Belasan anak-anak usia SD segera
berlarian keluar masjid seusai Imam Shalat Tarawih mengucapkan salam di rakaat
terakhir rangkaian Shalat Tarawih dan Witir yang dipimpinnya. Mereka berebutan
meraih pemukul bedug yang jumlahnya empat pasang dan hanya empat anak tercepat
yang mampu meraih empat pasang pemukul bedug itu. Sedang yang lainnya bersorak
menyemangati kawan-kawannya yang sudah memegang pemukul bedug. Tidak lama
kemudian terdengar suara rampak bedug bersahut-sahutan, meski iramanya tidak
harmonis. Suasana di luar masjid menjadi semarak, sementara di dalam masjid
orang-orang dewasa tetap khusyuk melanjutkan dzikir seusai Shalat Tarawih dan
Witir. Lelah memukul bedug mereka kembali ke dalam masjid untuk mengikuti
kegiatan tadarus al-Qur’an yang dipimpin salah seorang ustadz.
Tampilkan postingan dengan label Ekspresi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ekspresi. Tampilkan semua postingan
Kamis, Juli 03, 2014
Selasa, Mei 04, 2010
Membeli Waktu Papa
Arman adalah seorang karyawan perusaahan yang cukup terkenal di Jakarta, memiliki dua putra. Putra pertama baru berusia 6 tahun bernama Mahdi dan putra kedua berusia 2 tahun bernama Dika. Seperti biasa pukul 21.00 Arman sampai di rumahnya di salah satu sudut Jakarta, setelah seharian penuh bekeja di kantornya. Dalam keremangan lampu halaman rumahnya dia melihat Mahdi putra pertamanya ditemani Bik Yati pembantunya menyambut di gerbang rumah."Kok belum tidur Mahdi?" sapa Arman sambil mencium anaknya. Biasanya Mahdi sudah tidur ketika Arman pulang dari kantor dan baru bangun menjelang Arman berangkat ke kantor keesokan harinya.
"Mahdi menunggu Papa pulang, Mahdi mau tanya, gaji Papa itu berapa sih Pa?" kata Mahdi sambil membuntuti papanya.
"Ada apa nih kok tanya gaji papa segala?"
"Mahdi cuma pingin tahu aja kok Pa?
"Baiklah coba Mahdi hitung sendiri ya. Kerja papa sehari digaji Rp 600.000, nah… selama sebulan rata-rata dihitung 25 hari kerja. Coba hitung berapa gaji papa sebulan?"
"Sehari Papa kerja berapa jam Pa?" tanya Mahdi lebih lanjut.
"Sehari papa kerja 10 jam Mahdi, nah hitung sana, Papa mau melepas sepatu dulu."
Mahdi berlari ke meja belajarnya dan sibuk mencoret-coret dalam kertasnya menghitung gaji papanya. Sementara Arman melepas sepatu dan meminum teh hangat buatan istri tercintanya.
"Kalau begitu, satu bulan Papa digaji Rp 15.000.000 ya Pa? Dan satu jam papa digaji Rp 60.000" Kata Mahdi setelah mencorat-coret sebentar dalam kertasnya sambil membuntuti Arman yang beranjak menuju kamarnya.
"Nah, pinter kamu Mahdi. Sekarang Mahdi cuci kaki lalu bobok" perintah Arman. Namun Mahdi masih saja membuntuti Arman sambil terus memandang papanya yang berganti pakaian.
"Pa, boleh tidak Mahdi pinjam uang Papa Rp 5.000 saja?" tanya Mahdi dengan hati-hati sambil menundukkan kepalanya.
"Sudahlah Mahdi, nggak usah macam-macam, untuk apa minta uang malam-malam begini. Kalau mau uang besok saja. Papa ‘kan capek mau mandi dulu. Sekarang Mahdi tidur supaya besok tidak terlambat ke sekolah!"
"Tapi Pa..."
"Mahdi….!! Papa bilang tidur!" bentak Arman mengejutkan Mahdi.
Segera Mahdi beranjak menuju kamarnya. Setelah mandi Arman menengok kamar anaknya dan menjumpai Mahdi belum tidur. Mahdi sedang terisak pelan sambil memegangi sejumlah uang. Arman nampak menyesal dengan bentakannya.
Dipegangnya kepala Mahdi pelan dan berkata:
"Maafkan Papa ya Nak. Papa sayang sekali pada Mahdi” ditatapnya Mahdi anaknya dengan penuh kasih sambil ikut berbaring di sampingnya.
"Nah katakan pada Papa, untuk apa sih perlu uang malam-malam begini. Besok ‘kan bisa? Jangankan Rp 5.000, lebih banyak dari itu pun akan Papa kasih."
"Mahdi nggak minta uang Papa kok, Mahdi cuma mau pinjam. Nanti akan Mahdi kembalikan, kalau Mahdi udah menabung lagi dari uang jajan Mahdi."
"Iya, tapi untuk apa Mahdi?" tanya Arman dengan lembut.
"Mahdi udah menunggu Papa dari sore tadi, Mahdi nggak mau tidur sebelum ketemu Papa. Mahdi pengen ngajak Papa main ular tangga. Tiga puluh menit saja. Ibu sering bilang bahwa waktu papa berharga. Jadi Mahdi ingin membeli waktu Papa."
"Lalu?" tanya Arman penuh perhatian dan kelihatan belum mengerti.
"Tadi Mahdi membuka tabungan, ada Rp 25.000. Tapi karena Papa bilang satu jam Papa dibayar Rp 60.000, maka untuk setengah jam berarti Rp 30.000. Uang tabungan Mahdi kurang Rp. 5.000. Maka Mahdi ingin pinjam pada Papa. Mahdi ingin membeli waktu Papa setengah jam saja, untuk menemani Mahdi main ular tangga. Mahdi rindu pada Papa." Kata Mahdi polos dengan masih menyisakan isakannya yang tertahan.
"Arman terdiam, dan kehilangan kata-kata. Bocah kecil itu dipeluknya erat-erat, bocah kecil yang menyadarkan bahwa cinta bukan hanya sekedar ungkapan kata-kata belaka namun berupa ungkapan perhatian dan kepedulian.
Kamis, Oktober 22, 2009
Intelektual Muda Bertasawuf? Kenapa Tidak!
Disadari atau tidak, saudara-saudara kita yang datang untuk belajar dzikir kepada wali mursyid Pangersa Abah Anom dapat diklasifikasikan dalam tiga kategori :Pertama, adalah orang-orang yang datang kepada Pangersa Abah dengan membawa segudang masalah, diantara mereka memiliki masalah dengan ketergantungan pada narkoba, tidak sedikit yang memiliki masalah dengan kesehatan fisik dan mentalnya, masalah rumah tangga seumpama belum punya pasangan, baru bercerai, kekerasan dalam rumah tangga dan lain-lain. Juga banyak yang memiliki masalah ekonomi, semisal baru di-PHK dari kantornya, salah mengurus perusahaan hingga menjadi bangkrut, problem dengan teman kerja dan atasan dan sebagainya. Banyak juga diantara mereka yang datang kepada Pangersa Abah untuk mempertahankan posisinya di kantor atau organisasi agar tetap dalam posisi itu, atau yang sedang mengejar-ngejar posisi atau jabatan tertentu.
Kedua, orang yang datang kepada Pangersa Abah karena ia memang berlatar belakang santri. Di kalangan santri tradisional biasanya belum lengkap jika ilmu-ilmu yang sudah ada padanya tanpa dilengkapi ilmu batin. Entah untuk sekadar olah kanuragan atau memang ia sudah terbiasa merafalkan wirid-wirid. Sehingga dengan tambahan wirid dari Pangersa Abah Anom diantara mereka ada yang meningkat kepercayaan dirinya.
Berbagai solusi pun diberikan Pangersa Abah, disesuaikan dengan niatan awal orang-orang yang datang kepada beliau. Untuk golongan pertama cocok untuk mereka solusi pragmatis yang bersifat instan dan hal-hal ajaib. Untuk golongan kedua solusi yang membawa pada ketentraman batin tepat sekali. Sedangkan untuk golongan ketiga mereka akan merasakan jawaban-jawaban substansial atas pertanyaan-pertanyaan selama ini melalui proses pencarian hakikat dengan mempraktekkan seluruh ajaran dari Pangersa Abah.
Memperhatikan ketiga kategori ini maka segmen dakwah TQN pun mengkristal pada kalangan-kalangan sebagai berikut :
1. Masyarakat Awam
2. Pelajar dan Mahasiswa
3. Tokoh-tokoh yang berpengaruh di masyarakat
4. Ilmuwan dan Profesional
Diibaratkan sebuah piramida, kalangan pertama adalah kalangan yang paling banyak dan berada pada lapisan terbawah, lapisan diatasnya jumlahnya agak lebih sedikit dibanding yang pertama. Diatasnya lagi kelompok ketiga. Posisi teratas ditempati oleh kelompok keempat. Untuk memperkokoh, memperluas dan meningkatkan bangunan piramida, kita harus mempertinggi puncak dan memperluas landasannya. Agar dakwah TQN semakin meluas dan diterima seluruh kelompok masyarakat, kita harus banyak menjaring keempat kelompok diatas.
Kelompok pertama adalah kelompok yang banyak berdatangan kepada Pangersa Abah tanpa melalui proses ‘penjaringan’ tertentu. Mereka bisa datang langsung dan belajar dzikir dilatarbelakangi oleh berbagai masalah yang mereka hadapi. Sedangkan tiga kelompok sisanya memerlukan pendekatan yang bersifat ilmiah dan rasional. Untuk ketiga kelompok inilah program dakwah TQN Jakarta difokuskan.
Agar dakwah TQN mampu menembus tiga kelompok ini maka para muballigh-muballighah TQN butuh pembekalan yang konstruktif, kolektif dan tepat sasaran. Untuk itu perlu berbagai pelatihan bagi para muballigh-muballighah dalam rangka pembekalan itu, semisal pelatihan dakwah transformatif, pelatihan imam khataman dan petugas manaqib, pelatihan-pelatihan yang bersifat peningkatan wawasan keagamaan, pelatihan-pelatihan bersifat psikologi semacam hypnotherapy, NLP, Spiritual Thinking dan lain-lain.
Gerakan dakwah yang menembus kalangan pelajar SLTP, SLTA dan Perguruan Tinggi sudah banyak dilakukan oleh kalangan aktivis islam dari berbagai macam organisasi. Mereka masuk melalui badan kerohanian Islam (rohis) di sekolah-sekolah atau kampus. Mereka berikan doktrin-doktrin keagamaan yang beragam, dari yang lembut hingga yang paling ekstrim. Dari hasil binaan melalui rohis ini banyak hal-hal positif bermunculan. Tidak sedikit kaum muda yang bergabung dalam rohis pengetahuan keagamaannya semakin meningkat. Bahkan tidak jarang diantara mereka menjadi aktivis dakwah sehingga bermunculan kader-kader dakwah yang berkelanjutan.
Sayangnya, gerakan ini dimanfaatkan oleh kelompok-kelompok tertentu yang mempunyai agenda dan idealisme tertentu yang bertentangan dengan prinsip-prinsip kebhinekaan dan persatuan nasional. Alhasil, belum lama ini kita saksikan dalam pemberitaan di media-media nasional bahwa eksekutor bom berdaya ledak tinggi di hotel JW Marriott dan Ritz Carlton pada 17 Juli 2009 lalu adalah anak-anak muda yang baru saja lulus SLTA. Mirisnya, kedua eksekutor ini adalah aktivis kegiatan islam di lingkungannya masing-masing.
