengan bijak mereka menyampaikan suatu pernyataan bahwa "jika pernyataannya itu sesuai dengan petunjuk atau yang dilakukan rasul maka ikutilah, dan begitu pula sebaliknya kalau pendapatnya tersebut tidak sesuai yang petunjuk rasul maka tinggalkanlah".
      inilah sikap kehati-hatian ulama-ulama besar sekelah imam syafii, hanbali, hanafi, maliki dan yang lainnya dalam permasalahan agama.
      dengan peryataan tersebut itu menunjukkan bahwa masalah agama adalah urusan Allah dan rasulnya. sementara manusia biasa termasuk para wali atau imam tidak ada satupun yang maksum. yang maksum hanya nabi dan rasul.
      Oleh sebab itu sangat memungkinkan terjadinya kesalahan pada diri ulama-ulama sekelas apapun mereka.
      Al'afwu minkum. wallahu'alam bishshawab

      Hapus
    2. harus diluruskan ya, biar ga kemana-mana. karena bid'ah itu khusus untuk perkara ibadah, sedangkan perkara alat maupun adat itu tidak termasuk ranah bid'ah. karena dalam ibadah asalnya haram kecuali ada dalil yang membolehkannya.. sedangkan urusan yang berbentuk muamalat itu asalnya boleh, kecuali ada dalil yang mengharamkannya.. wallahua'alam bi-swab..

      Hapus
  25. Kl banyak ibadah di malam nisfu sya'ban seperti sholat mutlak 100 rakaat dibid'ahkan dengan alasan nabi ga mengajarkan, gimana dengan tarawih yg 23 rakaat, kan nabi ga melakukan, Salah juga? Ane punya pengalaman waktu ane lg pake seragam pegawai dibilang bid'ah, krn menyerupai kafir dsb dsb, sementara niy orang yg ngebid'ahin datengnya pake motor HONDA ga pake onta kyk dulu nabi kl berangkat ibadah,trus bawa hp NOKIA jg, punya komputer INTEL PENTIUM, dsb dsb..Kl orang ente bid'ah2in berarti yg bener ente doang dong? MasyaAllah, udah lebih dari 1300 tahun kita umat islam ngeribut2in ini2 terus..

    BalasHapus
  26. Terima kasih Ustaadz, ... pencerahan yang luar biasa ....Surga dan Neraka milik-Nya ... kita semua adalah hamba-Nya ...

    BalasHapus
  27. Buat yang koment ini
    "Jangan asal bilang bid'ah mengatakan...

    selama manusia mementingkan ego msg2, pastinya dgn mudah bilang suatu ibadah bid'ah bila Rasul tidak pernah melaksanakan, SAYA TANYA kepada ANDA SEKALIAN yang bilang segala bid'ah itu neraka,

    APAKAH ANDA TAHU AL-QUR'AN DULU BENTUKNYA SEPERTI APA ketika Rasul masih hidup????
    jawab bodoh? Jawab?

    Kalau Anda merasa pintar Anda pasti malu dengan jawaban saya berikut, Al-Qur'an dulunya hanya dihapal, kalaupun ditulis hanya di kulit hewan, pelepah dauh kurma dan tulang, lalu siapa yang membuat jadi seperti sekarang lengkap dengan tanda baca segala,

    itu para sahabat yang sangat dekat dengan Rasul, diantaranya Umar Bin Khatab, Abu Bakar, Ali Bin Abi Thalib, dan Usman Bin Afan...(koreksi bila saya salah)

    Mau tau ceritanya...
    Sahabat Umar takut bilamana qur'an hanya dihapal, nantinya malah banyak salah karena lisan orang pertama dan seterusnya bisa saja berbeda, beliau berpendapat dan mengambil inisiatif untuk membukukannya agar bisa terjaga keasliannya serta tidak salah dalam isinya, awalnya Khalifah Abu Bakar tidak setuju karena menganggap itu adalah bid'ah karena tidak diajarkan Rasul, tetapi sahabat Umar menjelaskan kekhawatirannya, hingga akhirnya beliau setuju...

    Nah ente semua ahli penyebut kami2 ini bid'ah, bila ente mau bilang segala bid'ah itu neraka, kenapa ente masih baca qu'an dalam bentuk sekarang yang jelas2 pada saat Rasul hidup tidak dalam bentuk seperti sekarang ini yang dilengkapi tanda baca agar mudah dibaca semua orang...

    makanya, jangan tutup mata loe semua, kalau memang loe pada mau tau kebenaran...

    untuk penulis, teruskan perjuangan Anda, saya dukung biar pada penuduh bid'ah mau mikir bukan asal bacot g jelas, pahan ente semua...
    Sabtu, Juli 16, 2011 11:34:00 PM "

    Lebih baik mulut anda di jaga, kalo anda semua mau bersikap adil,... tegaskan pula hadist dengan seimbnag. berikan pengertian dengan hikmah,.. bukan emosi anda yang akan meluncurkan anda ke lembah neraka !

