Kamis, Juli 09, 2009

Bahasa Sunda, Ada apa denganmu?

Bahasa Sunda merupakan bahasa yang diciptakan dan digunakan oleh orang Sunda dalam berbagai keperluan komunikasi kehidupan mereka. Tidak diketahui kapan bahasa ini lahir, tetapi dari bukti tertulis yang merupakan keterangan tertua, berbentuk prasasti berasal dari abad ke-14.

Prasasti dimaksud di temukan di Kawali Ciamis, dan ditulis pada batu alam dengan menggunakan aksara dan Bahasa Sunda (kuno). Diperkirakan prasasti ini ada beberapa buah dan dibuat pada masa pemerintahan Prabu Niskala Wastukancana (1397-1475).

Salah satu teks prasasti tersebut berbunyi “Nihan tapak walar nu siya mulia, tapak inya Prabu Raja Wastu mangadeg di Kuta Kawali, nu mahayuna kadatuan Surawisésa, nu marigi sakuliling dayeuh, nu najur sakala désa. Ayama nu pandeuri pakena gawé rahayu pakeun heubeul jaya dina buana” (inilah peninggalan mulia, sungguh peninggalan Prabu Raja Wastu yang bertakhta di Kota Kawali, yang memperindah keraton Surawisesa, yang membuat parit pertahanan sekeliling ibukota, yang menyejahterakan seluruh negeri. Semoga ada yang datang kemudian membiasakan diri berbuat kebajikan agar lama berjaya di dunia).


Dapat dipastikan bahwa Bahasa Sunda telah digunakan secara lisan oleh masyarakat Sunda jauh sebelum masa itu. Mungkin sekali Bahasa Kw’un Lun yang disebut oleh Berita Cina dan digunakan sebagai bahasa percakapan di wilayah Nusantara sebelum abad ke-10 pada masyarakat Jawa Barat kiranya adalah Bahasa Sunda (kuno), walaupun tidak diketahui wujudnya.

Bukti penggunaan Bahasa Sunda (kuno) secara tertulis, banyak dijumpai lebih luas dalam bentuk naskah, yang ditulis pada daun (lontar, enau, kelapa, nipah) yang berasal dari zaman abad ke-15 sampai dengan 180. Karena lebih mudah cara menulisnya, maka naskah lebih panjang dari pada prasasti. Sehingga perbendaharaan katanya lebih banyak dan struktur bahasanya pun lebih jelas.

Contoh bahasa Sunda yang ditulis pada naskah adalah sebagai berikut:

(1) Berbentuk prosa pada Kropak 630 berjudul Sanghyang Siksa Kandang Karesian (1518) “Jaga rang héés tamba tunduh, nginum twak tamba hanaang, nyatu tamba ponyo, ulah urang kajongjonan. Yatnakeun maring ku hanteu” (Hendaknya kita tidur sekedar penghilang kantuk, minum tuak sekedar penghilang haus, makan sekedar penghilang lapar, janganlah berlebih-lebihan. Ingatlah bila suatu saat kita tidak memiliki apa-apa!)
(2) Berbentuk puisi pada Kropak 408 berjudul Séwaka Darma (abad ke-16) “Ini kawih panyaraman, pikawiheun ubar keueung, ngaranna pangwereg darma, ngawangun rasa sorangan, awakaneun sang sisya, nu huning Séwaka Darma” (Inilah Kidung nasihat, untuk dikawihkan sebagai obat rasa takut, namanya penggerak darma, untuk membangun rasa pribadi, untuk diamalkan sang siswa, yang paham Sewaka Darma).

Tampak sekali bahwa Bahasa Sunda pada masa itu banyak dimasuki kosakata dan dipengaruhi struktur Bahasa Sanskerta dari India. Setelah masyarakat Sunda mengenal, kemudian menganut Agama Islam, dan menegakkan kekuasaan Agama Islam di Cirebon dan Banten sejak akhir abad ke-16. Hal ini merupakan bukti tertua masuknya kosakata Bahasa Arab ke dalam perbendaharaan kata Bahasa Sunda.