Menyikapi fenomena tersebut Korwil Jakarta merasa terpanggil untuk membenahi pola pembinaan islam pada kader-kader muda yang potensial ini. Jika kelompok-kelompok ekstrim mampu masuk ke kalangan mereka, mengapa tasawuf tidak? Tentu harus dipikirkan pola apa yang cocok agar kalangan pelajar dan mahasiswa mampu memahami ajaran tasawuf.
Tentu saja ini perlu disebarluaskan dan ditingkatkan kuantitasnya di berbagai belahan wilayah kota di DKI Jakarta. Karena itu pula, tepat sekali apabila kursus-kursus singkat dasar ketasawufan ini diperkenalkan kepada sekolah-sekolah tingkat SLTP, SLTA dan Perguruan Tinggi dengan promosi yang gencar dan terintegrasi. Perlu diingat, pola penyampaiannya pun harus disesuaikan dengan bahasa yang mereka fahami. Dengan demikian akan semakin banyak kalangan pelajar dan intelektual muda yang familiar dengan tasawuf. (han)
Selasa, Juli 28, 2009
Lembaga Bahasa dan Ilmu Al Qur’an (LBIQ)
Dalam membina mental spiritual warganya khususnya di bidang pendalaman Ilmu Al Qur’an dan Bahasa Arab, Pemerintah DKI Jakarta membentuk sebuah lembaga pembelajaran. Lembaga itu adalah Lembaga Bahasa dan Ilmu al-Qur’an (LBIQ). Di dalam lembaga yang mirip perguruan tinggi ini diselenggarakan dua buah program, yakni Program Reguler dan Non Reguler.
Untuk Program Reguler, LBIQ memberikan pengajaran membaca al Qur’an, Bahasa Arab dan Bahasa Arab Qur’ani. Pengajaran Membaca Al Qur’an diselenggarakan setiap hari Selasa dan Kamis, sedangkan pengajaran Bahasa Arab dan Bahasa Arab Qur’ani setiap hari Senin, Rabu dan Jum’at. Program Reguler pelaksanaannya dibagi dalam 3 shift. Shift I pukul 08.00-10.00 WIB, Shift II pukul 10.00-12.00 WIB dan Shift III pukul 13.00-15.00 WIB.
Program Non Reguler menyelenggarakan Halaqah Kader Agama, Halaqah Guru Pembina (Halgubin), Pendidikan Guru Bahasa Arab (PGBA), Pendidikan Guru Agama (PGA), Kajian Al Qur’an, Studi Naskah dan Ulumul Qur’an (SNUQ) dan Tahsinuttilawah. Program Non regular dilaksanakan seminggu sekali setelah selesai Program Reguler yaitu sekitar pukul 15.30-17.00, Senin s.d. Kamis.

LBIQ tidak memungut biaya sepeser pun dalam program pengajaran ini, karena itu banyak sekali warga yang berminat untuk mengikutinya. Tercatat, sejak awal berdirinya, yaitu tahun 2004 hingga tahun 2008 berturut-turut untuk Pengajaran Membaca Al-Qur’an, Bahasa Arab dan Bahasa Arab Qur’ani peserta LBIQ semakin meningkat. Catatan terakhir, di tahun 2008 ada 4281 warga yang mengikuti program pengajaran Membaca Al Qur’an, 2015 warga mengikuti program pengajaran Bahasa Arab dan 714 warga mengikuti program pengajaran Bahasa Arab Qur’ani.
Lokasi LBIQ pada mulanya terletak di kawasan Tanah Abang, kemudian pada awal tahun 2008 LBIQ berpindah ke gedung kantor Walikota Jakarta Selatan yang lama, tepatnya di Jl. Trunojoyo 1 Kebayoran Baru Jakarta Selatan. Diapit oleh Gedung Sekretariat ASEAN dan Gedung Mabes Kepolisian Republik Indonesia. LBIQ menempati dua lantai di BLOK V, yaitu di lantai 5 dan 6. Tersedia 9 ruang belajar untuk para peserta, dari Ruang A hingga Ruang I.
Lembaga yang dipimpin oleh H. Damanudin Ibnu Majani, SE, Msi ini merekrut tim dosen dari berbagai perguruan tinggi di DKI Jakarta. Sebagian besar dari Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta dan Universitas Negeri Jakarta (UNJ).
Biasanya LBIQ membuka pendaftaran baru untuk Program Reguler tiga bulan sekali, Pendaftaran yang terdekat ini akan dibuka pada 10-12Agustus 2009 Pukul 09.00-15.00 WIB. Tidak ada persyaratan khusus untuk bisa masuk menjadi peserta LBIQ. Calon peserta hanya disyaratkan menyerahkan fotocopy KTP/identitas diri lainnya (Tidak harus DKI Jakarta), Pasfoto ukuran 3X4 berwarna tiga lembar, mengisi formulir pendaftaran dan membayar kupon ZIS sebesar Rp.10.000,- saja. Untuk menghubungi petugas pendaftaran silakan hubungi (021) 722 4238.
Selanjutnya akan diadakan tes tulis dan lisan untuk menyaring calon peserta. Hasil tes ini akan mengklasifikasikan para calon peserta pengajaran Bahasa Arab dan Bahasa Arab Qur'ani dalam 9 kategori, yaitu Dasar 1 hingga Dasar 3, Menengah 1 hingga Menengah 3 dan Lanjutan 1 hingga Lanjutan 3. Sedangkan untuk Program membaca Al Qur'an di bagi dalam Dasar 1 hingga Dasar 2, Menengah 1 hingga menengah 2 dan Tartil 1 hingga Tartil 2.
Calon-calon peserta yang telah lulus tes akan memulai belajarnya seminggu kemudian. Dalam tiga bulan mereka akan menempa pelajaran dari tiga program yang diselenggarakan sesuai dengan klasifikasi tingkatannya. Di akhir bulan ke-3, para peserta akan menerima ujian kenaikan tingkat, berupa tes tulis dan lisan. Dengan demikian peserta LBIQ butuh waktu 9 kali 3 bulan atau kurang lebih 2,5 tahun untuk menuntaskan pendidikannya dari tingkat Dasar 1 hingga Lanjutan 3.

Sedang untuk Program Non Reguler, masa belajarnya lebih pendek dari Program Reguler, yaitu hanya satu tahun saja. Pelaksanannya pun hanya seminggu sekali. Biasanya pembukaan untuk pendaftaran peserta baru dilaksanakan pada awal tahun.
Peserta LBIQ terdiri dari berbagai latar belakang, diantara mereka ada mahasiswa atau mahasiswi yang sedang menempa ilmu di perguruan tinggi lain, pedagang, karyawan lepas, para ustadz, ibu-ibu rumah tangga, para pensiunan dan lain-lain.
Terlihat kesibukan di lokasi LBIQ ketika pergantian waktu belajar. Ratusan orang menapaki anak-anak tangga, naik dan turun dari lantai 1 hingga lantai 6 dengan penuh semangat. Demi menekuni dan keinginan kuat untuk menguasi ilmu-ilmu Al Qur’an dan Bahasa Arab meski sebagian besar peserta usianya tidak lagi muda.
Semoga Allah SWT memberkahi dan memudahkan mereka menimba ilmuNYa. (han)
Kamis, Juli 02, 2009
Mengharap Figur Pemimpin Berwawasan Global
Oleh : Handri Ramadian*)
Sambil menulis artikel ini, penulis mencari informasi mengenai tema globalisasi melalui telepon selular di dunia maya. Tidak membutuhkan waktu lama, cukup dengan 30 detik saja, mbah google telah memberikan ratusan informasi yang saya cari. Informasi ini mudah saya dapatkan tanpa harus memiliki modem sebagai penghubung laptop dan server google nun jauh di negeri Paman Sam sana. Telepon selular generasi mutakhir telah memiliki fasilitas modem built in sebagai media yang turut mempermudah pencarian informasi ini.
Inilah realitas kehidupan yang dihadapi masyarakat modern saat ini, serba cepat, mudah dan akurat. Memang, belum semua kemudahan teknologi informasi dapat dinikmati oleh semua penduduk Indonesia, tetapi paling tidak di berbagai kota besar di seluruh Indonesia kemudahan dan kenyamanan ini sudah menjadi trend.
Penduduk Indonesia, terutama yang tinggal di Ibukota sejak era 90-an mulai mengenal dunia internet. Intensitasnya semakin meningkat semenjak berbagai regulasi yang diatur pemerintah mendukung penuh arus globalisasi di dunia teknologi dan informasi. Warung-warung internet tumbuh bak jamur di sudut-sudut kota. Kita menjadi lebih sering melihat anak-anak sekolah seusia SD hingga mahasiswa nongkrong di depan komputer selepas jam belajar untuk bermain game online, bergabung dalam situs pertemanan semisal friendster atau facebook. Bahkan ada yang sudah memiliki situs pribadi gratisan melalui jasa seumpama blogger, wordpress atau multiply sebagai sarana aktualisasi diri atau menjalankan bisnis online kecil-kecilan.
Akibatnya masyarakat Jakarta menjadi lebih pintar, lebih kritis dan lebih agresif. Tidak mudah mempercayai sebuah informasi yang datang kepadanya. Mereka akan selalu melakukan chek and rechek atas semua informasi sebelum membuat sebuah keputusan.
Begitu juga dengan informasi religius. Mereka tidak akan langsung mempercayai sebuah dalil agama yang diberikan seorang penceramah, meski penceramah itu terkenal alim dan memiliki popularitas. Mereka akan melakukan crosschek ke penceramah-penceramah lain atau mencari sendiri kebenaran informasi itu melalui dunia internet.
Hal ini menjadi sebuah tantangan khusus dalam usaha dakwah. Seorang da’i abad 21 dituntut untuk cepat belajar dan menguasai permasalahan sosial masyarakat secara menyeluruh dan mampu menyikapi dengan bijak. Tidak hanya dalil agama saja namun harus mampu menyelami berbagai aspek kehidupan termasuk kemajuan teknologi dan informasi.
Dalam kaitan dengan usaha dakwah, dakwah Thariqat Qadiriyyah Naqsyabandiyyah (TQN) Ponpes Suryalaya belum menyentuh seluruh masyarakat Jakarta. Berdasarkan buku jadwal manaqib tahun 2009 yang diterbitkan oleh Yayasan Serba Bakti (YSB) Pontren Suryalaya Korwil DKI Jakarta, tercatat ada 84 tempat. Jika kita asumsikan yang tidak tercatat sebanyak 50%-nya dan rata-rata yang hadir pada majlis manaqib tersebut 100 orang maka pengamal TQN Suryalaya di Jakarta yang aktif baru sekitar 12.600-an orang. Ini berarti kurang dari 2% jumlah penduduk Jakarta yang sudah mencapai 12 juta lebih.
Sudah menjadi tugas dan kewajiban setiap ikhwan untuk membantu Mursyid menyebarkan dan mengembangkan ajaran TQN Suryalaya yang merupakan bagian dari ruh Islam. Semua aktivis dzikir TQN Suryalaya pasti telah merasakan nikmat dan berkah mengamalkan amalan ini. Tapi, kenikmatan dan ketenangan pribadi tidak cukup. Perlu ditularkan kepada umat muslim lainnya. Kesadaran untuk turut menularkan berita gembira ini kepada seluruh mukmin sudah sering digembar-gemborkan oleh banyak muballigh TQN Suryalaya, baik di forum manaqib di Pontren Suryalaya maupun di tempat-tempat lain.