    Kalo dasar hukum yang lebih shohih ada kenapa make yang remeng2 ????

    BalasHapus
  28. Kok pada anteng-anteng gini sih???
    Jangan menyamakan/ menganalogikan sholat nisfu sya'ban sama makan durian,
    Jangan menyamakan/ menganalogikan ibadah sama makan durian..

    Jangan menganggap sesama muslim dg panggilan 'bodoh'
    Jangan menunaikan ibadah yg masih jadi perdebatan, remang-remang, bahkan (sdh banyak yg menilai bahwa ada unsur KERAGUAN)

    Kalo sekarang alhamdulillah aku jadi mahaguru/dosen, kok aku akan ngrasa jengkel banget (bahkan murka) kalo ada mahasiswa yg gak ngumpulin Tugas Wajib, tapi malah mengerjakan dan mengumpulkan hasil mengerjakan tugas, yang belum dan tidak pernah aku titahkan kepada para mahasiswaku. Lebih parah lagi, ini mahasiswa malah memprovokasi teman-teman yg lain, untuk ikut mengerjakan tugas "REMANG-REMANG" ini..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jangan menyamakan ibadah dengan durian.
      Jangan menyamakan ibadah dengan tugas kuliah.
      jangan menyamkan dosen dengan TUHAN

      Hapus
  29. ,,,jaman skrang ini,,banyak orang beljar islam dari buku, koran, bacaan dgn tdk mmperdulikan
    siapa pengarang dan penulisnya,,asal caplok saja,,,tdak salah memang,,tetapi cenderung
    banyak yg mentafsir-tafsirkan dengan pmahamn sendriri,,,,tanpa mempunyai guru pembimbing ngaji,,
    sehingga ujug-ujug bid'ah katanya,,,biasanya maaf,,,orng yg "baru" smangat2nya mmpeljari islam,,,
    dan wktu masih kecil,,tdak dibmbing ortunya untuk ngaji,,,,oleh karenanya,,mohon
    kpada rkan-rekan semua,,,mohon dalami isi hadist secara utuh dan bukan parsial dan mintalah
    bimbingan dari guru ngaji,,,, ,,,,,Wallahu'alam.

    BalasHapus
  30. Islam rahmatan lil-alamin. syari'at Islam shalihun li kulli zaman wa makan, namun Islam juga mahjub bil-muslimin. Mari kita belajar Islam dengan mendalami Filsafat Hukum Islam yai Ushul Fiqh. banyak metode/manhaj istinbat al-ahkam, sehingga suatu amalan yang tidak secara eksplisit dijelaskan dalam al-Qur'an dan Hadis bisa menjadi hukum jika secara induksi/istiqra tidak bertentangan dengan nash atau malah didukung nash. jadi yang gampang mengatakan bid'ah2, monggo belajar lagi...Islam itu indah...

    BalasHapus
  31. kalau kita masuk Islam secara kafah hal-hal semacam ini tidak perlu terjadi,karena perbedaan ini adalah rahmat,kapan perbedaan itu menjadi rahmat? jawabanya apabila perbedaan itu jadi sesuatu yang saling melengkapi.Ibarat taman kalau bunganya hanya putih saja taman itu tidak indah taman akan indah apa bila ada beberapa warna yang lain.pernah ada cerita orang yang buta di suruh mengatakan bentuknya gajah, yang satu mengatakan gajah itu seperti kipas karena kebetulan yang dia pegang adalah telinganya,yang satu lagi mengatakan gajah itu besar seperti bedug karena kebetulan yang di pegang adalah perutnya,ada lagi yang mengatakan lain lain karena kebetulan yang kita pahami hanyalah salah satu sisi saja itulah pengalaman orang buta dan saya berharap kita semua janganlah menjadi orang yang buta karena kita tidak akan pernah faham dengan Islam yang sebenarnya kita tahu Islam adalah Indah dan Rahmatan lil Allamin, kalau kita mengaku islam tapi ternyata tidak menjadikan kita indah dan rahmat bagi seluruh alam, maka yang perlu kita lakukan adalah mari kita belajar membuka mata kita supaya kita tidak buta,kalau kita sudah merasa membuka mata kita tapi ternyata masih buta, berarti bukan mata itu yang harus kita buka tapi ada mata lain yaitu mata hati kita, dan cara membuka mata hati kita tidak ada lain hanyalah dengan Zikrulloh....Semoga bermanfaat.AMIIIIIN

    BalasHapus
  32. alhamdu Lillaaah. terima kasih atas apapun komentar anda. itu menunjukkan perhatian anda semua. semoga Allah memberi petunjuk kepada kita semua (Latif/penulis)

    BalasHapus
  33. Jauhi debat kusir itu lebih disukai meskipun engkau dalam keadaan "Benar"

    BalasHapus
  34. GITU AJA KOK REPOT ...