Di dalam naskah itu terdapat 4 kata yang berasal dari Bahasa Arab yaitu duniya, niyat, selam (Islam), dan tinja (istinja). Seiring dengan masuknya Agama Islam kedalam hati dan segala aspek kehidupan masyarakat Sunda, kosa kata Bahasa Arab kian banyak masuk kedalam perbendaharaan kata Bahasa Sunda dan selanjutnya tidak dirasakan lagi sebagai kosakata pinjaman.

Kata-kata masjid, salat, magrib, abdi, dan saum, misalnya telah dirasakan oleh orang Sunda, sebagaimana tercermin pada perbendaharaan bahasanya sendiri. Pengaruh Bahasa Jawa sebagai bahasa tetangga dengan sesungguhnya sudah ada sejak Zaman Kerajaan Sunda, sebagaimana tercermin pada perbendaharaan bahasanya. Paling tidak pada abad ke-11 telah digunakan Bahasa dan Aksara Jawa dalam menuliskan Prasasti Cibadak di Sukabumi. Begitu pula ada sejumlah naskah kuno yang ditemukan di Tatar Sunda ditulis dalam Bahasa Jawa, seperti Siwa Buda, Sanghyang Hayu.

Namun pengaruh Bahasa Jawa dalam kehidupan berbahasa masyarakat Sunda sangat jelas tampak sejak akhir abad ke-17 hingga pertengahan abad ke-19 sebagai dampak pengaruh Mataram memasuki wilayah ini. Pada masa itu fungsi Bahasa Sunda sebagai bahasa tulisan di kalangan kaum elit terdesak oleh Bahasa Jawa, karena Bahasa Jawa dijadikan bahasa resmi dilingkungan pemerintahan. Selain itu tingkatan bahasa atau Undak Usuk Basa dan kosa kata Jawa masuk pula kedalam Bahasa Sunda mengikuti pola Bahasa Jawa yang disebut Unggah Ungguh Basa.

Dengan penggunaan penggunaan tingkatan bahasa terjadilah stratifikasi social secara nyata. Walaupun begitu Bahasa Sunda tetap digunakan sebagai bahasa lisan, bahasa percakapan sehari-hari masyarakat Sunda. Bahkan di kalangan masyarakat kecil terutama masyarakat pedesaan, fungsi bahasa tulisan dan bahasa Sunda masih tetap keberadaannya, terutama untuk menuliskan karya sastera WAWACAN dengan menggunakan Aksara Pegon.

Sejak pertengahan abad ke 19 Bahasa Sunda mulai digunakan lagi sebagai bahasa tulisan di berbagai tingkat sosial orang Sunda, termasuk penulisan karya sastera. Pada akhir abad ke 19 mulai masuk pengaruh Bahasa Belanda dalam kosakata maupun ejaan menuliskannya dengan aksara Latin sebagai dampak dibukanya sekolah-sekolah bagi rakyat pribumi oleh pemerintah.

Pada awalnya kata BUPATI misalnya, ditulis boepattie seperti ejaan Bahasa Sunda dengan menggunakan Aksara Cacarakan (1860) dan Aksara Latin (1912) yang dibuat oleh orang Belanda. Selanjutnya, masuk pula kosakata Bahasa Belanda ke dalam Bahasa Sunda, seperti sepur, langsam, masinis, buku dan kantor.

Dengan diajarkannya di sekolah-sekolah dan menjadi bahasa komunikasi antar etnis dalam pergaulan masyarakat, Bahasa Melayu juga merasuk dan mempengaruhi Bahasa Sunda. Apalagi setelah dinyatakan sebagai bahasa persatuan dengan nama Bahasa Indonesia pada Tahun 1928. Sejak tahun 1920-an sudah ada keluhan dari para ahli dan pemerhati Bahasa Sunda, bahwa telah terjadi Bahasa Sunda Kamalayon, yaitu Bahasa Sunda bercampur Bahasa Melayu.