Kita memerlukan sistem dakwah yang terorganisir untuk mewujudkan cita-cita Pondok Pesantren Suryalaya menjadi Pusat Tarekat Asia Tenggara sebagaimana dicetuskan pada ulang tahun 1 abad Pondok Pesantren Suryalaya pada 5 September 2005. Sebuah sistem yang sesuai dengan pendekatan kehidupan masyarakat global.
TQN Suryalaya memiliki banyak muballigh berkompeten dalam disiplin ilmu keislaman. Tidak sedikit juga ikhwan-akhwat yang memiliki kapabilitas cendekia dalam disiplin ilmu umum dan eksak. Pebisnis sukses aktivis dzikir TQN Suryalaya pun jumlahnya sangat banyak. Begitu juga organisatoris handal yang memiliki segudang pengalaman organisasi di masyarakat, entah itu LSM atau partai politik. Jika semua potensi itu digabungkan dan dengan menggunakan metode dakwah yang tepat, niscaya percepatan jumlah aktivis dzkir TQN Suryalaya akan mengalami peningkatan drastis.
Sebenarnya Pangersa Abah Anom telah menyediakan wadah untuk menggabungkan potensi-potensi itu, yakni Yayasan Serba Bakti (YSB). Melalui YSB, ikhwan-akhwat dapat menyalurkan kiprah khidmahnya.
Selain di pusat, YSB telah memiliki banyak koordinator wilayah di hampir seluruh provinsi Indonesia termasuk DKI Jakarta.
Karena berkedudukan di Ibukota Negara, YSB Korwil DKI Jakarta memegang peranan yang sangat penting dalam merealisasikan tugas membangun masyarakat, bangsa dan negara yang gemah ripah repeh rapih, baldatun thayyibatun wa rabbun ghafuur sebagaimana yang dipesankan Pangersa Abah Anom dalam sambutannya saat acara pelantikan pengurus YSB Korwil DKI Jakarta masa bakti 2004-2009.
Ia diharapkan menjadi tolok ukur keberhasilan pembinaan ikhwan-akhwat material dan spiritual. Ia menjadi perantara komunikasi Pontren Suryalaya dengan pemerintah pusat. Ia menjadi pintu gerbang komunitas internasional sebelum masuk ke dalam lingkaran persaudaraan TQN Ponpes Suryalaya. Ia menjadi filter akibat gencarnya arus informasi yang masuk tanpa batas melalui media globalisasi. Setidaknya itulah yang bisa dirasakan dari sudut pandang kedudukan wilayahnya.
Sadar dengan kedudukan strategis ini, pengurus yang akan mengakhiri masa baktinya pada Agustus 2009 berinisiatif menyelenggarakan Musyawarah Daerah (Musda) pada 18 Juli 2009. Melalui Musda, pengurus berharap ada kandidat-kandidat ketua umum yang datang dari ikhwan-akhwat dan kandidat-kandidat terpilih tersebut kemudian diajukan kepada pengurus pusat YSB dan Sesepuh Pontren Suryalaya.
Berlandaskan tantangan-tantangan yang dihadapi pada era globalisasi ini, setidaknya ada beberapa kriteria pendukung bagi kandidat yang akan diajukan sebagai Ketua, antara lain:
1. Aktif dalam kegiatan-kegiatan riyadhoh yang diajarkan Pangersa Abah Anom, seperti dzikir harian, khataman dan manaqiban.
2. Memiliki jiwa kepemimpinan sesuai Tanbih Syekh Abdullah Mubarak bin Nur Muhammad.
3. Memiliki sikap rela berkorban demi kepentingan bersama sesuai tuntunan Syekh Mursyid Pangersa Abah Anom.
4. Memiliki visi universal dan global.
5. Memiliki jejaring sosial yang luas.
6. Memiliki komitmen mengedepankan kesejahteraan ikhwan-akhwat melalui program-program pembinaan pada lini-lini strategis kehidupan.
Pembaca yang budiman, di luar sana, banyak bertebaran komunitas-komunitas spiritual semacam komunitas kita. Masing-masing komunitas mempunyai cara-cara khusus dalam mengembangkan dakwah yang pada hakikatnya bertujuan sama, yaitu mengharap ridho Allah SWT. Cara-cara khusus itu belakangan menjadi identitas komunitas-komunitas tersebut. Sebut saja Ust. Arifin Ilham dengan komunitas Az Zikra-nya, Ust. Yusuf Mansur dengan komunitas Wisata Hati dan program PPA-nya. Komunitas Tarekat Murabithun dengan program Kembali ke Dinar-Dirham. Komunitas Tarekat Shidiqiyyah dengan program renovasi rumah tidak layak huni untuk para anggotanya.
Demikian, Pangersa Abah Anom yang banyak memiliki ide kreatif telah mempelopori beberapa kegiatan terbarukan, salah satunya rehabilitasi korban penyalahgunaan narkoba melalui program inabah, jauh sebelum komunitas-komunitas yang kita sebut di atas melakukan programnya. Tetapi sebagai murid, rasa-rasanya belum banyak yang kita lakukan untuk kemaslahatan umat sebagai wujud khidmah kepada beliau.
Melalui khidmah dalam kepengurusan YSB, baik di pusat, wilayah maupun perwakilan, hendaknya menjadi motivator untuk lebih banyak berbuat mensejahterakan umat. Caranya...? Tuangkan ide kreatif anda, berfikir out of the box dan laksanakan ide tersebut. Insya Allah, Pangersa Abah selalu membimbing kita dalam setiap langkah kebajikan yang kita tempuh.
Semoga melalui tulisan ini, pembaca menjadi tergugah untuk sama-sama bersinergi meraih kemuliaan di hadapan Allah SWT dan diakui sebagai murid Yang Mulia Wali Mursyid KH. Ahmad Shahibul Wafa Tajul ‘Arifin.
*)Trainer dan Muballigh, Co-Trainer Radix Training Center-Jakarta, Ketua Korps Muballigh Aqabah Sejahtera-Jakarta, Alumnus Pelatihan Muballigh Tasawuf (PMT) Angkatan I Yayasan Aqabah Sejahtera-Jakarta..
Senin, April 27, 2009
Ya Allah... Hamba segera datang kepadaMu
Hmm... gambaran diriku dan istriku mengenakan pakaian ihrom semakin jelas. Ya Allah mudahkanlah hamba dan istri hamba bertamu ke rumahMu yang suci....
Alhamdulillah. Berkah Allah SWT. Berkah Rasulullah SAW. Berkah Guru Mursyid Syekh Ahmad Shahibul Wafa Tajul 'Arifin ra. Insya Allah kerinduan diri untuk berjumpa denganNya di Tanah Haramayn segera terwujud.
Sobat tercinta... Belum lama ini Allah telah memberikan rezeki yang sering Allah sebutkan dalam firman-firmanNya di Kitab Suci Al Qur'an kepada kami sepasang suami istri.
Wallaahu yarzuqu man yasyaa' bighayri hisab (An nur : 38)
Dan Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa perhitungan (manusia)
Allah Maha Benar. Rezeki ini datang tanpa disangka-sangka. Senin, 6 April 2009 ada salah satu jamaah penulis mengirimkan pesan singkat melalui handphone. Saat itu Penulis sedang ada di Lasem Rembang, Jawa Tengah.
"Pa ustadz, Assalamu'alaykum wr.wb. Maaf ya Pak, saya mau tanya apakah pa Ustadz punya niat untuk berangkat haji? Saya dapat amanat dari seseorang yang berniat untuk memberangkatkan haji pa Ustadz. Maka saya memberanikan diri untuk tanya dulu ke pa ustadz. Kalo Pa Ustadz berkenan, maka akan diproses dan semua masalah teknisnya terserah pa Ustadz..."
Demikian bunyi sms itu. Diri ini serasa kejatuhan rembulan. Bukk... ketimpa beban besar tapi ringan sekaligus serasa ada enlighment. Luar biasa. Qalbu ini serasa ingin cepat-cepat berjumpa dengannya.
Memang... entah mengapa. Selepas pelaksanaan musim haji tahun 2008 kemarin kerinduan penulis untuk berjumpa Rasulullah saw, berziarah ke Makkah al Mukarromah dan Madinah Al Munawwaroh semakin menggebu-gebu. Seakan berkata pada diri sendiri, "Aku harus mewujudkan visi ini".
Entah doa yang mana yang membuat keinginan ini dikabulkan Allah SWT. Mungkin dari hasil pengabdian kepada guru Mursyid selama ini melalui jalan dakwah bersama mentor tercinta Al ustadz Al Mukarrom Al Hajj Wahfiudin, atau do'a dari sahabat-sahabat yang sering melakukan perjalanan umrah dan haji akhir-akhir ini. Atau buah dari ujian-ujian yang telah Allah SWT bebankan kepada keluarga kami selama ini. Wallaahu A'lam. Yang jelas Allah SWT untuk kesekian kalinya telah menunjukkan kekuasaanNya kepada kami.
Setelah penulis menjawab sms jamaah tersebut, kembali ia mengirimkan pesannya:
"Alhamdulillah. Kalau begitu mari kita realisasikan niat ini sesegera mungkin. Saya akan sampaikan pada orang tersebut. Dan selanjutnya dana akan ditransfer ke rekening ustadz. Semoga semua berjalan selamat dan lancar ya. Thanks Ustadz"
Begitulah... akhirnya hari-hari penulis disibukkan oleh pengurusan administrasi pemberangkatan ke tanah suci melalui ONH biasa (dananya nggak cukup kalo berangkat pake ONH Plus he...he...he...). Setelah menimbang-nimbang berbagai informasi yang penulis terima, akhirnya kami memutuskan untuk berangkat dari kampung halaman penulis di kabupaten Bogor.
Kenapa di kabupaten Bogor?
Setelah bertanya-tanya kepada orang-orang yang berpengalaman dan ke kantor urusan haji berbagai daerah, Kabupaten Bogor masih relatif lebih singkat waktu waiting listnya. Menurut mereka nomor porsi kami ada pada waiting list di tahun 2011, dibanding DKI Jakarta waiting listnya untuk yang daftar di tahun 2009 ini bisa terdata di tahun 2013. Kebayang kan lamanya....
Penulis mohon do'a kepada para bloggers, semoga perjalanan ini dimudahkan dan diselamatkan oleh Allah SWT serta menjadi haji yang mabrur. Amiin...
Kepada penyandang dana yang mulia Bapak Haji .... bin... dan Ibu Hajjah ... binti... (mereka berdua tidak mau disebutkan namanya dan minta untuk dirahasiakan) terimakasih banyak atas kemurahan hati bapak dan ibu. Semoga amal jariyah ini bermanfaat dan mengalir berkahnya untuk umat. Semoga Allah membalas amal baik bapak dan ibu dengan pahala yang berlipat-lipat dan Allah SWT memasukkan bapak dan ibu dalam jajaran para syahidin dan muqorrobiin.
Jumat, Februari 20, 2009
TIGA ANAK KEMBAR HONEYMOON
Dikampung saya, ada sebuah keluarga keturunan darah biru. Hidupnya terhormat, tutur katanya sopan dan terjaga. mereka tidak pernah mengucapkan kata-kata kotor dan murahan. Keluarga tersebut memiliki anak kembar yang cantik dan kompak selalu. Baju, sepatu dan semua asesoris di badan harus selalu sama. Namanyapun hampir mirip yaitu Ita, Tia dan Ati.Begitupula ketika mereka menikah. Mereka meminta dilakukan di hari yang sama. Setelah pesta pernikahan usai mereka pergi berbulan madu ke Bali. Sebagai orang tua yang sayang kepada mereka maka kedua orang tuanya minta dikabari tentang segala hal yang terjadi ketika honeymoon.