    YANG MAU SILAHKAN YANG TIDAK MAU JUGA SILAHKAN!!!!

    BalasHapus
  35. Alhamdulillah...artikel yg perlu disosialisasikan kepada umat, agar mereka mengenalnya.

    Masalah bid'ah itu biasa, agar mereka mau mencari suatu kebenaran. Kebenaran bisa dicari jika kita mau meneliti diri sendiri.

    Saran saya jika ingin mencari suatu kebenaran, carilah pada diri sendiri jangan pada orang lain. Jika dicari pada orang lain, maka yg ada hanya mencari kesalahan bukan kebenaran.

    Salam Tanbih

    BalasHapus
  36. terimakasih untuk penulis, mudah2an Allah berkahi ilmu anda.

    saya kira orang berilmu tak akan memperdebatkan hingga menimbulkan perpecahan seperti ini.. pelajari islam dengan kaffah dan bijaklah.. ambillah hal yang tidak meragukan..jika anda ragu!!

    BalasHapus
  37. Perbedaan di tangan seorang muslim harusnya menjadi rahmat bukannya menjadi permusuhan, marilah menjadi arif dan saling menghargai, sandarkan segalanya pada Allah, Al- Haq, karena hanya Ia yg Maha Benar dan manusia siapapun dia bisa salah. Smoga Rahmat-Nya selalu menyertai kita semua, amin ya Rabbal alamin.. (Bambang Sugiharto ~ Tumpang)

    BalasHapus
    Balasan
    1. setuju .......................
      Allahuma Sholli Ala Muhammad

      Hapus
  38. Sebaiknya dikembalikan kepada Quran dan sunah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Allahumma sholli ala Muhammad,
      Allahu Akbar

      Hapus
  39. buat yg suka bilang bid,ah: lebih tinggi mana ilmu agama anda yg br melek bc qur,an dan hafal 1,2 hadits, dg org2 yg anda fonis bid'ah yg sdh jelas2 para ulama dan tabi'in yg TDK DIRAGUKAN lg kedalaman ilmu AGAMAnya, ahli dan hafal qur'an & hafal ratusan bahkan ribuan hadis, ahli fiqh..

    BalasHapus
  40. ...ilmu anda tuh tdk ada seujung kukunya para ulama dan tabi'in. mrk org2 yg diberi oleh Allah kecerdasan dan pemahaman diatas rata2 manusia biasa thdp agama. eh ini.. baca qur'an, tajwid sm makhrojnya aja blm bener sdh sok-sokan membid'ahkan..ampuun dah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya pikir dasar untuk mengatakan bidah juga itu tidak karena hanya baca buku lalu bilang bidah tapi juga pasti ada dasar yang kuat yang di ajarkan juga oleh para ulama sehingga sampailah kepada kita, ulama yang mana tentu ulama yang meyakin bahwa itu bidah dan tentu itu hasil dari mempelajari agama dan membandingkan berbagai dasar yang dapat dijadikan pedoman pelaksanaan yang benar. jadi tidak terjadi serta merta karena baru baca buku atau dasar tapi pati ada dasarnya juga. Tingal sekarang dikembalikan kepada kita apakah kita mau meyakini bahwa itu bidah atau tidak ya sudah tinggal kita kerjakan, kalau kita merasa itu benar dan tidak bidah dan mau mengerjakan ya monggo tapi kalau merasa itu mengandung bidah ya sudah tinggalkan, jadi kita kembalikan saja kepada diri masing-masing yang penting kita sudah saling bertukar pikiran untuk menemukan jawaban atas permasalahanya. Mengenai anda percaya yang mana yang benar ya dikembalikan ke masing-masing dan itu akan menjadi tanggungjawab masing-masing juga. Namun demikian kalau sudah ada pihak yang meragukan kebenaranya kalau buat saya lebih baik saya tidak melakukan toh ini pekerjaan sunah, kalaupun tidak dikerjakan tidak menjadi dosa, namun jika benar ini bidah maka saya harus menanggung resiko termasuk orang yang bidah dan ancamanya siksa neraka, mungkin saya akan mencari ibadah sunah lain yang lebih kuat dasarnya. Kalau buat anda silahkan anda yakini sendiri keyakinan anda dan tidak perlu diributkan.