Sejak tahun 1950-an keluhan demikian semakin keras karena pemakaian Bahasa Sunda telah bercampur (direumbeuy) dengan Bahasa Indonesia terutama oleh orang-orang Sunda yang menetap di kota-kota besar, seperti Jakarta bahkan Bandung sekalipun. Banyak orang Sunda yang tinggal di kota-kota telah meninggalkan pemakaian Bahasa Sunda dalam kehidupan sehari-hari di rumah mereka. Walaupun begitu, tetap muncul pula di kalangan orang Sunda yang dengan gigih memperjuangkan keberadaan dan fungsionalisasi Bahasa Sunda di tengah-tengah masyarakatnya dalam hal ini Sunda dan Jawa Barat. Dengan semakin banyaknya orang dari keluarga atau suku bangsa lain atau etnis lain yang menetap di Tatar Sunda kemudian berbicara dengan Bahasa Sunda dalam pergaulan sehari-harinya. Karena itu, kiranya keberadaan Bahasa Sunda optimis bakal terus berlanjut.

Disadur dari Sumber :
Ensiklopedia Sunda - Pustaka Jaya
Disadur dari http : reno overwoker.com

Kamis, Juli 02, 2009

Mengharap Figur Pemimpin Berwawasan Global

Menyongsong Musda YSB Korwil DKI Jakarta 18 Juli 2009

Oleh : Handri Ramadian*)

Sambil menulis artikel ini, penulis mencari informasi mengenai tema globalisasi melalui telepon selular di dunia maya. Tidak membutuhkan waktu lama, cukup dengan 30 detik saja, mbah google telah memberikan ratusan informasi yang saya cari. Informasi ini mudah saya dapatkan tanpa harus memiliki modem sebagai penghubung laptop dan server google nun jauh di negeri Paman Sam sana. Telepon selular generasi mutakhir telah memiliki fasilitas modem built in sebagai media yang turut mempermudah pencarian informasi ini.

Inilah realitas kehidupan yang dihadapi masyarakat modern saat ini, serba cepat, mudah dan akurat. Memang, belum semua kemudahan teknologi informasi dapat dinikmati oleh semua penduduk Indonesia, tetapi paling tidak di berbagai kota besar di seluruh Indonesia kemudahan dan kenyamanan ini sudah menjadi trend.

Penduduk Indonesia, terutama yang tinggal di Ibukota sejak era 90-an mulai mengenal dunia internet. Intensitasnya semakin meningkat semenjak berbagai regulasi yang diatur pemerintah mendukung penuh arus globalisasi di dunia teknologi dan informasi. Warung-warung internet tumbuh bak jamur di sudut-sudut kota. Kita menjadi lebih sering melihat anak-anak sekolah seusia SD hingga mahasiswa nongkrong di depan komputer selepas jam belajar untuk bermain game online, bergabung dalam situs pertemanan semisal friendster atau facebook. Bahkan ada yang sudah memiliki situs pribadi gratisan melalui jasa seumpama blogger, wordpress atau multiply sebagai sarana aktualisasi diri atau menjalankan bisnis online kecil-kecilan.

Akibatnya masyarakat Jakarta menjadi lebih pintar, lebih kritis dan lebih agresif. Tidak mudah mempercayai sebuah informasi yang datang kepadanya. Mereka akan selalu melakukan chek and rechek atas semua informasi sebelum membuat sebuah keputusan.

Begitu juga dengan informasi religius. Mereka tidak akan langsung mempercayai sebuah dalil agama yang diberikan seorang penceramah, meski penceramah itu terkenal alim dan memiliki popularitas. Mereka akan melakukan crosschek ke penceramah-penceramah lain atau mencari sendiri kebenaran informasi itu melalui dunia internet.