Supaya praktis dan murah, berita dikirim lewat sms saja. Tetapi agar sms-nya singkat dan tidak terlalu vulgar serta tetap sopan disepakati memakai kode berupa slogan-slogan yang ada dalam iklan.
Dua hari setelah bulan madu, diterimalah sms dari anak pertamanya Ita. Isi sms-nya cukup singkat: “Standard Chartered”. Segera kedua orang tua itu mencari iklan standard chartered di koran. Dan ditemukanlah iklan yang berbunyi, “besar, kuat, dan bersahabat” Kedua orang tua yang terpandang ini tersenyum.
Di hari ketiga, datang sms dari Tia. Isi sms-nya juga sangat pendek; “Susu Bendera Coklat” Karena tidak sabar ingin tahu apa maknanya segeralah mereka mencari koran dan majalah yang memuat iklan Susu Bendera Coklat. Setelah ditemukan, ternyata iklan itu berbunyi: “Nikmatnya sampai tetes akhir” Kedua orang tua itu bahagia luar biasa.Hari keempat, tidak ada sms yang datang. Hari kelima juga tidak ada yang datang. Mereka berdua mulai gelisah. Genap di hari ketujuh mereka menangis tersedu-sedu karena tidak ada kabar apapun.
Dihari ke delapan, mereka tersenyum bahagia karena menerima sms dari Ati. Isinya sangat singkat: “Papa, Mama tolong lihat Cathay Pasifik”. Penasaran apa makna pesan sms itu, mereka segera mencari koran dan majalah untuk melihat iklan Cathay Pasifik. Dan begitu ditemukan, iklan itu dibaca bersama oleh mereka: “7x seminggu, 3x sehari, 5 jam nonstop”. Kedua orang itu, tersenyum sambil berucap: “koq kita gak sehebat mereka ya?” Bagaimana dengan Anda? he…he….(Ide cerita ini bukan murni dari saya, saya hanya mengolahnya. Termasuk nama-nama di cerita ini hanya khayalan belaka. Semoga mengurangi kepenatan Anda. Salam SuksesMulia)
Jamil Azzaini, Komunitas SuksesMulia
Rabu, Februari 11, 2009
Nikmatnya Gorengan
Agak berbeda, pagi ini ada secangkir kopi. Meskipun jarang minum kopi, tapi karena di depan mata udah tersedia, ya sudah deh diseruput juga.
Gorengan….? Ya, benar. Ini makanan favorit Sadeng. Apalagi kalo masih panas. Nyummi banget tuh. Sehari aja tanpa gorengan, kayaknya ada yang kurang, gitu. Apalagi kalo lagi berlibur ker rumah ortu di Sadeng-Leuwiliang, nyokap dah tau, tuh. Tahu kuning yang digoreng tanpa tepung terigu dan masih panas, wuih… top punya, coiiii...!!!
Meruya, 11 Februari 2009
Jumat, Januari 02, 2009
Unrenewable, Unsubstituted, Unrecycled

Oleh Wahfiudin
Di sebuah siang, selesai shalat dzuhur penulis membuka-buka Al-Qur’an. Tiba-tiba mata penulis tertuju pada sebuah ayat dalam surat Al-Anbiya (21).
Ayat pertama dalam surat itu sangat menarik perhatian penulis. Berulang-ulang ayat itu penulis baca.
Telah dekat kepada manusia hari menghisab segala amalan mereka, sedang mereka berada dalam kelalaian lagi berpaling (daripadanya) (QS Al Anbiya’ : 1)
Bahwa semakin dekat kepada manusia, saat-saat perhitungan untuk mereka, tapi mereka karena bodohnya, karena lalainya lalu mengabaikan semua itu. Hal ini mengandung makna perjalanan waktu terus berputar. Waktu makin dekat dan akan datang saatnya kita menghadapi perhitungan-perhitungan atas segala perbuatan di dunia, namun kita sering lalai. Karena bodohnya kita atau karena sibuknya kita.
Manusia adalah mahluk serba bisa, bisa bertindak apa saja. Manusia bisa menggali gunung yang di dalamnya banyak tanah, pasir dan bebatuan, tidak hanya yang kecil bahkan yang besar-besar. Manusia mampu menyelam ke dalam lautan yang sangat dalam sekalipun. Manusia mampu menjelajah ruang angkasa. Manusia mampu menciptakan kabel yang sangat tipis namun bisa dilalui oleh informasi yang sangat banyak, manusia bisa membuat jaringan komunikasi, mendekatkan jarak yang saling berjauhan di dunia, melelaui teknologi internet.
Nah, segala macam kehebatan sains dan teknologi itu memperkokoh keyakinan pada diri kita bahwa manusia dapat melakukan segala-galanya. Kemudian muncul sebuah pertanyaan dalam benak penulis, kalau memang manusia bisa mengatasi semua masalahnya, suatu saat nanti, maka keyakinan akan keberadaan Tuhan bisa saja semakin hari semakin tipis. Kemudian manusia semakin punya harapan bahwa kehidupan itu bisa lebih dinikmati dengan semakin panjang karena segala-galanya bisa diciptakan. Kesan-kesan seperti itu muncul manakala kita menyadari keberadaan yang kolektif bersama manusia lain. Ketika kita sadar, kita hidup bersama manusia lain. Saling memberikan manfaat, maka seakan-akan muncul kekuatan itu, kepercayaan diri.
Tetapi seringkali kita lupa bahwa kita juga makhluk individual yang Allah mematikan manusia dengan konsep-konsep yang tidak kolektif. Setiap manusia menghadap Allah secara individu. Hubungan manusia dengan Allah bersifat individual yang tercermin pada Surat Al Baqarah ayat 286 :
… Lahaa Maa Kasabat Wa ‘alayhaa mak tasabat… artinya …seseorang mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya…
Termasuk di dalamnya peristiwa kematian. Ia bersifat individual dan tidak bisa dicegah secara kolektif. Biasanya apabila manusia menghadapi kematiannya, ia akan sangat egois. Perhatikan kisah-kisah kapal laut yang karam, pada beberapa peristiwa kecelakaan kapal laut, para penumpangnya lebih menyelamatkan dirinya sendiri, meski di sampingnya ada anggota keluarga terdekat. Seorang ayah, secara sadar atau tidak, melepas anaknya. Suami istri saling melepas pasangannya ketika diamuk gelombang dan disaat mulai tenggelam.
Perhatikan juga Al Qur’an Surat ‘Abasa [80] ayat 33-37:
“Dan apabila datang suara yang memekakkan (tiupan sangkakala yang kedua) (33) pada hari ketika manusia lari dari saudara-saudaranya (34) dari ibu dan bapaknya (35) dari istri dan anak-anaknya (36) Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya (37)”
Dengan kemajuan teknologi, manusia akhirnya berasumsi kiamat rasanya masih panjang, karena segala macam problem-problem alam, bencana-bencana alam, masih bisa diatasi oleh manusia secara kolektif. Tetapi lain halnya dengan kematian. Ia tidak bisa dihindari secara kolektif maupun individual. Ia kapan saja bisa datang, sehingga wajar orang bilang kematian adalah kiamat kecil.
Jika kita renungkan, semakin hari kiamat kecil semakin dekat dengan kita. Usia kita, meski secara urut baris selalu bertambah, tetapi ternyata semakin mendekati azal, sementara kita tidak sadar apa yang sudah kita perbuat dalam hidup ini.
Allah Swt berfirman dalam surat Al Hasyr [59]:18
Artinya: “ Hai orang-orang yang beriman bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat)…
Lagi-lagi itu tadi; “Iqtaraba linnas” artinya telah semakin dekat bagi manusia saat-saat evaluasi untuk dirinya, saat-saat perhitungan untuk dirinya. Namun kebanyakan manusia terlena dalam kelalaiannya sehingga mengingkari keberadaan mati dan kiamat itu. Secara kolektif mungkin masih berpikiran kiamat ‘masih panjang’ tetapi secara individual tidak lama lagi kita akan mati. Apabila pada setiap pertambahan tahun terjadi pengurangan jatah kehidupan. Sedangkan Allah membatasi usia hingga umur 40 tahun, sekarang 39 tahun, maka sisa satu tahun lagi. Betapa singkat waktu tersisa bagi kita. Rugilah kita apabila hidup tidak diisi dengan iman dan amal shaleh.
Berbicara masalah waktu ada beberapa hal yang berhubungan dengan waktu, antara lain :• Waktu adalah sesuatu yang unrenewable, sesuatu yang tidak bisa diperbaharui,
• Waktu adalah sesuatu yang unsubstituted, sesuatu yang tidak bisa diganti,
• Waktu adalah sesuatu yang unrecycled, sesuatu yang tidak bisa diulang.
Untuk memahaminya kita ambil permisalan salah satu sumber daya alam kita, minyak bumi. Minyak merupakan sumber daya alam yang terpendam di dalam bumi. Fosil-fosil yang ratusan ribu mungkin jutaan tahun terpendam di dalam bumi mendapat tekanan dan temperatur tinggi berubah menjadi minyak. Tetapi ketika minyak sudah disedot keluar dan dibakar, orang tidak bisa memperbaharui, tidak bisa menanam bibit minyak lagi, dia sumber daya alam yang unrenewable, yang tidak bisa diperbaharui. Berbeda dengan tumbuh-tumbuhan, contoh pohon padi, setelah selesai dipanen, kita bisa cari bibitnya, benihnya. Lalu kita tanami kembali. Pohon padi adalah sesuatu yang newable, bisa diperbaharui. Sedangkan waktu tidak bisa diperbaharui kembali.
Tetapi walaupun minyak habis dan tidak bisa diperbaharui, dia masih bisa tersubstitusi artinya ada alternatif pengganti. Jika minyak habis masih ada energi batu bara, energi panas bumi, energi nuklir. Sedangkan yang namanya waktu bukan saja tidak ada alternatifnya, tetapi juga tidak ada pengganti (unsubstitusi). Jadi jika waktu telah habis/berlalu maka tidak ada apa-apa lagi.
Jika waktu bisa diulang (recycled) mungkin kita ingin jadi kanak-kanak lagi. Karena masa kanak-kanak itu masa-masa indah, masa-masa tanpa problema.
Terkadang waktu membuat manusia lupa diri bahwa dia sesungguhnya memiliki kelemahan. Kira-kira melalui cara apa kita bisa introspeksi terhadap diri kita, karena selama ini kadang kita tidak merasa kalau kita telah berbuat suatu kedzaliman atau kesalahan kepada pihak lain, mungkin ada langkah-langkah tertentu agar kita juga mengingat kembali kalau kita salah ?
Masalahnya adalah apakah kita bisa melihat diri kita jika kita masih ada di dalam diri sendiri? Mari kita ambil sebuah ilustrasi. Mengapa dalam sebuah pertandingan sepakbola, di dalam stadion, penonton yang berada di tribun atas lebih pintar dari pemain yang ada di lapangan? Jawabannya, karena penonton yang ada di tribun atas berjarak dengan permainan, maka penonton bisa melihat seluruh permainan. Jarak pandang pemain hanyalah apa yang ada di depannya, sedangkan pendangan penonton di tribun atas lebih luas. Mereka bisa melihat kekosongan, kekurangan, kelebihan atau kesalahan pemain. Begitu juga dalam hidup, apakah kita bisa melakukan evaluasi jika kita masih terlibat dalam aktifitas kehidupan?Kita cenderung baru bisa menghargai isteri kalau sedang jauh darinya. Jika isteri tak ada terpaksa harus masak sendiri, mencuci sendiri, dan lain-lain. Para istri juga baru bisa menghargai suami jika sedang jauh dari suami. Jika suami pergi keluar kota, turun hujan lalu atap rumah bocor, banyak air tergenang di dalam rumah, lalu mulai berangan-angan ”jika saja suamiku ada… ah…. kan, lumayan bisa memperbaiki atap yang bocor.”