      Hapus
  41. yang mau sholat ya biarkan sholat nisfu sya'ban, yang tidak mau melakukannya ga usah banyak protes, kaya gitu saja umbrus kaya DPR saja suka umbrus.......
    bid'ah atau tidak itu urusan pribadi masing2 nanti di akhirat
    seng badhe sholat nisfu sya'ban ya sumonggo, seng ora yo ojo ngrusui wong sholat ......

    BalasHapus
  42. Benerin dulu Sholat 5 waktunya baru pada debat tentang bid'ah

    BalasHapus
  43. benahi yang wajib, hidupkan yang sunnah

    BalasHapus
  44. "Tidak semua yang tidak dipraktekkan oleh Rasulullah saw dan para sahabatnya menjadi sesuatu yang tidak boleh dilakukan." penulis

    aneh sekali padahal umat islam semuanya mngikuti/mencontoh ibadah yg di ajarkan oleh rosul yg diperintahkan oleh ALLAH SWT. dgn kutipan penulis di atas berarti yg mengikuti sudah mengingkari salah satu rukun iman yaitu iman kepada rosul.
    wasalam

    BalasHapus
  45. Sesungguhnya Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah berfirman (yang artinya) :

    “Pada hari ini telah kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan nikmat-Ku dan telah Kuridhai Islam sebagai agama bagimu “.
    (QS. Al Maidah : 3).

    Dan Rasulullah Shalallahu’alaihi Wassallam pernah pernah bersabda (yang artinya):

    “Barang siapa mengada-adakan satu perkara (dalam agama) yang sebelumnya belum pernah ada, maka ia tertolak “. (HR. Bukhari Muslim)

    dalam riwayat Muslim (yang artinya):

    “Barang siapa mengerjakan perbuatan yang tidak kami perintahkan (dalam agama) maka ia tertolak”.

    Masih banyak lagi hadits-hadits yang senada dengan hadits ini, yang semuanya menunjukan dengan jelas, bahwasanya Allah telah menyempurnakan agama ini untuk umat-Nya. Dia telah mencukupkan nikmat-Nya bagi mereka. Dia tidak mewafatkan nabi Muhammad Shalallahu’alaihi Wassallam kecuali setelah beliau menyelesaikan tugas penyampaian risalahnya kepada umat dan menjelaskan kepada mereka seluruh syariat Allah, baik melalui ucapan maupun pengamalan.

    Beliau menjelaskan segala sesuatu yang akan diada-adakan oleh sekelompok manusia sepeninggalnya dan dinisbahkan kepada ajaran Islam baik berupa ucapan ataupun perbuatan, semuanya bid’ah yang tertolak, meskipun niatnya baik. Para sahabat dan ulama mengetahui hal ini, maka mereka mengingkari perbuatan-perbuatan bid’ah dan memperingatkan kita dari padanya. Hal ini disebutkan oleh mereka yang mengarang tentang pengagungan sunnah dan pengingkaran bid’ah seperti Ibnu Wadhah dan Abi Syamah dan lainnya.

    Diantara bid’ah yang biasa dilakukan oleh banyak orang adalah bid’ah mengadakan upacara peringatan malam nisyfu sya’ban dan mengkhususkan hari tersebut dengan puasa tertentu. Padahal tidak ada satupun dalil yang dapat dijadikan sandaran, memang ada beberapa hadits yang menegaskan keutamaan malam tersebut akan tetapi hadits-hadits tersebut dhaif sehingga tidak dapat dijadikan landasan. Adapun hadits-hadits yang menegaskan keutamaan shalat pada hari tersebut adalah maudhu’ (palsu).

    A1 Hafidz ibnu Rajab dalam bukunya “Lathaiful Ma’arif ‘ mengatakan bahwa perayaan malam nisfu sya’ban adalah bid’ah dan hadits-¬hadits yang menerangkan keutamaannya adalah lemah.

    Imam Abu Bakar At Turthusi berkata dalam bukunya `alhawadits walbida’ : “Diriwayatkan dari wadhoh dari Zaid bin Aslam berkata :”kami belun pernah melihat seorangpun dari sesepuh ahli fiqih kami yang menghadiri perayaan nisyfu sya’ban, tidak mengindahan hadits makhul (dhaif) dan tidak pula memandang adanya keutamaan pada malam tersebut terhadap malam¬-malam lainnya”.