Hal ini menjadi sebuah tantangan khusus dalam usaha dakwah. Seorang da’i abad 21 dituntut untuk cepat belajar dan menguasai permasalahan sosial masyarakat secara menyeluruh dan mampu menyikapi dengan bijak. Tidak hanya dalil agama saja namun harus mampu menyelami berbagai aspek kehidupan termasuk kemajuan teknologi dan informasi.

Dalam kaitan dengan usaha dakwah, dakwah Thariqat Qadiriyyah Naqsyabandiyyah (TQN) Ponpes Suryalaya belum menyentuh seluruh masyarakat Jakarta. Berdasarkan buku jadwal manaqib tahun 2009 yang diterbitkan oleh Yayasan Serba Bakti (YSB) Pontren Suryalaya Korwil DKI Jakarta, tercatat ada 84 tempat. Jika kita asumsikan yang tidak tercatat sebanyak 50%-nya dan rata-rata yang hadir pada majlis manaqib tersebut 100 orang maka pengamal TQN Suryalaya di Jakarta yang aktif baru sekitar 12.600-an orang. Ini berarti kurang dari 2% jumlah penduduk Jakarta yang sudah mencapai 12 juta lebih.

Sudah menjadi tugas dan kewajiban setiap ikhwan untuk membantu Mursyid menyebarkan dan mengembangkan ajaran TQN Suryalaya yang merupakan bagian dari ruh Islam. Semua aktivis dzikir TQN Suryalaya pasti telah merasakan nikmat dan berkah mengamalkan amalan ini. Tapi, kenikmatan dan ketenangan pribadi tidak cukup. Perlu ditularkan kepada umat muslim lainnya. Kesadaran untuk turut menularkan berita gembira ini kepada seluruh mukmin sudah sering digembar-gemborkan oleh banyak muballigh TQN Suryalaya, baik di forum manaqib di Pontren Suryalaya maupun di tempat-tempat lain.

Kita memerlukan sistem dakwah yang terorganisir untuk mewujudkan cita-cita Pondok Pesantren Suryalaya menjadi Pusat Tarekat Asia Tenggara sebagaimana dicetuskan pada ulang tahun 1 abad Pondok Pesantren Suryalaya pada 5 September 2005. Sebuah sistem yang sesuai dengan pendekatan kehidupan masyarakat global.

TQN Suryalaya memiliki banyak muballigh berkompeten dalam disiplin ilmu keislaman. Tidak sedikit juga ikhwan-akhwat yang memiliki kapabilitas cendekia dalam disiplin ilmu umum dan eksak. Pebisnis sukses aktivis dzikir TQN Suryalaya pun jumlahnya sangat banyak. Begitu juga organisatoris handal yang memiliki segudang pengalaman organisasi di masyarakat, entah itu LSM atau partai politik. Jika semua potensi itu digabungkan dan dengan menggunakan metode dakwah yang tepat, niscaya percepatan jumlah aktivis dzkir TQN Suryalaya akan mengalami peningkatan drastis.

Sebenarnya Pangersa Abah Anom telah menyediakan wadah untuk menggabungkan potensi-potensi itu, yakni Yayasan Serba Bakti (YSB). Melalui YSB, ikhwan-akhwat dapat menyalurkan kiprah khidmahnya.

Selain di pusat, YSB telah memiliki banyak koordinator wilayah di hampir seluruh provinsi Indonesia termasuk DKI Jakarta.

Karena berkedudukan di Ibukota Negara, YSB Korwil DKI Jakarta memegang peranan yang sangat penting dalam merealisasikan tugas membangun masyarakat, bangsa dan negara yang gemah ripah repeh rapih, baldatun thayyibatun wa rabbun ghafuur sebagaimana yang dipesankan Pangersa Abah Anom dalam sambutannya saat acara pelantikan pengurus YSB Korwil DKI Jakarta masa bakti 2004-2009.