Rabu, Desember 31, 2008
Uang Zakat Jadi Jaket

Ketua Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) mendadak mengumpulkan para pengurus ba’da Shalat Isya malam itu. Ketua DKM berencana mengadakan rapat penting. Ada sesuatu yang harus dibicarakan dengan pengurus-pengurus yang lain. Ini ada kaitannya dengan dana zakat masyarakat yang dikumpulkan melalui DKM.
Selama ini dana zakat mal penduduk sekitar masjid dikelola oleh salah seorang pengurus DKM, Gani. Gani adalah sosok pemuda jujur dan rajin di mata seluruh pengurus selama ini. Karena kejujuran dan kerajinannya Gani diberi kepercayaan menerima dan mengelola dana zakat masyarakat. Dan dana zakat itu kini telah memasuki tahun ketiga dikelola oleh Gani.
Dua tahun pertama dana zakat dikelola Gani, semua lancar-lancar saja. Pengurus DKM merasa puas. Pengurus pun semakin percaya kepada Gani. Namun, masuk tahun ketiga Gani mulai kelihatan perilaku anehnya. Gani tidak lagi memberikan laporan rutin setiap bulan kepada ketua DKM. Setiap ditanya, ada saja alasan yang dibuatnya. Ketua DKM mulai curiga.
Selidik punya selidik, ternyata ada sesuatu yang ganjil pada Gani. Akhir-akhir ini Gani tampak berpenampilan perlente. Setiap hari ia kelihatan mengenakan jaket kulit mengkilat berwana hitam. Kemana-mana jaket kulit itu selalu melekat di tubuhnya. Memang dengan tambahan penampilan berupa jaket kulit yang membungkus tubuh atletisnya, Gani terlihat lebih eye catching. Dan Gani menjadi lebih percaya diri.
Tidak hanya jaket, di rumah, Gani banyak menyimpan barang-barang yang tergolong wah. Ada televisi layar datar berukuran 27” dilengkapi satu set soundsystem bermerk. Ruang tamunya dihiasi satu set sofa empuk bernilai diatas sepuluh jutaan. Juga perabotan-perabotan rumah tangga lainnya.
Perubahan prilaku Gani dipicu oleh sikap istrinya. Selama ini kehidupan ekonomi keluarga mereka selalu pas-pasan. Dana zakat yang lumayan besar dan dipercayakan kepada Gani untuk dikelola, mengundang keinginan istrinya untuk sedikit mengecap manisnya uang masyarakat itu. Maka ia mulai merayu-rayu Gani untuk sedikit demi sedikit menyisihkan dana zakat itu. Laporan rutin tetap dilaporkan, tapi nilainya tidak sesuai dengan fakta. Praktek penyelewengan ini mulai dilakukan ketika memasuki tahun kedua.
Ketua DKM sebenarnya sudah lama mendengar perilaku aneh Gani. Namun ia tetap mempercayai Gani, karena Gani selalu rutin memberikan laporan. Tetapi ia tidak bisa berdiam diri, saat di tahun ketiga laporan mulai tersendat. Akhirnya ketua DKM memanggil Gani dan berbicara empat mata.
Setelah diinterogasi, Gani mengaku salah. Tetapi Gani tidak mampu mengembalikan dana zakat yang telah ia gunakan. Semuanya telah berganti menjadi aset keluarga Gani.
Rupanya kejadian inilah yang membuat Ketua DKM memanggil pengurus yang lain untuk rapat mendadak. Kebetulan Gali juga jamaah tetap Masjid yang tidak jauh dari tempat kostnya ini. Kasak-kusuk adanya rapat mendadak itu tidak luput dari perhatian Gali.
Meruya, 17 Desember 2008
Rabu, Desember 17, 2008
Salim dan Mocin, Merentas Kendala Dakwah
Hari sudah beranjak sore ketika Salim berkemas, mempersiapkan semua perlengkapan untuk berbicara di depan para peserta Pelatihan Muballigh di sebuah pesantren. Panitia pelatihan mengundangnya memaparkan materi tentang pengantar Ilmu Falak Dasar ditinjau dari sudut ilmiah kekinian.
Meski ini pengalaman pertamakali menyampaikan ilmu falak, ia tetap bersemangat menyiapkan segala sesuatunya. Bekal sudah ia dapatkan. Ia banyak menyimak Ustadz pembimbingnya berbicara masalah ini. Juga beberapa referensi yang didapat dari sumber informasi modern, internet. Materi dalam bentuk power point pun sudah ia siapkan. Ia bergumam dalam hati kecil, Ya Allah mudahkanlah urusanku, janganlah Engkau persulit. Ya Allah sempurnakanlah Kebaikan-Mu padaku.
Motor Cina kreditan dari kantor telah siap sedia. Banyak kisah suka dan duka yang ia alami bersama motor kesayangannya ini. Sebuah anugerah istimewa dari Allah yang ia peroleh seusai mengelola program sosial untuk narapidana dan tahanan di sebuah lembaga pemasyarakatan di Tangerang. Walau harus mencicil, mocin ini dianggapnya sebagaimana bouraq Rasulullah SAW ketika melakukan Isra dan Mi’raj. Sebuah kendaraan yang memiliki misi dakwah. Dan memang itulah tugas yang sedang diemban mocinnya. Dengan mocin merahnya ini, Salim telah banyak menyelesaikan tugas dakwah ke berbagai lokasi di Jobodetabek.
Sama seperti hari-hari sebelumnya, mocin yang sudah menemani Salim selama dua tahun lebih ini harus dicek di sana-sini. Maklum kalau mocin sudah ngadat, ongkos perbaikannya nggak tanggung-tanggung, bisa separo harga mocin bekas. Tekanan angin pada ban dicek, rem depan dan belakang demikian, tidak ketinggalan lampu-lampu. Hari ini Salim akan melakukan perjalanan dakwah yang lumayan jauh. Ke wilayah Bogor, tepatnya di Cilengsi.
Setelah semua siap, Salim berangkat. Perlahan ia arahkan mocin ke arah Jalan Raya Bogor, melalui Cawang – Cililitan – Kramat Jati - Cibinong. Ia putuskan untuk menyusuri Jalan Raya Bogor dan berbelok ke arah Citeureup. Karena jalur ini yang sering ia lewati ketika berkunjung ke rumah kakak iparnya di kawasan Citeureup. Dari situ ia akan menyusuri jalan dua arah Citeureup-Cilengsi yang dipenuhi mobil-mobil truk pengangkut bahan dasar semen. Pikirnya, dengan melewati jalur ini maksimal pukul tujuh malam ia sudah tiba di lokasi pelatihan.
Manusia boleh berencana, tetapi Allah SWT Sang Pemilik Takdir. Hujan deras turun membasahi bumi ketika Salim baru sampai Condet. Ia tidak jadi menyusuri Jalan Raya Bogor melalui Kramat Jati karena khawatir terperangkap macet. Setelah beristirahat sebentar di depan sebuah Ruko yang telah ditinggal pulang karyawannya, Salim mengeluarkan jas hujan lalu mengenakannya. Salim kembali melanjutkan perjalanan.
Adzan Maghrib berkumandang ketika Salim sampai di Cibinong. Langit masih menurunkan hujannya ke atas bumi, walau sudah sedikit mengecil. Ia singgah di sebuah pom bensin dekat pintu tol Jagorawi, di Citeureup. Rupanya mocin kesayangannya ini kehausan. Memang, ia juga perlu beristirahat setelah dua jam lebih mematung diri, duduk di atas jok. Salim perlu peregangan otot, sekalian shalat Maghrib mumpung waktunya belum habis.
Usai istirahat, Salim bertanya kepada petugas pom bensin yang kebetulan melaksanakan shalat Maghrib bersamanya, “Permisi Mas, numpang tanya. Kalo ke arah Taman Buah Mekarsari, berapa kilometer lagi, ya? Kira-kira jam berapa sampai sana?”
“E… kurang lebih 35 kilometer lagi, Pak. Ya…, tergantung kecepatan motornya. Kalo lari santai kira-kira satu setengah jam lagi deh dari sekarang,” jawab petugas pom bensin.
Salim kembali melanjutkan perjalanan. Gerimis masih belum reda. Kecepatan motor dipacunya perlahan. Ketika melalui jalan Cituereup-Cileungsi, ia harus ekstra hati-hati. Jalan beraspal menjadi licin karena diguyur hujan, sementara truk-truk pengangkut bahan dasar semen berjalan beriringan membentuk antrian semut. Salim harus cerdik mencari celah jalan untuk menyalip diantara antrian itu. Akhirnya Salim keluar dari perangkap antrian truk setelah melewati perempatan Cibubur-Bekasi-Cilengsi-Citeureup.
Setelah melewati perempatan itu, jalan relatif lebih sepi. Salim lebih leluasa memacu motornya ke kecepatan yang lebih tinggi. Namun ia tetap harus berhati-hati. Kadang ia harus nge-rem mendadak ketika berhadapan dengan perbedaan permukaan aspal. Maklum, ternyata sedang ada pengerjaan perbaikan jalan di jalur tersebut.
Di depan pintu gerbang Taman Buah Mekarsari, Salim menghubungi panitia melalui ponsel. Ia dipandu untuk sampai ke lokasi pelatihan. Salim masih beranggapan bahwa lokasinya pasti berdekatan dengan Taman Buah Mekarsari. Tetapi setelah mendengar panduan dari panitia, urat-urat tubuh Salim melemas. “Masya Allah, masih jauh rupanya,” lirih Salim. Tetapi karena sudah bertekad, Salim membuang jauh-jauh pikiran sempit itu. “Aku harus tiba di lokasi. Peserta sudah menungguku. Masa sudah jauh sampai sini, mau mundur. Jangan menyerah, Salim!” seru hati kecil Salim.
Berdasarkan panduan panita, Salim kembali menyusuri jalan raya. Sesekali Salim berhenti dan bertanya kepada penduduk yang ditemuinya. Sampailah ia di mulut desa tempat lokasi pesantren berada. Setelah bertanya kepada salah satu tukang ojek di dekat sebuah mini market dan ditunjukkan jalan ke arah pesantren yang dimaksud, hati Salim mulai berbunga. “Hmm… Alhamdulillah. Akhirnya sampai juga,” gumamnya.
Tetapi, dalam melaksanakan sebuah kebaikan pasti ada ujiannya. Salim masih menyusuri jalan desa untuk masuk ke pesantren. Sebuah komplek perumahan sederhana yang kelihatannya baru dihuni oleh beberapa pembelinya, ia lewati. Selepas itu jalan menjadi gelap. Tidak ada penerangan. Lampu-lampu jalan desa padam. Ternyata PLN memadamkan aliran listriknya ke desa tersebut karena hujan yang terus turun sejak sore tadi.
Pandangan Salim kabur. Ia hanya mengandalkan penerangan mocinnya yang sudah mulai suram. Marka jalan menuju pesantren tidak bisa dilihatnya. Kini Salim mengandalkan ketajaman feeling. Sepertinya ia telah jauh masuk ke dalam desa. Cepat-cepat Salim mengeluarkan ponsel dan menghubungi panitia. Benar saja, ia tersasar cukup jauh. Kembali Salim dipandu.