    BalasHapus
  46. Dikatakan kepada Ibnu Maliikah bahwasanya Ziad Annumari berkata:
    “Pahala yang didapat (dari ibadah ) pada malam nisyfu sya’ban menyamai pahala lailatul qadar.
    bnu Maliikah menjawab : Seandainya saya mendengar ucapannya sedang ditangan saya ada tongkat, pasti saya pukul dia. Ziad adalah seorang penceramah.

    Al Allamah Syaukani menulis dalam bukunya, fawaidul majmuah, sebagai berikut : Hadits : “Wahai Ali barang siapa melakukan shalat pada malam nisyfu sya’ban sebanyak seratus rakaat : ia membaca setiap rakaat Al Fatihah dan Qulhuwallahuahad sebanyak sepuluh kali, pasti Allah memenuhi segala …. dan seterusnya.
    Hadits ini adalah maudhu’, pada lafadz-lafadznya menerangkan tentang pahala yang akan diterima oleh pelakunya adalah tidak diragukan kelemahannya bagi orang berakal, sedangkan sanadnya majhul (tidak dikenal). Hadits ini diriwayatkan dari jalan kedua dan ketiga, kesemuanya maudhu ‘ dan perawi¬-perawinya majhul.

    Dalam kitab “Al-Mukhtashar” Syaukani melanjutkan : “Hadits yang menerangkan shalat nisfu sya’ban adalah batil” .

    Ibnu Hibban meriwayatkan hadits dari Ali : “…Jika datang malam nisfu sya’ban bershalat malamlah dan berpusalah pada siang harinya”. Inipun adalah hadits yang dhaif.

    Dalam buku Al-Ala’i diriwayatkan :
    “Seratus rakaat dengan tulus ikhlas pada malam nisfu sya’ban adalah pahalanya sepuluh kali lipat”. Hadits riwayat Ad-Dailamy, hadits ini tidak maudhu; tetapi mayoritas perawinya pada jalan yang ketiga majhul dan dho’if.

    Imam Syaukani berkata : “Hadits yang menerangkan bahwa dua belas raka’ at dengan tulus ikhlas pahalanya adalah tiga puluh kali lipat, maudhu’. Dan hadits empat belas raka’at ….dst adalah maudhu”.

    Para fuqoha’ banyak yang tertipu oleh hadits-¬hadits maudhu’ diatas seperti pengarang Ihya’ Ulumuddin dan sebagian ahli tafsir. Telah diriwayatkan bahwa sholat pada malam itu yakni malam nisfu sya’ban yang telah tersebar ke seluruh pelosok dunia semuanya adalah bathil (tidak benar) dan haditsnya adalah maudhu’.

    Al-Hafidh Al-Iraqy berkata : “Hadits yang menerangkan tentang sholat nisfu sya’ban maudhu’ dan pembohongan atas diri Rasulullallah Shalallahu’alaihi Wassallam.
    Dalam kitab Al-Majmu’, Imam Nawawi berkata :”Shalat yang sering kita kenal dengan shalat ragha’ib berjumlah dua belas raka’at dikerjakan antara maghrib dan isya’ pada malam jum’at pertama bulan rajab, dan sholat seratus raka’at pada malam nisfu sya’ban, dua sholat ini adalah bid’ah dan mungkar.

    Tak boleh seorangpun terpedaya oleh kedua hadits tersebut hanya karena telah disebutkan didalam kitab Qutul Qulub dan Ihya’ Ulumuddin, sebab pada dasarnya hadits-haduts tersebut bathil (tidak boleh diamalkan). Kita tidak boleh cepat mempercayai orang-orang yang menyamarkan hukum bagi kedua hadits yaitu dari kalangan a’immah yang kemudian mengarang lembaran-¬lembaran untuk membolehkan pengamalan kedua hadits tersebut.

    BalasHapus
  47. Syaikh Imam Abu Muhammad Abdurrahman bin Isma’ il Al-Maqdisy telah mengarang suatu buku yang berharga; beliau menolak (menganggap bathil) kedua hadits diatas.
    Dalam penjelasan diatas tadi, seperti ayat-ayat Al-Qur’an dan beberapa hadits serta pendapat para ulama jelaslah bagi pencari kebenaran (haq) bahwa peringatan malam nisfu sya’ ban dengan pengkhususan sholat atau lainnya, dan pengkhususan siang harinya degan puasa itu semua adalah bid’ah dan mungkar tidak ada dasar sandarannya didalam syari’at Islam ini, bahkan hanya merupakan perkara yang diada-adakan dalam Islam setelah masa hidupnya para shahabat. Marilah kita hayati ayat Al-Qur’an dibawah ini (yang artinya):
    “Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu dan telah kucukupkan kepadamu nikmat-Ku dan Ku-Ridhoi Islam sebagai agamamu”.