Ia diharapkan menjadi tolok ukur keberhasilan pembinaan ikhwan-akhwat material dan spiritual. Ia menjadi perantara komunikasi Pontren Suryalaya dengan pemerintah pusat. Ia menjadi pintu gerbang komunitas internasional sebelum masuk ke dalam lingkaran persaudaraan TQN Ponpes Suryalaya. Ia menjadi filter akibat gencarnya arus informasi yang masuk tanpa batas melalui media globalisasi. Setidaknya itulah yang bisa dirasakan dari sudut pandang kedudukan wilayahnya.

Sadar dengan kedudukan strategis ini, pengurus yang akan mengakhiri masa baktinya pada Agustus 2009 berinisiatif menyelenggarakan Musyawarah Daerah (Musda) pada 18 Juli 2009. Melalui Musda, pengurus berharap ada kandidat-kandidat ketua umum yang datang dari ikhwan-akhwat dan kandidat-kandidat terpilih tersebut kemudian diajukan kepada pengurus pusat YSB dan Sesepuh Pontren Suryalaya.

Berlandaskan tantangan-tantangan yang dihadapi pada era globalisasi ini, setidaknya ada beberapa kriteria pendukung bagi kandidat yang akan diajukan sebagai Ketua, antara lain:
1. Aktif dalam kegiatan-kegiatan riyadhoh yang diajarkan Pangersa Abah Anom, seperti dzikir harian, khataman dan manaqiban.
2. Memiliki jiwa kepemimpinan sesuai Tanbih Syekh Abdullah Mubarak bin Nur Muhammad.
3. Memiliki sikap rela berkorban demi kepentingan bersama sesuai tuntunan Syekh Mursyid Pangersa Abah Anom.
4. Memiliki visi universal dan global.
5. Memiliki jejaring sosial yang luas.
6. Memiliki komitmen mengedepankan kesejahteraan ikhwan-akhwat melalui program-program pembinaan pada lini-lini strategis kehidupan.

Pembaca yang budiman, di luar sana, banyak bertebaran komunitas-komunitas spiritual semacam komunitas kita. Masing-masing komunitas mempunyai cara-cara khusus dalam mengembangkan dakwah yang pada hakikatnya bertujuan sama, yaitu mengharap ridho Allah SWT. Cara-cara khusus itu belakangan menjadi identitas komunitas-komunitas tersebut. Sebut saja Ust. Arifin Ilham dengan komunitas Az Zikra-nya, Ust. Yusuf Mansur dengan komunitas Wisata Hati dan program PPA-nya. Komunitas Tarekat Murabithun dengan program Kembali ke Dinar-Dirham. Komunitas Tarekat Shidiqiyyah dengan program renovasi rumah tidak layak huni untuk para anggotanya.

Demikian, Pangersa Abah Anom yang banyak memiliki ide kreatif telah mempelopori beberapa kegiatan terbarukan, salah satunya rehabilitasi korban penyalahgunaan narkoba melalui program inabah, jauh sebelum komunitas-komunitas yang kita sebut di atas melakukan programnya. Tetapi sebagai murid, rasa-rasanya belum banyak yang kita lakukan untuk kemaslahatan umat sebagai wujud khidmah kepada beliau.

Melalui khidmah dalam kepengurusan YSB, baik di pusat, wilayah maupun perwakilan, hendaknya menjadi motivator untuk lebih banyak berbuat mensejahterakan umat. Caranya...? Tuangkan ide kreatif anda, berfikir out of the box dan laksanakan ide tersebut. Insya Allah, Pangersa Abah selalu membimbing kita dalam setiap langkah kebajikan yang kita tempuh.

Semoga melalui tulisan ini, pembaca menjadi tergugah untuk sama-sama bersinergi meraih kemuliaan di hadapan Allah SWT dan diakui sebagai murid Yang Mulia Wali Mursyid KH. Ahmad Shahibul Wafa Tajul ‘Arifin.