Akhirnya Salim menemukan papan penunjuk lokasi pesantren. Ukurannya sangat kecil. Dengan kondisi yang gelap gulita sebagaimana saat itu, wajar saja papan itu tidak terlihat. Hati-hati Salim menyusuri jalan ke arah pesantren. Kondisi jalan tidak lagi beraspal. Tanah yang diguyur hujan sejak sore mengakibatkan becek. Salim harus meningkatkan kewaspadaan melalui jalur yang cocok untuk pembalap motocross.
Semakin ke dalam kondisi jalan semakin parah. Salim tidak berani menggunakan rem belakang. Khawatir ban belakang slip. Ia hanya berakselerasi dengan gigi satu. Kecepatan antara 0-10 km per jam. Di hadapannya jalan becek serasa kubangan lumpur. Salim masih belum tahu dimana lokasi pesantren sesungguhnya.
Tiba di sebuah jembatan kecil yang kondisi jalannya agak lebih baik dibanding yang lain, Salim melemparkan pandangan jauh ke depan. Semua serba gelap. Pandangannya terhenti di sebuah padang yang lapang. Ia tahu bahwa itu lapang karena ada pantulan cahaya dari kejauhan yang menerpa pandangannya. Tidak nampak sebuah kehidupan masyarakat di sana-sini. Kanan-kiri jalan kelihatan hanya ilalang setinggi satu meter. Salim mulai meragu. Jangan-jangan ia tersesat lagi.
Salim memutuskan berputar arah. Ia sempat melihat jalan setapak di kiri jalan yang barusan dilalui. “Mungkin jalan setapak itu yang sesungguhnya jalan menuju pesantren,” serunya lirih. Tiba di jalan itu, keraguan kembali menghampiri Salim. “Ah, kayaknya jalan ini nggak menuju pesantren. Daripada nyasar lagi, ya sudah Aku hubungi panitia lagi, deh.” Beberapa detik kemudian Salim mengeluarkan ponselnya. Ia kabarkan posisi mutakhir. Ternyata, benar. Salim kembali tersesat. Harusnya ia lurus terus di jalan tadi sebelum berputar arah dan harus melewati jalan berbecek yang tidak berujung.
Kemudian Salim kembali ke jalan berbecek. Ia semakin meningkatkan kewaspadaan agar tidak tergelincir. Setelah ia berlalu sejauh 100 meter, barulah ia temui pintu gerbang pesantren. Alhamdulillah. Akhirnya datang juga.
Di lokasi pesantren sinar lampu listrik tidak padam sebagaimana di jalan-jalan tadi. Rupanya komplek pesantren dialiri listrik dari generator. Tidak heran aktivitas pendidikan Islam tidak pernah berhenti. Salim disambut panitia dengan senyum gembira. Mereka pikir, Salim tidak akan sampai ke pesantren mereka. Tetapi, itulah Kuasa Allah. Jika Dia sudah Menghendaki terjadi, ya terjadilah. Salim memandangi motor dan dirinya. Kotor. Di sana-sini bercak-bercak lumpur menempel. Salim meminta ijin untuk membersihkan diri sebelum melakukan presentasi di depan peserta pelatihan.
Meruya, 16 Desember 2008
Meski ini pengalaman pertamakali menyampaikan ilmu falak, ia tetap bersemangat menyiapkan segala sesuatunya. Bekal sudah ia dapatkan. Ia banyak menyimak Ustadz pembimbingnya berbicara masalah ini. Juga beberapa referensi yang didapat dari sumber informasi modern, internet. Materi dalam bentuk power point pun sudah ia siapkan. Ia bergumam dalam hati kecil, Ya Allah mudahkanlah urusanku, janganlah Engkau persulit. Ya Allah sempurnakanlah Kebaikan-Mu padaku.
Sama seperti hari-hari sebelumnya, mocin yang sudah menemani Salim selama dua tahun lebih ini harus dicek di sana-sini. Maklum kalau mocin sudah ngadat, ongkos perbaikannya nggak tanggung-tanggung, bisa separo harga mocin bekas. Tekanan angin pada ban dicek, rem depan dan belakang demikian, tidak ketinggalan lampu-lampu. Hari ini Salim akan melakukan perjalanan dakwah yang lumayan jauh. Ke wilayah Bogor, tepatnya di Cilengsi.
Setelah semua siap, Salim berangkat. Perlahan ia arahkan mocin ke arah Jalan Raya Bogor, melalui Cawang – Cililitan – Kramat Jati - Cibinong. Ia putuskan untuk menyusuri Jalan Raya Bogor dan berbelok ke arah Citeureup. Karena jalur ini yang sering ia lewati ketika berkunjung ke rumah kakak iparnya di kawasan Citeureup. Dari situ ia akan menyusuri jalan dua arah Citeureup-Cilengsi yang dipenuhi mobil-mobil truk pengangkut bahan dasar semen. Pikirnya, dengan melewati jalur ini maksimal pukul tujuh malam ia sudah tiba di lokasi pelatihan.
Manusia boleh berencana, tetapi Allah SWT Sang Pemilik Takdir. Hujan deras turun membasahi bumi ketika Salim baru sampai Condet. Ia tidak jadi menyusuri Jalan Raya Bogor melalui Kramat Jati karena khawatir terperangkap macet. Setelah beristirahat sebentar di depan sebuah Ruko yang telah ditinggal pulang karyawannya, Salim mengeluarkan jas hujan lalu mengenakannya. Salim kembali melanjutkan perjalanan.Adzan Maghrib berkumandang ketika Salim sampai di Cibinong. Langit masih menurunkan hujannya ke atas bumi, walau sudah sedikit mengecil. Ia singgah di sebuah pom bensin dekat pintu tol Jagorawi, di Citeureup. Rupanya mocin kesayangannya ini kehausan. Memang, ia juga perlu beristirahat setelah dua jam lebih mematung diri, duduk di atas jok. Salim perlu peregangan otot, sekalian shalat Maghrib mumpung waktunya belum habis.
Usai istirahat, Salim bertanya kepada petugas pom bensin yang kebetulan melaksanakan shalat Maghrib bersamanya, “Permisi Mas, numpang tanya. Kalo ke arah Taman Buah Mekarsari, berapa kilometer lagi, ya? Kira-kira jam berapa sampai sana?”
“E… kurang lebih 35 kilometer lagi, Pak. Ya…, tergantung kecepatan motornya. Kalo lari santai kira-kira satu setengah jam lagi deh dari sekarang,” jawab petugas pom bensin.
Salim kembali melanjutkan perjalanan. Gerimis masih belum reda. Kecepatan motor dipacunya perlahan. Ketika melalui jalan Cituereup-Cileungsi, ia harus ekstra hati-hati. Jalan beraspal menjadi licin karena diguyur hujan, sementara truk-truk pengangkut bahan dasar semen berjalan beriringan membentuk antrian semut. Salim harus cerdik mencari celah jalan untuk menyalip diantara antrian itu. Akhirnya Salim keluar dari perangkap antrian truk setelah melewati perempatan Cibubur-Bekasi-Cilengsi-Citeureup. Setelah melewati perempatan itu, jalan relatif lebih sepi. Salim lebih leluasa memacu motornya ke kecepatan yang lebih tinggi. Namun ia tetap harus berhati-hati. Kadang ia harus nge-rem mendadak ketika berhadapan dengan perbedaan permukaan aspal. Maklum, ternyata sedang ada pengerjaan perbaikan jalan di jalur tersebut.
Di depan pintu gerbang Taman Buah Mekarsari, Salim menghubungi panitia melalui ponsel. Ia dipandu untuk sampai ke lokasi pelatihan. Salim masih beranggapan bahwa lokasinya pasti berdekatan dengan Taman Buah Mekarsari. Tetapi setelah mendengar panduan dari panitia, urat-urat tubuh Salim melemas. “Masya Allah, masih jauh rupanya,” lirih Salim. Tetapi karena sudah bertekad, Salim membuang jauh-jauh pikiran sempit itu. “Aku harus tiba di lokasi. Peserta sudah menungguku. Masa sudah jauh sampai sini, mau mundur. Jangan menyerah, Salim!” seru hati kecil Salim.
Berdasarkan panduan panita, Salim kembali menyusuri jalan raya. Sesekali Salim berhenti dan bertanya kepada penduduk yang ditemuinya. Sampailah ia di mulut desa tempat lokasi pesantren berada. Setelah bertanya kepada salah satu tukang ojek di dekat sebuah mini market dan ditunjukkan jalan ke arah pesantren yang dimaksud, hati Salim mulai berbunga. “Hmm… Alhamdulillah. Akhirnya sampai juga,” gumamnya.
Tetapi, dalam melaksanakan sebuah kebaikan pasti ada ujiannya. Salim masih menyusuri jalan desa untuk masuk ke pesantren. Sebuah komplek perumahan sederhana yang kelihatannya baru dihuni oleh beberapa pembelinya, ia lewati. Selepas itu jalan menjadi gelap. Tidak ada penerangan. Lampu-lampu jalan desa padam. Ternyata PLN memadamkan aliran listriknya ke desa tersebut karena hujan yang terus turun sejak sore tadi.
Pandangan Salim kabur. Ia hanya mengandalkan penerangan mocinnya yang sudah mulai suram. Marka jalan menuju pesantren tidak bisa dilihatnya. Kini Salim mengandalkan ketajaman feeling. Sepertinya ia telah jauh masuk ke dalam desa. Cepat-cepat Salim mengeluarkan ponsel dan menghubungi panitia. Benar saja, ia tersasar cukup jauh. Kembali Salim dipandu.
Akhirnya Salim menemukan papan penunjuk lokasi pesantren. Ukurannya sangat kecil. Dengan kondisi yang gelap gulita sebagaimana saat itu, wajar saja papan itu tidak terlihat. Hati-hati Salim menyusuri jalan ke arah pesantren. Kondisi jalan tidak lagi beraspal. Tanah yang diguyur hujan sejak sore mengakibatkan becek. Salim harus meningkatkan kewaspadaan melalui jalur yang cocok untuk pembalap motocross.
Semakin ke dalam kondisi jalan semakin parah. Salim tidak berani menggunakan rem belakang. Khawatir ban belakang slip. Ia hanya berakselerasi dengan gigi satu. Kecepatan antara 0-10 km per jam. Di hadapannya jalan becek serasa kubangan lumpur. Salim masih belum tahu dimana lokasi pesantren sesungguhnya. Tiba di sebuah jembatan kecil yang kondisi jalannya agak lebih baik dibanding yang lain, Salim melemparkan pandangan jauh ke depan. Semua serba gelap. Pandangannya terhenti di sebuah padang yang lapang. Ia tahu bahwa itu lapang karena ada pantulan cahaya dari kejauhan yang menerpa pandangannya. Tidak nampak sebuah kehidupan masyarakat di sana-sini. Kanan-kiri jalan kelihatan hanya ilalang setinggi satu meter. Salim mulai meragu. Jangan-jangan ia tersesat lagi.
Salim memutuskan berputar arah. Ia sempat melihat jalan setapak di kiri jalan yang barusan dilalui. “Mungkin jalan setapak itu yang sesungguhnya jalan menuju pesantren,” serunya lirih. Tiba di jalan itu, keraguan kembali menghampiri Salim. “Ah, kayaknya jalan ini nggak menuju pesantren. Daripada nyasar lagi, ya sudah Aku hubungi panitia lagi, deh.” Beberapa detik kemudian Salim mengeluarkan ponselnya. Ia kabarkan posisi mutakhir. Ternyata, benar. Salim kembali tersesat. Harusnya ia lurus terus di jalan tadi sebelum berputar arah dan harus melewati jalan berbecek yang tidak berujung. Kemudian Salim kembali ke jalan berbecek. Ia semakin meningkatkan kewaspadaan agar tidak tergelincir. Setelah ia berlalu sejauh 100 meter, barulah ia temui pintu gerbang pesantren. Alhamdulillah. Akhirnya datang juga.