    Dan banyak lagi ayat-ayat lain yang semakna dengan ayat diatas. Selanjutnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya):
    “Barang siapa mengada-adakan satu perkara (dalam agama) yang sebelumnya belum pernah ada, maka ia tertolak”. (HR. Bukhari Muslim).

    Dalam hadits lain beliau bersabda (yang artinya):
    “Janganlah kamu sekalian mengkhususkan malam jum ‘at dari pada malam-malam lainnya dengan suatu sholat, dan janganlah kamu sekalian mengkhususkan siang harinya untuk berpuasa dari pada hari-hari lainnya, kecuali jika sebelum hari itu telah berpuasa” (HR. Muslim).

    Seandainya pengkhususan suatu malam dengan ibadah tertentu itu dibolehkan oleh Allah, maka bukankah malam jum’at itu lebih baik dari pada malam-malam lainnya, karena hari jum’at adalah hari yang terbaik yang disinari oleh matahari ? Hal ini berdasarkan hadits-hadits Rasulullah Shalallahu’alaihi Wassallam yang shohih.

    Tatkala Rasulullah Shalallahu’alaihi Wassallam telah melarang untuk mengkhususkan sholat pada malam hari itu ini menunjukkan malam yang lainnya lebih tidak boleh lagi. Kecuali jika ada dalil yang shohih yang mengkhususkannya.

    Manakala malam lailatul Qadar dan malam¬-malam bulan puasa itu disyari’atkan supaya sholat dan bersungguh-sungguh dengan ibadah tertentu, Nabi mengingatkan dan menganjurkan kepada ummatnya agar supaya melaksanakan¬nya, beliaupun juga mengerjakannya. Sebagaimana disebutkan didalam hadits yang shohih (yang artinya):
    “Barang siapa melakukan sholat pada malam bulan ramadhan dengan penuh rasa iman dan mengharap pahala niscaya Allah akan mengampuni dosanya yang telah lewat. Dan barangsiapa yang melakukan sholat pada malam lailatul Qadar dengan penuh rasa iman niscaya Allah akan mengampuni dosa yang telah lewat” (Muttafaqun ‘alahi).

    Jika seandainya malam nisfu sya’ban, malam jum’at pertama pada bulan rajab, serta malam isra’ mi’raj diperintahkan untuk dikhususkan dengan upacara atau ibadah tertentu, pastilah Rasululah Shalallahu’alaihi Wassallam menjelaskan kepada ummatnya atau menjalankannya sendiri. Jika memang hal ini pernah terjadi, niscaya telah disampaikan oleh para shahabat kepada kita, mereka tidak akan menyembunyikannya, karena mereka adalah sebaik-baik manusia clan yang paling banyak memberi nasehat setelah Rasululah Shalallahu’alaihi Wassallam.

    Dari pendapat-pendapat ulama tadi anda dapat menyimpulkan bahwa tidak ada ketentuan apapun dari Rasulullah Shalallahu’alaihi Wassallam ataupun dari para sahabat tentang keutamaan malam malam nisfu sya’ban dan malam jum’at pertama pada bulan Rajab.

    Dari sini kita tahu bahwa memperingati perayaan kedua malam tersebut adalah bidah yang diada-adakan dalam Islam, begitu pula pengkhususan dengan ibadah tertentu adalah bid’ah mungkar; sama halnya dengan malam 27 Rajab yang banyak diyakini orang sebagai malam Isra dan Mi’raj, begitu juga tidak boleh dirayakan dengan upacara-upacara ritual, berdasarkan dalil-dalil yang disebutkan tadi.

    BalasHapus
  48. Balasan
    1. http://www.darussalaf.or.id/stories.php?id=330

      Hapus
  49. hati-hati dalam berkomentar, atau memberikan argumen kepada orang lain.kita semua ini hanya sebatas tau dan belajar, dari buku or dari sumber lainnya.
    jangan menghakimi orang lain, yang kita tau sendiri pun belum tentu benar. karena kebenaran hanya milik ALLAh SWT semata. Silakan saja memberikan pendapat, tapi jangan mengatakan pendapat kita benar or paling benar, dan yang lain salah

    BalasHapus
  50. kita sebagai bangsa dan sebagai umat muslim telah ditertawakan oleh mereka kaum yahudi dan nasrani,,,,

    di dalam intern nya sendiri sudah saling sudutkan bagaimana mau melawan kafir yang sudah terorganisir untuk menghancurkan MUSLIM

    ternyata tak salah "al-Islamu mahjubun bil muslim" itu...

    silahkan pulang ke rumah masing-masing dan
    mari sama-sama berkaca,,,

    BalasHapus
  51. Kalo menurut saya siiee...
    selama itu baik tidak bertentangan dengan ajaran agama itu tidak bid'ah... sesungguhnya Allah itu maha adil dan bijaksana dan Allah tidak menolak perbuatan baik hambanya.