*)Trainer dan Muballigh, Co-Trainer Radix Training Center-Jakarta, Ketua Korps Muballigh Aqabah Sejahtera-Jakarta, Alumnus Pelatihan Muballigh Tasawuf (PMT) Angkatan I Yayasan Aqabah Sejahtera-Jakarta..


The Laddies Dzikr

Alunan kalimat thoyyibah membahana di salah satu sudut ruang tamu sebuah rumah besar di bilangan Tawes, Rawamangun. Para pedzikir terdiri dari wanita-wanita paruh baya yang duduk bersimpuh tawadhu dan khusyu’. Duduk di posisi terdepan, sendirian, seorang imam laki-laki memimpin dzikir dengan bersemangat. Suaranya mantap. Hentakan-hentakan begitu terasa. Diikuti beriringan oleh jamaah dzikir di belakangnya.

Kalimat-kalimat tahlil menyeruak dari lisan-lisan yang rindu kasih sayang Ilahi. Membentuk ritme yang berpola. Melahirkan kondisi cinta yang tak terbendung. Cinta pada Sang Maha Penyayang.

Komunitas bernama Majlis Ta’lim Roudlotul Jannah ini bertempat di Jl. Tawes No. 36 Rawamangun, kira-kira 500 meter sebelah timur terminal Rawamangun, Jakarta Timur. Kegiatan Dzikir dilakukan setiap hari Senin Pagi pukul 08.30 s.d. 10.00 WIB. Dibimbing oleh seorang Ustadz jebolan Pelatihan Muballigh Tasawuf (PMT) Yayasan Aqabah Sejahtera sejak tahun 2005.

Adalah Ibu Hj Danila, seorang wanita berdarah Palembang yang telah merelakan ruang tamu lapangnya untuk selalu dijadikan halaqah dzikir oleh insan-insan perindu Ilahi. Tidak hanya majlis dzikir saja, ta’lim pun selalu dilakukan pada tiap hari jum’at pagi di halaman rumahnya yang juga luas dengan penceramah yang selalu berganti-ganti.

Majlis ta’lim yang pada 6 Februari 2009 lalu genap berusia duapuluh delapan tahun ini selalu istiqomah memperbaharui keimanan anggotanya dengan berbagai kajian dari beragam disiplin keislaman. Banyak da’i terkenal ibukota yang rutin membagikan ilmunya kepada jamaah majlis ta’lim, antara lain Ust. Wahfiudin, Ust. Umay, Ust. Arifin Ilham dan lain-lain.

Berbeda dengan kajian setiap Jum’at pagi, kajian setiap senin pagi diisi dengan aktifitas dzikir Thariqat Qadiriyyah Naqsyabandiyyah (TQN) Ponpes Suryalaya. Sebenarnya mereka sudah pernah bertemu dengan KH. Ahmad Shahibul Wafa Tajul ‘Arifin pada era 80-an saat rombongan pengajian berkunjung ke ponpes yang beliau pimpin. Namun karena tidak ada pembinaan setelah kunjungan itu mereka hanya menjadi pengamal pasif.

Baru setelah Ust. Wahfiudin kembali hadir di tengah-tengah mereka pada tahun 2005, Majlis Ta’lim Raoudlatul Jannah berkomitmen untuk istiqomah mengamalkan dzikir ini. Beberapa minggu kemudian Ust. Wahfiudin menugaskan salah satu asistennya untuk memimpin dzikir pada setiap senin pagi.

Selain dzikir harian, kegiatan ditambah dengan dzikir khataman pada Senin ketiga dan Shalat Tasbih berjamaah setiap Senin kedua dan Senin terakhir.

Alhamdulillah, keistiqomahan itu membawa peningkatan pada keimanan yang mereka rasakan. Pelan-pelan berkah dzikir mengalir pada setiap sendi dan peredaran darah masing-masing jamaah. Thiflul Ma’ani semakin hari semakin tumbuh dan berkembang, menghasilkan benih-benih kerinduan untuk berjumpa dengannya.