Di lokasi pesantren sinar lampu listrik tidak padam sebagaimana di jalan-jalan tadi. Rupanya komplek pesantren dialiri listrik dari generator. Tidak heran aktivitas pendidikan Islam tidak pernah berhenti. Salim disambut panitia dengan senyum gembira. Mereka pikir, Salim tidak akan sampai ke pesantren mereka. Tetapi, itulah Kuasa Allah. Jika Dia sudah Menghendaki terjadi, ya terjadilah. Salim memandangi motor dan dirinya. Kotor. Di sana-sini bercak-bercak lumpur menempel. Salim meminta ijin untuk membersihkan diri sebelum melakukan presentasi di depan peserta pelatihan.
Meruya, 16 Desember 2008
Selasa, Desember 16, 2008
Ketika Dua Psikolog Berbeda Madzhab Bertemu...
13 - 14 Desember 2008
Di Ruang 503 Training Center Bank Mandiri,
Jl. Tanah Abang Timur-Jakarta Pusat,
Sebuah Halaqah Psychotherapy terselenggara,
RADIX adalah dalangnya,
Kang ASEP sang Figur Utama,
Seorang Psikolog Forensik dari Cilacap,
Ikut menjadi pengecap,
Nikmatnya menu-menu dari Ciputat.
Pengasuh Pondok Pesantren Hyonotherapy - Ciputat
Praktisi HRD di berbagai perusahaan nasional
Dosen tamu di Universitas Indonesia, UIN Jakarta, Universitas Kebangsaan Malaysia dan lain-lain,
Penulis aktif di Portal NLP
Psikolog Forensik RSUD Cilacap
Anggota HIMPSI Jaya
Pembicara di berbagai seminar Psikologi Forensik
Hanyalah Partisipan...
Yang ingin beradu untung,
Syukur-syukur menjadi therapiest,
Kalo nggak buat orang lain,
ya buat diri sendiri...
Gitu aja kok repot :)
Ketika Sang Psikolog Forensik,
Mempertanyakan beragam disiplin dan ilmu psikologi,
Dan Sang Psychotherapiest menjelaskan,
Kemudian terjadi dialog indah,
Bagaikan Syekh Siti Jenar,
dan Sunan Kalijaga Beradu argumentasi,
Ini dua orang pinter,
lagi ngomongin apa ya...
he.. he... he...
Sang Psikolog Forensik
Minta diterapi
Jumat, Desember 12, 2008
Daging Restan, Kok Dijual?
Jam 03.00 dini hari Pak Parjo, pengusaha warung nasi sederhana di pertigaan jalan masuk menuju kampus Gali sudah terjaga dari tidurnya. Ia bergegas menuju pasar pagi untuk membeli bahan-bahan makanan yang akan dimasak. Rutinitas yang sudah dijalaninya dua tahun belakangan ini.
Di pasar, dengan lincahnya Pak Parjo menyusuri lorong-lorong setapak yang terdapat lapak-lapak pedagang di sisi kanan dan kirinya. Tiba di sebuah lapak penjual sayur mayur Pak Parjo berhenti, sebagaimana biasa ia langsung meminta dibungkuskan sayur mayur yang dibutuhkan. Setelah membayar, ia berpindah ke lapak pedagang daging yang berjarak beberapa puluh meter dari pedagang sayur mayur. Basa-basi ringan segera terlontar dari bibir penjual dan pembeli itu. Suasana akrab memang sudah terjalin antara pak Parjo dan Mas Untung, sang penjual daging.
Di sela-sela kesibukan mengemas daging-daging yang dibeli Pak Parjo, Mas Untung setengah berbisik berkata, “Pak Parjo, ada kawan yang mau menyalurkan daging-daging murah. Dagingnya bagus-bagus, Pak. Harganya bisa miring sampai 50 persen dari harga di sini. Lumayan, kan. Bisa ngirit-ngirit modal. Kalo bapak mau, saya bisa langsung antar ke warung bapak nanti abis shubuh.”
Selintas Pak Parjo sempat terkejut, tetapi ia langsung tersadar. Ia menimpali sambil tersenyum, “Ah, yang bener aja Mas Untung. Mana ada penjual daging yang bisa tekan harga sampai 50 persen.”
“Beneran, Pak Parjo. Stoknya banyak. Siap disalurkan. Memang sih, barang restan. Tapi restan dari restoran hotel-hotel terkenal. Tau sendiri kan kalo restan hotel, kondisinya bagus-bagus.” Mas Untung bernegosiasi. “Kalo bapak mau, sekarang juga saya telepon orangnya”, mas Untung berusaha meyakinkan Pak Parjo sambil mengeluarkan hp Nokia dari saku jinsnya.
Dengan cara-caranya yang lihai, akhirnya mas Untung mampu membuat Pak Parjo setuju membeli barang-barang restan itu, mengingat modalnya semakin menipis jika ia belikan daging-daging segar harga pasar.
Singkat cerita, Pak Parjo berbisnis warung nasi seperti biasa. Hari demi hari pendapatannya semakin bertambah. Ini berkat pasokan daging murah restan restoran hotel. Modal tidak banyak terkuras, tetapi keuntungan berlipat-lipat. Pak Parjo tidak sadar daging-daging yang ia jual, meski sudah dimasak dengan campuran beragam bumbu dan menjadi hidangan yang beraneka tetap saja mengandung resiko penyakit yang laten.
Mahasiswa banyak mampir ke warung nasi Pak Parjo. Selain memang tidak ada saingan, masakan Pak Parjo terkenal enak dan nikmat. Harganya pun sesuai kantong mahasiswa. Tapi akhir-akhir ini mulai banyak keluhan dari orang-orang yang sering makan di warung nasi Pak Parjo. Mereka sering mengeluh sakit perut. Usut punya usut ternyata sumbernya adalah makanan-makanan dari warung nasi Pak Parjo.
Akhirnya mereka melapor ke Polisi. Setelah menerima laporan itu, Polisi melakukan penyelidikan. Ternyata ditemukan bahan-bahan makanan yang sudah kadaluarsa di warung nasi Pak Parjo dalam jumlah banyak. Bahan-bahan itu siap dimasak dengan aneka menu. Pak Parjo pun kemudian digelandang ke sel tahanan Polsek.
Kejadian ini, tidak luput dari perhatian Gali yang naluri jurnalistiknya telah terasah. Gali juga kadang-kadang makan di warung nasi Pak Parjo. Tiba-tiba saja ia merasa mual dan ingin muntah ketika mengingat makanan-makanan pak Parjo. Ia kemudian bertanya-tanya di dalam hati, “ Kenapa, ya. Orang mau melakukan itu? Demi untung yang tidak seberapa ia tega membuat orang menderita. Hmm… akhirnya dia juga ikut menderita. Kalo gitu gue mesti ke Ustadz neh… Buat diskusiin fenomena ini.”
Di pasar, dengan lincahnya Pak Parjo menyusuri lorong-lorong setapak yang terdapat lapak-lapak pedagang di sisi kanan dan kirinya. Tiba di sebuah lapak penjual sayur mayur Pak Parjo berhenti, sebagaimana biasa ia langsung meminta dibungkuskan sayur mayur yang dibutuhkan. Setelah membayar, ia berpindah ke lapak pedagang daging yang berjarak beberapa puluh meter dari pedagang sayur mayur. Basa-basi ringan segera terlontar dari bibir penjual dan pembeli itu. Suasana akrab memang sudah terjalin antara pak Parjo dan Mas Untung, sang penjual daging. Di sela-sela kesibukan mengemas daging-daging yang dibeli Pak Parjo, Mas Untung setengah berbisik berkata, “Pak Parjo, ada kawan yang mau menyalurkan daging-daging murah. Dagingnya bagus-bagus, Pak. Harganya bisa miring sampai 50 persen dari harga di sini. Lumayan, kan. Bisa ngirit-ngirit modal. Kalo bapak mau, saya bisa langsung antar ke warung bapak nanti abis shubuh.”
Selintas Pak Parjo sempat terkejut, tetapi ia langsung tersadar. Ia menimpali sambil tersenyum, “Ah, yang bener aja Mas Untung. Mana ada penjual daging yang bisa tekan harga sampai 50 persen.”
Dengan cara-caranya yang lihai, akhirnya mas Untung mampu membuat Pak Parjo setuju membeli barang-barang restan itu, mengingat modalnya semakin menipis jika ia belikan daging-daging segar harga pasar.
Singkat cerita, Pak Parjo berbisnis warung nasi seperti biasa. Hari demi hari pendapatannya semakin bertambah. Ini berkat pasokan daging murah restan restoran hotel. Modal tidak banyak terkuras, tetapi keuntungan berlipat-lipat. Pak Parjo tidak sadar daging-daging yang ia jual, meski sudah dimasak dengan campuran beragam bumbu dan menjadi hidangan yang beraneka tetap saja mengandung resiko penyakit yang laten.
Mahasiswa banyak mampir ke warung nasi Pak Parjo. Selain memang tidak ada saingan, masakan Pak Parjo terkenal enak dan nikmat. Harganya pun sesuai kantong mahasiswa. Tapi akhir-akhir ini mulai banyak keluhan dari orang-orang yang sering makan di warung nasi Pak Parjo. Mereka sering mengeluh sakit perut. Usut punya usut ternyata sumbernya adalah makanan-makanan dari warung nasi Pak Parjo.Akhirnya mereka melapor ke Polisi. Setelah menerima laporan itu, Polisi melakukan penyelidikan. Ternyata ditemukan bahan-bahan makanan yang sudah kadaluarsa di warung nasi Pak Parjo dalam jumlah banyak. Bahan-bahan itu siap dimasak dengan aneka menu. Pak Parjo pun kemudian digelandang ke sel tahanan Polsek.
Kejadian ini, tidak luput dari perhatian Gali yang naluri jurnalistiknya telah terasah. Gali juga kadang-kadang makan di warung nasi Pak Parjo. Tiba-tiba saja ia merasa mual dan ingin muntah ketika mengingat makanan-makanan pak Parjo. Ia kemudian bertanya-tanya di dalam hati, “ Kenapa, ya. Orang mau melakukan itu? Demi untung yang tidak seberapa ia tega membuat orang menderita. Hmm… akhirnya dia juga ikut menderita. Kalo gitu gue mesti ke Ustadz neh… Buat diskusiin fenomena ini.”
Selasa, Desember 02, 2008
Istri Kerja Suami Merana
Pagi itu Galih tidak bisa konsentrasi menyelesaikan tulisannya yang telah deadline. Pikirannya dipenuhi suara-suara sedih kawan dekatnya yang semalaman telepon. Aris, kawan dekatnya ini sedang galau. Dia sedih dengan kondisi keluarganya akhir-akhir ini. Apalagi Aris sebagai kepala rumah tangga merasa tidak mampu mengendalikan bahtera yang telah ia layari selama 7 tahun ini.
Betapa tidak, sudah tiga tahun belakangan ia menganggur. Sebelumnya ia bekerja sebagai buruh pabrik di kawasan industri Cikarang. Tetapi, di penghujung tahun 2005 yang lalu ia kena PHK. Kontraknya di pabrik itu telah selesai. Ia telah mengajukan lamaran ke berbagai pabrik dan kantor. Tidak hanya di sekitar Cikarang, bahkan merambah ke Jakarta. Tapi apa daya, belum ada pabrik dan kantor yang mau menerimanya bekerja.