    BalasHapus
  52. SILAHKAN BUKA SAUDARA-SAUDARA:
    http://salafytobat.wordpress.com/tag/bantahan-salafytobat-terhadap-website-dan-blog-wahhaby-bantahan-salafytobat-terhadap-wahhaby-sesat-abul-jauzaa-blogspot-darussalaf-com-dsb/

    BalasHapus
  53. Menegakkan kebenaran adalah perjuangan..........

    BalasHapus
  54. knapa banyak orang membid'ah2an pdhl dia apal hadis&al quran itu jelas2 tdk terpuji malah bsa2 smpean sendiri yg bilang bid'ah2 kena laknat/murka allah NA'UDZUBILLAH..LIAT DIRIMU DLU MZ..UDAH BNER GX OMONGAN SMPEAN JANGAN SKA MENGKAFIR_KAFIRKN ORANG...

    BalasHapus
  55. sudah sudah......
    kita semua mempunyai pendapat masing masing
    kita ikutin saja menurut syi'ar kita masing masing.

    BalasHapus
  56. Jangan Melampaui nabi, apa yang telah Rosululloh Muhammad SAW tercinta ajarkan telah lengkap, apakah kita memandang Nabi SAW kurang lengkap? jangan Mengingkari Nabi,
    silahkan kunjungi http://www.darussalaf.or.id/stories.php?id=330

    BalasHapus
  57. assalmkum...sahabat,,, perlu kita ingat,,,apakah ibadah itu wajib atau sunat, apakah ibadah itu di bid'ah kan atau tidak.....semua nya itu dengan maksud yng sama...yaitu IBADAH KITA DITERIMA OLEH ALLAH s.w.t,,,TIDAK ada manusia yng tidak ingin ibadah nya tidak di terima,,,pasti pengen diterima.....MAKA PERHATIKAN ....SESUNGGUHNYA SHOLAT IBADAH ITU INGAT KEPADAKU (allah).....jadi sahabat,,,amal ibadah kita BATAL / DI TOLAK jika kita beribadah tidak karena allah (ingat Allah ),sekalipun kalian beribadah karena takut berdosa (takut masuk Neraka jika tidak melaksanakan atau kalian beribadah karena ingin mendapat pahala (masuk sorga),,,,,,maka dari itu, ingatlah,,belajar,,belajarlah!!! bagaimana cara nya supaya kita beribadah hanya ingat allah,, bukan ingat pahala atau takut masuk neraka,,,,,janganlah kita menduakan tuhan dengan pahala (sorga) dan Mendukan Neraka,,,,karena Mendukan allah adalah Syirik,,,dan Syirik itu tidak di ampuni,,,,

    BalasHapus
  58. Bagi yang membid'ahkan mereka yang memperbanyak ibadah pada malam nisyfu Sya'ban, mohon berkenan menghadirkan hadits shahih yang berisi larangan memperbanyak ibadah pada nisyfu Sya'ban.
    Oya, hadits shahih tentang larangan memperbanyak ibadah di malam nisyfu Sya'ban juga diriwayatkan secara musalsal sehingga sampai kepada antum.
    Silakan, saya tunggu dengan sabar.

    BalasHapus
  59. ga berani komentar..takut merasa paling pintar dan plg benar (kibir jauh lebih bahaya dari bid'ah)

    BalasHapus
  60. Menurut saya , hal yang baik tidak usah di perdebat kan...

    BalasHapus
  61. jadi kesimpulannya sholat nisfu sya'ban itu bid'ah atau tidak? saya masih dibawah umur kakak2 tolong minta pencerahan

    BalasHapus
  62. ASSALAMUALAIKUM WARRAHMATULLAH WABARRAKATUH

    SEBAGAI MUSLIM BIASA YANG MASIH AWAM MASALAH ISLAM, SAYA BINGUNG DENGAN BEDA PENDAPAT INI, SAYA SANGAT INGIN MENGIKUTI SUNNAH TAPI SUNNAHPUN ADA PERBEDAAN PENDAPAT, SAMA-SAMA BERKATA "KAMI MENGIKUTI SUNNAH", AKAN TETAPI PELAKSAANNYA BERBEDA.

