Selasa, Januari 27, 2009

Liputan Manaqib di Masjid Istiqlal

Sabtu, 24 Januari 2009, Allah anugerahkan cuaca cerah untuk Jakarta di antara awan mendung dan hujan yang turun akhir-akhir ini. Matahari ceria memancarkan cahayanya yang hangat di seluruh permukaan kota yang dulu dikenal Jayakarta. Suasana yang kondusif untuk memulai sebuah aktifitas.

Di pusat kota, tepatnya di Masjid Istiqlal, ribuan orang telah memadati masjid kebanggaan bangsa Indonesia. Sebagian besar jamaah wanita mengenakan busana muslimah putih-putih memenuhi sayap kiri aula utama, meninggalkan kesan hamparan landscape salju di atas dataran Kutub Utara. Di sayap kanan, corak warna-warni sangat kentara ditampilkan oleh balutan busana muslim jamaah pria yang menghadirkan keragaman kultur Indonesia.


Pagi itu Masjid Istiqlal disesaki jamaah Tarekat Qadiriyyah Naqsyabandiyyah (TQN) Pondok Pesantren Suryalaya, Tasikmalaya (baca: TQN Suryalaya). Mereka akan menghadiri kegiatan Manaqib Kubra Syekh Abdul Qadir Al Jailani yang baru pertama kali diselenggarakan di masjid yang menjadi simbol umat muslim Indonesia.

Ribuan jamaah hadir dari berbagai penjuru, 60 buah bus pariwisata yang berkapasitas 40-60 orang dari Kota dan Kabupaten Tasikmalaya berdatangan sejak pukul 3 dinihari. Lima buah bus dari Ciamis tidak ketinggalan, begitu juga dari Tegal dan Pekalongan. Kota dan Kabupaten Bandung demikian. Begitu juga Banten, Lampung dan Palembang. Ikhwan dan akhwat sekitar Jabodetabek berdatangan menjelang acara dimulai, mereka menggunakan moda transportasi pribadi dan umum.

Kegiatan manaqib sebenarnya sudah sering dilaksanakan oleh Jamaah TQN Suryalaya. Setiap tanggal 11 di semua bulan kalender hijriyah mereka berkumpul di pusat orbitnya, yaitu Pondok Pesantren Suryalaya, Desa Tanjungkerta, Kabupaten Tasikmalaya. Di pondok itu, berdiam Sang Mursyid tercinta, KH. Ahmad Shahibul Wafa Tajul ‘Arifin atau yang akrab disapa ABAH ANOM .

Manaqib adalah proses latihan (riyadhah) yang harus dilakukan oleh Ikhwan-akhwat (murid-murid) TQN Suryalaya paling tidak sebulan sekali. Di dalam ritual riyadhah itu dilakukan rangkaian pembacaan ayat suci Al Qur’an, Tanbih (nasehat) dari Syekh Abdullah Mubarak bin Nur Muhammad (pendiri Pondok Pesantren Suryalaya), Tawassul (rangkaian wirid dan do’a khas TQN Suyalaya) dan Manaqib Syekh Abdul Qadir Al Jailani (biografi pendiri Tarekat Qadiriyyah). Kemudian dilanjutkan dengan tausiyah. Biasanya rangkaian ritual di atas dilakukan oleh lima petugas yang berbeda.

Manaqib di Masjid Istiqlal dihadiri oleh beberapa wakil talkin Abah Anom antara lain KH. Abdul Gaos Saefullah Al Maslul (Ajengan Gaos, Ciamis), KH. Amin (Banten), KH. Sirojudin (Tangerang), KH. Beben Dabas (Pamijahan), KH. Asrori Kholil (Bojonegoro), KH. Muhammad Soleh dan KH. Wahfiudin (Jakarta). Hadir pula KH. Ahmad Jauhari perwakilan Departemen Agama RI dan Bapak Efendi Anas utusan Gubernur DKI Jakarta.

Butuh banyak personel untuk mengawal kesuksesan manaqib. Selain panitia inti yang terdiri dari pengurus YSB Suryalaya Kantor Wilayah dan Perwakilan DKI, Himpunan Pemuda Suryalaya (HUDAYA) DKI Jakarta pun turut berjibaku menyumbangkan tenaga dan fikirannya. Sebagian besar panitia bisa terlihat jelas dengan tampilan balutan baju koko putih-putih dihiasi blangkon hitam penutup kepala. Mereka sibuk mengantar jamaah di tempat-tempat yang telah disediakan, membagikan kantong plastik kepada jamaah yang baru datang untuk menyimpan alas kaki, dan lain-lain.

Marsekal Muda (Purn) Mahfudin Taka, Ketua Umum YSB Kantor Pusat berkenan memberikan sambutan seusai rangkaian ritual manaqib. Beliau berharap Pengurus Masjid Istiqlal memberikan ijin untuk kegiatan-kegiatan lain yang diselenggarakan TQN Suryalaya di Masjid Istiqlal. Ucapan terimakasih beliau sampaikan kepada para panitia yang telah mensukeskan kegiatan manaqib, Departemen Agama RI dan Pemda DKI Jakarta yang telah mendukung penuh kegiatan TQN Suyalaya.

Sementara itu KH. Ahmad Jauhari yang tampil sebagai pembicara utama pada khidmah manaqib, menekankan pentingnya kaderisasi dalam komunitas muslim. Beliau mengharapkan dalam setiap keluarga ada satu atau dua anak yang disekolahkan dalam lingkungan agama (pesantren) dan dipersiapkan untuk menjadi ustadz. Karena akhir-akhir ini terjadi krisis kaderisasi pemimpin umat. Beliau menyayangkan kurangnya minat generasi muda muslim Indonesia yang serius mempelajari Islam.

Akhirnya pembelajaran (talkin) dzikir diberikan kepada ribuan jamaah baru seusai khidmah manaqib. KH. Muhammad Soleh, wakil talkin Abah Anom dari Jakarta menyampaikan metode berdzikir ala TQN Suryalaya. Tak ayal, gemuruh dzikir Jahar berupa lantunan kalimat tauhid LAA ILAAHA ILLALLAAH yang dinyatakan berulang-ulang dari lisan ribuan jamaah yang ditalkin, menyempurnakan prosesi manaqib kubro di Masjid Istiqlal.

Siang itu, selepas Shalat Dzuhur berjamaah, Masjid Istiqlal dipenuhi lantunan membahana kalimat tahlil. Ribuan jamaah dengan khidmat dan penuh keikhlasan mengingatkan qalbu-qalbu mereka dengan kalimat-kalimat tauhid. Tidak ada yang harus diingat, kecuali ALLAH. Prosesi riyadhah harian ikhwan akhwat TQN Suryalaya tersebut dipimpin bergantian oleh Ajengan Gaos dan KH. Wahfiudin.

Rawamangun, 27 Januari 2009.

1 komentar:

  1. Artikel yang sangat bermanfaat bagi Ikhwan dan Ikhwan Suryalaya.

    Kalau dilihat dari artikel diatas digambarkan kronologis yang lengkap lengkap sejak awal kedatangan ikhwan dan akhawat TQN ke Istiqlal dan prosesnya. Selain itu para wakil talqin yang datang juga diinfokan.

    Dan foto-foto yang bagus dan menarik, jadi kami mendapatkan gambaran besar ttg Manaqib di Istiqlal untuk yang pertama kalinya

    BalasHapus