Berbeda dengan Rina, istrinya yang memiliki karir bagus. Setelah Aris terkena PHK, Rina berusaha membantu mengurangi bebannya dengan ikut melamar kesana kemari. Rejeki memang datang begitu cepat kepada istrinya. Baru sekali melamar ke kantor bank swasta di Jakarta, ia langsung diterima. Memang, kebetulan ada orang dalam yang masih saudara dekat istrinya itu.
Rina diterima sebagai tenaga marketing. Ia sangat mudah menyesuaikan diri. Rina tenaga marketing yang smart, banyak nasabah yang terpesona dan merasa puas dengan service Rina. Atasannya begitu percaya kepadanya, hingga proyek-proyek besar banyak ditanganinya. Dua tahun berikutnya ia menjadi Manager Marketing. Penghasilan pun beranjak naik.
Lain di kantor, lain di rumah. Kesibukan di kantor menyita waktu dan tenaga Rina. Jabatannya sebagai manajer membuat ia selalu pulang hampir larut malam. Beragam meeting harus ia hadiri. Kondisi ini membuat Rina tidak bisa mengurusi rumah tangga. Anak satu-satunya yang berusia 5 tahun ia titipkan kepada Aris, suaminya. Segala kebutuhan rumah tangga kini dikelola oleh Aris. Dari urusan mencuci baju, menyapu dan mengepel lantai, memasak dan mengantar anak mereka sekolah di TK diserahkan kepada Aris.
Lama kelamaan Aris mulai ‘nggak enak hati’. Aris merasa diperbudak oleh istrinya, meski Rina tidak pernah eksplisit ‘menyuruh ini itu’ kepada Aris. Tapi ego kelaki lakiannya terusik. Ingin ia berontak dan membalik kondisi ini, tapi dia tidak berdaya. Akhirnya ia hanya bisa ‘curhat’ kepada Galih, teman dekatnya.
Galih yang tekun mendengar keluh kesah Aris jadi bingung sendiri. Ia tidak bisa memberikan solusi terbaik kepada Aris kecuali menyarankan untuk terus berusaha melamar kerja ke kantor-kantor lain atau membuat usaha sendiri, walaupun kecil-kecilan. Sambil terus diiringi dengan memperbanyak shalat dan doa.
Dasar penulis, Galih mencoba menulis artikel berkenaan kondisi rumah tangga Aris. Kebetulan ia kebagian membuat jurnal ‘Polemik Keluarga’ di harian tempatnya kerja. Untuk melengkapi data-data hukum perkawinan dalam Islam, ia harus bertanya kepada gurunya.
Betapa tidak, sudah tiga tahun belakangan ia menganggur. Sebelumnya ia bekerja sebagai buruh pabrik di kawasan industri Cikarang. Tetapi, di penghujung tahun 2005 yang lalu ia kena PHK. Kontraknya di pabrik itu telah selesai. Ia telah mengajukan lamaran ke berbagai pabrik dan kantor. Tidak hanya di sekitar Cikarang, bahkan merambah ke Jakarta. Tapi apa daya, belum ada pabrik dan kantor yang mau menerimanya bekerja.
Berbeda dengan Rina, istrinya yang memiliki karir bagus. Setelah Aris terkena PHK, Rina berusaha membantu mengurangi bebannya dengan ikut melamar kesana kemari. Rejeki memang datang begitu cepat kepada istrinya. Baru sekali melamar ke kantor bank swasta di Jakarta, ia langsung diterima. Memang, kebetulan ada orang dalam yang masih saudara dekat istrinya itu. Rina diterima sebagai tenaga marketing. Ia sangat mudah menyesuaikan diri. Rina tenaga marketing yang smart, banyak nasabah yang terpesona dan merasa puas dengan service Rina. Atasannya begitu percaya kepadanya, hingga proyek-proyek besar banyak ditanganinya. Dua tahun berikutnya ia menjadi Manager Marketing. Penghasilan pun beranjak naik.
Lain di kantor, lain di rumah. Kesibukan di kantor menyita waktu dan tenaga Rina. Jabatannya sebagai manajer membuat ia selalu pulang hampir larut malam. Beragam meeting harus ia hadiri. Kondisi ini membuat Rina tidak bisa mengurusi rumah tangga. Anak satu-satunya yang berusia 5 tahun ia titipkan kepada Aris, suaminya. Segala kebutuhan rumah tangga kini dikelola oleh Aris. Dari urusan mencuci baju, menyapu dan mengepel lantai, memasak dan mengantar anak mereka sekolah di TK diserahkan kepada Aris.
Lama kelamaan Aris mulai ‘nggak enak hati’. Aris merasa diperbudak oleh istrinya, meski Rina tidak pernah eksplisit ‘menyuruh ini itu’ kepada Aris. Tapi ego kelaki lakiannya terusik. Ingin ia berontak dan membalik kondisi ini, tapi dia tidak berdaya. Akhirnya ia hanya bisa ‘curhat’ kepada Galih, teman dekatnya.Galih yang tekun mendengar keluh kesah Aris jadi bingung sendiri. Ia tidak bisa memberikan solusi terbaik kepada Aris kecuali menyarankan untuk terus berusaha melamar kerja ke kantor-kantor lain atau membuat usaha sendiri, walaupun kecil-kecilan. Sambil terus diiringi dengan memperbanyak shalat dan doa.
Dasar penulis, Galih mencoba menulis artikel berkenaan kondisi rumah tangga Aris. Kebetulan ia kebagian membuat jurnal ‘Polemik Keluarga’ di harian tempatnya kerja. Untuk melengkapi data-data hukum perkawinan dalam Islam, ia harus bertanya kepada gurunya.
Lelaki Pesolek
Galih sedang sibuk di depan laptopnya di sebuah kafe kopi kenamaan di bilangan Kelapa Gading. Segelas kopi hangat menemaninya. Berkali-kali ia mencium aroma harum minyak wangi dari beberapa pengunjung kafe yang hilir mudik. Sebagian besar pengunjung adalah pria-pria perlente karyawan kantor di kawasan tersebut. Tiba-tiba ia dikejutkan oleh sebuah suara yang memanggil namanya. Kedengarannya sangat familiar. “Hei Guys…, Lagi ngapain lo di sini?” panggil si punya suara sambil memukulkan tangannya ke pundak Galih dari arah belakang. Galih menengok, “Hai John, apa kabar? Keren Lo! Elo ngantor di sini?” Jawab Galih sambil berdiri. Ternyata yang menyapa Galih adalah kawan lamanya, John semasa di SMA. Lalu Galih dan John terlibat obrolan panjang mengenang masa-masa indah mereka di SMA.
Galih terpesona dengan tampilan John sekarang. Beda dengan gayanya waktu di SMA dulu. John waktu di SMA rambutnya gondrong. Bagian bawah kemeja seragam hampir tidak pernah dimasukkan ke celana. Celana abu-abu sering dibiarkan bolong-bolong di lutut.. Bagian bawahnya sengaja di lepas jahitannya untuk sekadar meninggalkan kesan santai. Sepatu kets tanpa kaos kaki tidak pernah lepas dari kedua kakinya yang berukuran 43. Kini, John berpenampilan eksekutif muda. Potongan rambutnya pendek dan tersisir rapi. Terlihat percikan sinar kecil-kecil pada permukaan helai-helai rambut yang memantul akibat polesan minyak rambut. Wajahnya putih bersih. Tampak polesan bedak tipis menghiasi pipi yang licin. Bekas cukuran kumis dan jenggot di atas dan di bawah bibir yang kehijauan menambah kesan ‘cantik’ sosok John. Kedua bibirnya berwarna merah, terkesan polesan tipis ‘lipstik’ yang sering digunakan kaum wanita.
Galih berpikir, jangan-jangan John sudah berganti kelamin sekarang. Tetapi ia heran, John masih berpakaian ala laki-laki tulen. Sikapnya tetap macho. John tidak menampakkan kesan gemulai. Gaya bicaranya sangat mengesankan, kadang meledak-ledak diselingi guyonan ringan, kadang serius tapi santai.
John dengan senyumnya yang lebar akhirnya berpamitan pada Galih. Ia berencana menemui rekan bisnisnya di kafe itu. Sambil bertukar nomor telepon John menyarankan Galih untuk melanjutkan komunikasinya di lain waktu. Akhirnya mereka berpisah.
Tinggal Galih termenung sendirian. Ia masih memikirkan penampilan John. Galih melebarkan pandangannya ke seluruh ruangan kafe itu. Ternyata tidak hanya John yang berpenampilan kelimis dan dihiasi ‘asesoris’ ala wanita. Galih ingin menuangkan pengalaman barunya ke dalam laptop. Tapi ia ingin tahu mengapa mereka berpenampilan seperti itu. Dari jauh ia memperhatikan tingkah laku para eksekutif muda di hadapannya yang sedang menikmati kopi-kopi hangatnya. Galih berusaha mencari jawabannya.
Tetapi ia juga perlu tahu, apakah Islam memperbolehkan laki-laki berpenampilan seperti John. Dan untuk hal-hal yang berkaitan dengan hukum Islam Galih harus bertanya kepada ahlinya. Akhirnya ia pergi ke ustadz yang biasa ia sambangi.
Selasa, November 18, 2008
Si Kecil, Play Station dan Games Online

Galih baru saja menyalakan pc desktop di hadapannya, di dalam sebuah warnet ukuran menengah milik tetangganya. Jam dinding menunjukkan pukul 13.00 WIB siang itu. Galih berencana akan berkorespondensi dengan sejawatnya di luar negeri. Dia sendiri sebenarnya punya laptop yang bisa langsung terkoneksi dengan dunia maya. Tetapi entah mengapa laptpopnya ‘ngadat’.
Tiba-tiba ia dikejutkan celoteh anak-anak yang ramai di pintu masuk. Rupanya anak-anak SD sedang berebutan masuk warnet. Pakaian seragam putih merah masih melekat di badan. Tercium aroma asam yang timbul dari peluh mereka. Sepertinya anak-anak itu sudah sangat akrab dengan petugas warnet. Masing-masing mengeluarkan 4 lembar uang kertas ribuan dan diserahkan kepada petugas itu. “1 jam ya, Mas! 1 jam ya, Mas!” teriak mereka bersahut-sahutan. Setelah itu mereka langsung menuju jajaran desktop yang memang khusus untuk games online.
Anak-anak itu hapal benar kondisi masing-masing desktop di dalam warnet. “Jangan yang itu, Gus! Gambar di monitornya kurang bagus. Di sini saja, dekat aku”. Ujar salah seorang anak yang kelihatan sangat agresif dan lihai berselancar di games online kepada temannya yang sepertinya baru kali itu ikut bermain. Sebentar saja mereka sudah asyik dengan desktop masing-masing, sambil sesekali mengeluarkan celetukan-celetukan gembira dan kecewa ketika tokoh yang dimainkannya menang atau kalah.
Galih hanya mampu berdecak kagum. “Anak-anak SD itu pasti sering kesini,” gumam Galih. Sambil terus chatting dengan kawannya di luar negeri, pikiran Galih menerawang. Ia ingat Restu, keponakannya yang baru berusia enam tahun. Pada ulang tahunnya yang keenam beberapa bulan yang lalu, ayahnya menghadiahkan play station versi terbaru. Dia senang bukan main.
Fenomena ini semakin membuat resah para orangtua. Globalisasi informasi tidak bisa dibendung. Semua begitu mudah didapat. Tuntutan jaman mengharuskan semua orang, terutama di kota besar untuk akrab dengan teknologi maya. Harus ada tindakan untuk membendung situasi ini.
Langganan:
Postingan (Atom)