    AKHIRNYA SECARA INDIVIDU SAYA MEMBAGI KEDALAM 2 KELOMPOK, KELOMPOK NISFU DAN NON NISFU.

    NON NISFU :

    - DIKERJAKAN : BID'AH, AMALAN TERTOLAK
    - TIDAK DIKERJAKAN : TIDAK BERDOSA

    NISFU :

    - DIKERJAKAN : MENDAPAT PAHALA, MENDAPAT AMPUNAN
    - TIDAK DIKERJAKAN : TIDAK BERDOSA

    DARI KESIMPULAN DIATAS, TIDAK ADA PERDEBATAN UNTUK TIDAK MENGERJAKAN SEMENTARA UNTUK MENGERJAKAN, AMALAN KITA DIPERTARUHKAN. KENAPA? KARENA INI DIPERDEBATKAN. ARTINYA MASING-MASING TIDAK ADA YANG TAHU 100% BAHWA KELOMPOKNYALAH YANG PALING BENAR DIMATA ALLAH DAN RASULNYA PADA AKHIRNYA. DALAM HAL INI SAYA LEBIH MEMILIH TIDAK MENGERJAKAN KARENA PALING TIDAK BERISIKO, SEMENTARA UNTUK PAHALA SAYA AKAN PERBAIKI YG WAJIB-WAJIB DULU BARU DITAMBAH DENGAN IBADAH SUNAH TENTUNYA YANG TIDAK MENGUNDANG PERDEBATAN SEPERTI QOBLIYAH DAN BA'DIYAH.

    SAYA INGIN BERTANYA KEPADA USTAD :

    1. PUSAT PERADABAN ISLAM YAITU ARAB APAKAH MENGERJAKAN NISFU/MAULID INI ?

    2. PADA SAAT NISFU/SYUKURAN/PENGAJIAN/MALAM JUM'AT KENAPA SURAT YANG DIBACA SELALU SURAT YASEEN, PADAHAL SETAU SAYA ADA 114 SURAT, APAKAH MEMANG DIKHUSUSKAN?

    3. APAKAH USTAD YAKIN AKAN PENDAPAT USTAD KELAK NANTI AKAN DIBENARKAN OLEH ALLAH SUBHANAHUWATA'ALA DAN RASULLALLAH ?

    TERIMAKASIH. WASSALAMU'ALAIKUM WARRAHMATULLAH.

    BalasHapus
    Balasan
    1. setuju sekali dengan agan ini ...

      Hapus
  63. Ulasan yang cukup bagus dan jelas..., saya kira orang yang sering bilang bid'ah kadang ilmunya baru dikit dan biasanya belajar otodidak dari buku-buku terjemah yang minim referensi.

    BalasHapus
  64. Mekkah dan Madinah merupakn kota yang disucikan oleh umat islam cuma disayangkan sekarang dalam cengkraman monarki/kerajaan yang mementingkan kekuasaan sehingga membuat perjanjian keamanan dengan Amerika...dan kita sering dengar bagaimana kelakuan pangeran dan raja-raja nya yang tidak sesuai dengan ajaran Nabi...sudah merupakan rahasia umum bagaimana kerajaan membuat perjanjian dengan suatu aliran/paham untuk saling menguntungkan...

    BalasHapus
  65. iya aneh sebenarnya bahas sholat mutlaq atau sholat nisfu sya'ban.
    kalau sholat mutlaq ada dasar nya kalau sholat nisfu sya'ban g ada dasarnya

    BalasHapus
  66. assalamu'alaikum mf...bisa terangkan kitab yang menjelaskan shalat nisfu sy'ban...?

    BalasHapus
  67. “Allah melihat kepada hamba-hambaNya pada malam nisfu Syaaban, maka Dia ampuni semua hamba-hambaNya kecuali musyrik (orang yang syirik) dan yang bermusuh (orang benci membenci)" (Riwayat Ibn Hibban, al-Bazzar dan lain-lain). Al-Albani mensahihkan hadith ini.

    pertanyaanya : masa sih cuman malam nisfu Sya'ban aja Allah melihat kita ?
    Bukankah Allah maha melihat ?
    bukankah Allah itu dekat bahkan lebih dekat dari urat leher kita ?

    kasiaan banget yak kalo dilihat Allah cuman bulan Nisfu Sya'ban aja .

    yang aku tau sih Allah itu selalu mengawasi kita kapan saja dan dimana saja kita berada.

    BarokALLAHi walakum...Salam SATU ISLAM.

    BalasHapus